Banner

Cerpen Remaja Mawar Kertas untuk Mama Dimuat di Koran Minggu Pagi

cerpen remaja di koran

Mawar Kertas untuk Mama

Oleh : Reyhan M Abdurrohman


Hati Anggita benar-benar berdebar. Stevan masih berlutut di hadapannya dan baru kelar menyatakan cinta. Stevan memang cowok yang dicintainya. Dan dia benar-benar menginginkan Stevan menjadi pacaranya.

Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Mereka menunggu-nunggu jawaban yang keluar dari mulut Anggita, tapi yang ‘ditembak’ masih berusaha mengatur laju jantungnya. Ini seperti mimpi baginya.

“Bolehkah aku minta kau menutup mata terlebih dahulu?”

Anggita reflek mengikuti perintah Stevan. Setelah mata Anggita tertutup, Stevan mengeluarkan setangkai mawar merah di hadapan Anggita.

“Silakan buka matamu.” Stevan tersenyum.

Saat membuka mata Anggita langsung terlonjak kaget. Dadanya berdegup sangat kencang. Dia sontak berteriak-teriak ketakutan dan ... pingsan. Stevan  kebingungan.

***

Anggita membuka matanya. Yang ditatapnya hanya langit-langit putih. Bau obat menyeruak. Dia baru menyadari kalau sekarang berada di UKS. Dia pun menoleh ke kiri, ada wajah ganteng Stevan di sampingnya. Anggita ingin bangkit dan pergi, tapi badannya lemas. Dia pun berpaling menatap tembok di sisi kanan.

“Lebih baik kau pergi Stevan.”

“Kau kenapa Anggita? Aku tidak mengerti apa-apa.”

Stevan menyentuh bahu Anggita, Anggita pun menggerakkan bahunya, sebagai tanda penolakan. Stevan langsung melepaskan tangannya.

“Kau sudah membuatku takut, Stevan. Aku benci kamu.”

Kening Stevan berkerut, “Aku tidak paham apa maksudmu.”

“Sudahlah, Stevan!” Nada suara Anggita meninggi, “Lebih baik kau pergi!”

***

Sepulang sekolah, Anggita mampir ke sebuah pemakan umum. Dia melangkahkan kakinya melewati beberapa makam yang berjajar rapi. Sampailah pada makan dengan nisan bertuliskan “Amira”. Anggita menghentikan langkahnya dan jongkok di sebelah makam tersebut, kemudian mengusap batu nisannya.

Dari kejauhan sepasang mata elang mengintai Anggita. Mata Stevan. Sedari tadi, dia memang membuntuti Anggita. Dia masih tidak paham dengan apa yang sudah terjadi dengan Anggita dan dirinya. Diam-diam Stevan ingin mencari tahu, dan mungkin dengan mengikuti Anggita dia berharap mendapatkan jawabannya.

Stevan memang belum tahu banyak soal Anggita, kurang lebih baru satu bulan dia mengenal Anggita. Dia adalah anak pindahan. Sejak pertemuannya dengan Anggita di perpustakaan, Stevan langsung menaruh hati padanya. Dia pun melancarkan aksinya mendekati Anggita. Rupanya Anggita memberikan respon positif padanya.

Stevan yang tidak bisa mendengar apa pun, mulai terusik. Dia bingung bagaimana caranya untuk lebih dekat dengan Anggita, padahal pemakaman ini tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Stevan pun memanggil seorang bocah laki-laki yang tengah bermain bola di tepi jalan samping pemakaman. Stevan menyuruhnya mendekati Anggita dengan pura-pura nyekar. Bocah itu pun dibawai sebuah ponsel untuk merekam. Tidak lupa Stevan memberinya uang jajan.

“Anggita minta maaf, Ma. Anggita tidak bisa membawakan mawar merah kesukaan Mama. Anggita tidak berani, Ma.”

Airmata Anggita mengalir di pipi. Dia pun membiarkan airmata itu terus mengalir, tanpa menyekanya. Baginya membiarkan airmata terus menetes adalah bagian dari pelepasan kesedihan, karena dengan itu kesedihan berangsur ikut raib.

“Maafkan Anggita yang membenci mawar merah, Ma. Padahal Mama sangat menyukainya, sampai-sampai Mama meminta bantuan Tante Mel untuk menanamkannya di rumahnya. Harusnya Anggita yang menanamkannya untuk Mama, tapi malah kebalikannya, Anggita justru membenci bunga itu.”
Setelah puas menumpahkan air matanya, Anggita mengusap pipinya dengan tisu. Matanya kelihatan sembab, tapi hatinya lumayan lega karena sudah meluapkan seluruhnya. Anggita pun bangkit dan berjalan menuju pintu keluar komplek pemakaman. Stevan yang menyadari pergerakan Anggita bergegas bersembunyi agar tidak ketahuan.

Di tempat persembunyian, Stevan melihat Anggita memberikan beberapa lembar uang kepada anak kecil yang disuruh Stevan tadi. Anak kecil tersebut pun berlari menuju ke kios penjual bunga di seberang jalan dan kembali ke komplek pemakaman dengan setangkai mawar, padahal Anggita sudah pergi sejak tadi. Anak itu berjalan ke makam yang dikunjungi Anggita tadi dan meletakkan mawar tersebut di atasnya.

Stevan bergegas berlari menemui anak tersebut dan meminta ponselnya terlebih dahulu. Stevan langsung mendengarkan hasil rekaman tersebut. Masih ada yang belum dia mengerti, tentang ketakutan pada mawar merah.

“Adik kenal kakak perempuan tadi?”

Bocah tersebut menggeleng, “Tapi kakak itu sering ke sini, Kak. Kakak itu selalu menyuruhku membelikan mawar merah dan menaruhnya di makam ini.”

Anak itu menggeleng.

Stevan pun mencaritahunya di internet. “Anthophobia.” Dia mendapatkannya.

***

Bel pulang berbunyi. Saat hendak keluar, Anggita dicegat oleh Stevan di pintu kelasnya.

“Nggit, maafkan aku. Sumpah aku tidak tahu kau tak menyukai mawar merah.”

“Sudahlah Van, tidak usah kau bahas. Semakin kau bahas maka aku semakin tidak bisa melupakannya.”

“Tapi kau mau memafkanku, kan?” Stevan memohon.

Anggita mengangguk. Sebenarnya dia masih menyimpan benci pada Stevan, tapi dia tidak menemukan cukup alasan untuk membencinya.

“Nggit, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

“Suatu tempat. Tapi kau harus tutup mata terlebih dahulu.”

“Tidak. Aku takut kau mengerjaiku seperti kemarin.”

“Jangan bahas kemarin, Anggita. Kejadian kemarin itu di luar dari kuasaku. Sumpah aku tidak berniat untuk itu.”

“Ayolah Anggita. Anggap ini sebagai permintaan maafku.”

Anggita tidak punya cukup alasan untuk menolak. Dia pun menyetujuinya dan mengikuti Stevan. Stevan mengajak Anggita naik angkot. Barulah saat berada di dalam angkot, Stevan menutup mata Anggita menggunakan penutup mata yang ternyata sudah dia siapkan. Angkot tersebut membawa mereka ke sebuah pemakaman.

Stevan menuntun Anggita turun dan menyusuri jalanan di pemakaman. Anggita pasrah saja. Dia sudah mempercakan dirinya pada Stevan. Dia sudah menata hatinya kembali dan mencoba kembali mempercayai Stevan.

Setelah sampai di sebuah makam, Stevan membuka penutup mata Anggita.

“Makam  mama? Apa maksudmu? Dari mana kau tahu tempat ini? terus untuk apa kertas-kertas itu?”
Anggita menunjuk kertas-kertas lipat berwarna merah di atas makam.

“Maaf  aku baru tahu kalau kau phobia dengan mawar merah. Anthophobia istilahnya. Padahal kau ingin sekali memberikan mawar merah untuk mamamu, kan?”

“Darimana kau tahu?” Anggita terlihat kebingungan.

“Maaf, aku diam-diam mengikutimu ke sini kemarin.”

Anggita mengambil beberapa kertas merah di atas makam, “Lalu kertas-kertas ini untuk apa?”

“Bagaimana jika kita membuat bunga mawar dari kertas? Pasti kau tidak takut.”

“Tapi sama saja bentuknya seperti mawar, kan?”

“Memangnya kenapa kau takut dengan mawar merah?”

“Sepertinya ini konyol, tapi entah kenapa aku benar-benar takut. Sewaktu kecil aku menonton sebuah film, ada seorang peri kecil yang dimakan bunga mawar berwarna putih. Darahnya sampai membuat bunga tersebut berwarna merah. Aku selalu kepikiran bagaimana jika aku yang dimakan mawar.” Anggita tertawa, “Sebenarnya memalukan jika diceritakan, tapi ini kenyataannya.”

“Setiap orang memang punya rasa takut yang berbeda. Seperti aku yang takut ketinggian. Meskipun rumahku berlatai tiga, tapi aku tidak pernah menginjakkan kaki ke lantai tiga, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah berani melawannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku melawannya dengan mencoba naik ke lantai tiga. Aku melawan rasa takut itu, Anggita, dan kau pun harus melawan rasa takut itu. Ini adalah awal perlawanan itu, dengan mawar kertas.”

“Tapi aku tidak bisa membuatnya.”

“Aku akan mengajarimu, Anggita. Yang terpenting kau punya tekad untuk melawannya, ini demi mamamu. Buatlah mamamu tersenyum dengan hadiahmu.”


*) dimuat di Koran Minggu Pagi  pada 22 Maret 2019

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih