Swift

Pengalaman Naik Kelas BPJS Perawatan Ibu Hingga Meninggal

Koridor Rumah Sakit (c) pixabay.com

16 Agustus 2018 sekitar jam satu dini hari, ibu saya bawa ke salah satu rumah sakit di Kudus. Sebelumnya ibu sudah mengeluh dadanya panas dan beberapa kali muntah. Karena sudah tak kuat, ibu kami larikan ke rumah sakit  naik  motor bonceng tiga, karena sudah beberapa tetangga yang punya mobil kami bangunkan, tapi nihil.

Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi di ruang UGD karena saya mengurusi administrasi pendaftaran. Setelah selesai, dokter UGD menyuruh kami mengurus rawat inap, kami pun mengurusinya di bagian pendaftara rawat inap. Namun sayang sekali, ruang kelas 3 yang sesuai dengan BPJS kami sudah penuh. Mbak admin menyarankan untuk naik ke kelas 2 karena masih ada satu kamar tersisa. Sebelumnya kami belum pernah melakukan naik kelas, jadi sangat miskin informasi dan pengalaman naik kelas BPJS.

Naik Kelas 2


Sebelum memutuskan, kami bertanya tentang prosedur dan kira-kira biaya yang harus dibayarkan untuk naik kelas. Mbak adminnya tidak menjelaskan secara detail, namun mbaknya memberikan kisaran biaya yang pernah dibayarkan pasien lain saat naik kelas adalah kisaran satu juta untuk sekitar beberapa hari perawatan. Biaya itu adalah biaya kekurangan dari plafond klaim yang diberikan BPJS kepada rumah sakit sesuai kelas BPJS kita (katanya). Waktu itu mbaknya tidak menjelaskan apa-apa lagi, kami pun sudah bingung dan terpaksa mengambil pilihan itu. (Harusnya dijelaskan detail kalau memang adminnya kompeten dan punya pengetahuan tentang BPJS)

Kapasitas Ruangan Tiga Pasien


Sebelum masuk ruang perawatan, ibu dibawa ke ruang radiologi. Setelah itu barulah dibawa ke ruang perawatan yang berkapasitas tiga pasien, tapi waktu itu hanya diisi oleh ibu saya sendiri. Setelah di ruang perawatan saya langsung memberikan kabar ke saudara-saudara, tapi belum ada yang menanggapi karena memang masih sekitar pukul dua dini hari.

Pagi hari bapak pulang untuk mengurusi rumah. Sedangkan saya menunggui ibu sendiri. Sarapan diantar oleh perawat. Saya pikir tidak ada perbedaan pelayanan antara kelas tiga dan dua. Hanya kapasitas pasien dalam satu ruang saja yang berbeda. Pagi itu, ibu mau saya suapi bubur yang saya yakin tak enak. Lapar, katanya.

Saya Pulang Sebentar


Setelah bapak kembali, saya pulang untuk mandi. Sebelumnya saya sudah ijin pada manager untuk tidak berangkat kerja terlebih dahulu. Sialnya,  saya tertidur setelah rebahan sebentar di rumah. Hingga tiba-tiba saya terbangun sekitar setengah sepuluh. Saya tak punya firasat apa pun. Saya mandi terlebih dahulu, tapi tiba-tiba kakak saya mendapat telepon dari bapak bahwa saya disuruh segera ke rumah sakit.

Saya bergegas. Pikiran saya mendadak kacau. Saya memacu motor sangat kencang, sudah tak peduli dengan apa pun. Sampai rumah sakit, bapak terlihat kacau. Beliau marah pada dokter dan perawat. Saya berlari ke ruang perawatan ibu, banyak perawat mengerubunginya. Alat yang entah apa nama dan fungsinya berada di dekat ibu dan menempel di dada ibu. Mata ibu tertutup.

Aku histeris seketika. Meraung. Air mata tumpah. Hatiku pecah. Pikiranku kacau.

Bapak marah pada dokter, pasalnya setelah kunjungan dan pemeriksaan dokter yang sudah cukup siang  itu,  belum ada penanganan lanjutan semacam pemberian obat atau suntikan. Kami protes, dokter menjelaskan kronologi perawatan yang saya cek tidak ada keterangan petugas serta jam, saat dilakukan tindakan. Terlintas di pikiranku, bahwa ini sudah menjadi takdir Allah, tak usah diperpanjang masalahnya.

Ibu telah beristirahat untuk selamanya...

Sebelum jenazah dipulangkan, saya harus mengurusi pembayaran di kasir. Ternyata belum bisa ditotal dan diharuskan untuk menitipkan uang minimal satu juta. Saya iyakan saja, tanpa bertanya tentang selisih yang harus dibayarkan atau apa. Katanya kira-kira sebulan akan ditelepon, saat rincian biayanya sudah keluar karena harus diklaimkan ke BPJS terlebih dahulu.

pindah kelas bpjs
Jangan Naik Kelas BPJS (c) panduanbpjs.com

Satu Bulan Lebih Berlalu


Bapak mendapat telepon dari rumah sakit, katanya biaya masih kurang sekitar seratus ribu. Kami pun segera ke sana untuk menyelesaikan semuanya. Di kasir rumah sakit, kami diberikan rincian biaya perawatan.

"Kok masih nambah banyak, padahal dirawat beberapa jam saja?" tanya bapak.

Mbak kasirnya terlihat bingung mau menjelaskan.

"Yang dibayarkan pasien adalah selisih plafond kelas 2 dan kelas 3," jawabnya.

Aku masih tak paham dengan ini, karena ini pengalaman naik kelas BPJS pertama kami. Karena sudah mau magrib, saya pun mengakhirinya tanpa banyak bertanya. Tapi jujur saja saya belum puas dengan penjelasannya. Bukan apa, saya hanya ingin tahu saja.

Saya kira di dalam rincian biaya sudah jelas, tapi rincian biaya yang dibayarkan malah tidak jelas sama sekali. Muncul angka angka aneh yang tidak ada keterangannya. Sialnya, saya tidak meneliti itu di rumah sakit tadi.

Saya langsung mencari penjelasan di google dan menemukan beberapa jawaban yang cukup membingungkan karena dijelaskan dengan istilah-istilah dari mereka.

Paginya saya ke BPJS untuk menonaktifkan BPJS ibu dan berniat untuk menanyakan ini. Tapi saat di BPJS saya disuruh bertanya ke rumah sakit terkait, tanpa memberikan jawaban apa pun. Entah dia sendiri tak paham atau bagaimana, tapi jujur saya kecewa dengan pelayanannya.

Saya lanjut browsing saja di google dan akhirnya mengambil kesimpulan sendiri sepemahaman saya, kalau salah mohon diluruskan.

kelas bpjs
Rincian Pindah Kelas (c) panduanbpjs.com


Pasien diharuskan membayar selisih biaya antara tarif INA-CBG kelas yang dipilih dengan kelas BPJS kita. Apa itu INA-CBG?

INA-CBG itu sistem pembayaran dengan sistem "paket" sesuai penyakit pasien. Jadi penyakit pasien itu sudah ada paketan tarifya sendiri-sendiri. Nah, biaya paket jelas berbeda tiap kelasnya. Kita dirusuh bayar selisih dari biaya paket itu. Jadi ndak dihitung berapa lama pasien dirawat. Nah, di sini sudah berbeda kan dengan yang disampaikan admin RS?

Nah, misal kita jatah kelas 3 dan dirawat di kelas 3 karena sakit demam berdarah dengan tarif 5.000.000 (misalnya) maka selama apa pun kita dirawat (sampai sembuh), kita tidak akan dikenakan biaya tambahan karena di kelas sesuai dengan BPJS kita.

Nah misal kita mau naik di kelas 2, yang tarif INA-CBG-nya 6.000.000 (misalnya), kita akan dikenakan biaya tambahan 1.000.000, berapa pun lamanya kita dirawat (sampai sembuh) dan berapa pun rincian biaya semestinya.

Kasus ibuku gini.

Ibuku dirawat beberapa jam aja di rinciannya habis 1.400.000 an, dan naik kelas karena terpaksa. Harusnya di kelas 3 itu tarifnya 5.000.000, tapi pas naik kelas 2, tarifnya 6.000.000. Nah kami disuruh bayar selisih tarif itu, 1.000.000, jadi bukan berdasarkan rincian asli dari perawatan.

Nah kukira awalnya gini, dapat jatah 5.000.000 dari BPJS, naik  kelas dan biaya perawatan hanya 1.400.000, berarti tidak usah bayar apa-apa karena jatah dari BPJS masih sisa (5.000.000 - 1.400.000). Tenryata pemahaman saya salah. Kalau sudah begini, jatah BPJS yang tersisa itu lari ke mana, ya?

Oh ya, pantes saja beberapa kali dirawat di RS dengan BPJS itu maksimal cuma 3 hari saja, padahal waktu itu masih sakit, tapi sudah dibolehkan pulang, kalau ndak disuruh pindah rumah sakit lainnya. Lha bukannya jatah dari BPJS itu sampai benar-benar sembuh? Entahlah.

Ini hanya pengalaman naik kelas BPJS di salah satu rumah sakit di Kudus. Mungkin kalian punya pengalaman lain, bisa sharing di kolom komentar.

*kalau ada salah mohon dikoreksi.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih