Banner

Cerita Anak Nilai Elisa Dimuat di Solopos

cerita anak karya reyhan m abdurrohman

Nilai Elisa

Oleh : Reyhan M Abdurrohman


“Riana pulang...!”

Riana menutup pintu rumah dengan keras. Dia melihat mamanya tengah menonton TV di ruang keluarga, tapi tidak disapa. Wajahnya cemberut sejak di sekolah tadi. Riana berlari menuju kamar. Lagi-lagi Riana menutup pintu kamarnya dengan keras hingga terdengar oleh mama.

“Aku sebal dengan Elisa.” Riana menggerutu.

Dia melempar tas pink bergambar Putri Salju ke atas meja dan kemudian berbaring di ranjang. Tangannya meraih bantal dan melemparkannya ke arah pintu. Tepat saat bantal itu melayang, pintu kamarnya dibuka oleh mama. Ups, bantal lemparannya mengenai mama.

Mama menggeleng dan kemudian memungut bantalnya. “Kenapa bantalnya dilempar-lempar?”

Riana tak menjawab. Dia masih cemberut.

Mama berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepinya. “Tadi juga tidak cium tangan mama, malah langsung ke kamar dan melempar bantal. Kamu kenapa, sayang?”

“Aku benci sama Elisa, Ma!”

“Lho, memangnya kenapa?” Mama mengelus rambut Riana.

Riana bangkit dan meletakkan kepalanya di pangkuan mama. “Nilai Elisa lebih bagus daripada Riana.”

“Berarti kamu harus lebih ranjin dong belajarnya.”

Riana malah semakin cemberut. “Ah Mama, kenapa malah menyuruh Riana belajar? Riana kan sudah pintar. Sudah rangking satu. Ini pasti ada yang salah. Bisa jadi Bu Indira sedang mengantuk saat menilai ujian kami.”

“Hush! Jangan berpikiran seperti itu. Itu tandanya kamu harus lebih giat belajarnya.”

Riana kelihatan tidak suka dengan sikap mama yang sama sekali tidak mendukungnya.

“Ah, Mama.... Tahu kan, Elisa itu biasanya dapat rangkin enam. Riana biasa ngajarin Elisa. Tidak mungkin nilai Elisa lebih bagus. Besok Riana mau protes pada Bu Indira.”

***

Benar, pagi itu Riana menemui Bu Indira di kantornya. Riana protes kenapa nilai Elisa bisa lebih baik darinya.

“Riana kok ngomong seperti itu? Bu Indira sudah menilai dengan benar. Memang jawaban Elisa benar semua.”

“Atau Elisa mencontek?”

“Riana, ada apa dengan dirimu? Elisa kan sahabat dekatmu, kenapa kamu menuduh Elisa mencontek. Itu perbuatan tercela, Riana.”

Riana cemberut. Bu Indira yang selama ini baik padanya sudah berpihak pada Elisa. Dia semakin tidak suka dengan Elisa. Semua orang memihak Elisa.

“Kamu belajar lebih rajin lagi, ya. Biar nilaimu tidak turun dan bisa menandingi Elisa.

Riana mengangguk, meski masih sebal.

***

“Riana, nanti sepulang sekolah aku kerumahmu, ya. Kita belajar bareng. Besok ada ujian matematika,” minta Elisa ketika istirahat.

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Mama sudah janji mau mengajakku ke mall.” Riana berbohong karena tidak mau belajar dengan Elisa.

“Oh sayang sekali.... Kira-kira pulang jam berapa? Aku bisa menunggumu.”

Riana sudah tidak bisa berbohong lagi. Terpaksa dia mengiyakan ajakan Elisa.

“Nanti datang saja ke rumah, jam tiga.”

***

Sesuai janjinya, tepat jam tiga Elisa ke rumah Riana yang berada di depan rumahnya.

Mereka belajar bersama di ruang keluarga. Seperti biasa, ada banyak soal yang ditanyakan Elisa pada Riana yang dia anggap lebih pintar. Riana pun dengan malas mengajarinya.

Setelah selesai dan Elisa sudah pulang, Riana langsung mengambil komputer tablet pemberian mamanya. Saat itu juga dia sibuk dengan tabletnya hingga lupa waktu.

Sekarang sudah jam setengah sembilan malam. Mama merebut paksa tabletnya dan menyuruh Riana ke kamar.

Dengan malas Riana beranjak. Dia melihat pulpen berwarna pink milik Elisa tertinggal di atas meja.

“Ma, pulpen Elisa ketinggalan.”

“Sana kembalikan. Mungkin sekarang Elisa sedang pusing mencarinya.”

“Besok saja di sekolah.”

“Sekarang, ayo Mama antar.”

Riana diantar mama ke rumah Elisa. Mamanya Elisa menyambut mereka dengan senang.

“Malam Riana cantik.” Mama Elisa tersenyum.

“Ini pulpen Elisa tertinggal, Tante.” Riana menyerahkan pulen Elisa kepada Mama Elisa.

“Terima kasih. Tadi Elisa bingung mencarinya. Elisa sekarang masih belajar di kamarnya. Katanya besok ujian matematika. Padahal tadi sudah belajar sama Riana, masih saja diulanginya lagi.”

Riana kaget. “Semalam ini Elisa masih belajar, Tante?”

“Iya, padahal sudah tante suruh tidur.”

Riana memandang mamanya dengan malu.

“Elisa nilainya bagus karena rajin belajar. Kamu sih main terus.” Mamanya Riana memberi nasehat.

***

Pernah dimuat di Koran Solopos pada 29 Juli 2018

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih