Swift

Di Balik Pentas Reyhan M Abdurrohman di FASBuK Membaca Makna

Di Belakang Panggung FASBuK

Saat diskusi di penghujung acara FASBuK "Membaca Makna" kemarin malam (27/8)  saya bingung harus memulai menceritakan proses kreatif penulisan naskah hingga pementasan "Bocah Pembawa Pesan". Akhirnya saya hanya menceritakan secara garis besar proses kreatif saja. Tapi, sekarang akan saya ceritakan bagaimana naskah tersebut ditulis hingga bagaimana naskah tersebut bisa saya pentaskan pada FASBuk edisi Agustus 2018 yang mengangkat tema "Membaca Makna". (Mungkin agak sedikit panjang, siapkan napas dan camilan.)

Awal bulan Agustus 2018, saya dihubungi oleh Mas Arfin, selaku pihak dari FASBuK, yang menawarkan ruang untuk pentas bagi komunitas kami (Komunitas Fiksi Kudus). Jelas saja saya terkejut, karena ini adalah hal baru bagi kami. Saya sempat melempar tawaran ini ke teman-teman Kofiku, karena pihak FASBuK hanya meminta satu nama utama sebagai penampil, sedangkan yang lain boleh sebagai pendukung pementasan. Konsep acaranya bisa baca puisi atau baca cerpen, tapi dikemas dalam pentas yang menarik dan tidak membosankan.



Teman-teman dari Kofiku awalnya menunjuk satu nama, yakni Dimas Nugraha yang pada milad ke-3 Kofiku berhasil menghanyutkan penonton dengan penampilan baca puisinya. Karena Dimas tidak kunjung bersuara di grup, saya langsung menghubunginya lewat jalur pribadi, namun sayang, Dimas belum siap jika harus menulis puisi terlebih dahulu, karena kebetulan stok puisinya tidak ada yang menyangkut tentang nasionalisme. Saya langsung teringat naskah saya berjudul "Bocah Pembawa Pesan" yang saya tulis dalam rangka tugas ke-5 pada audisi UNSA Ambassador 2018 yang waktu itu menduduki nilai tertinggi dan mengatarkan saya ke tahap selanjutnya. Saya langsung terfikir konsep pementasan secara kasar, tapi saya masih merasa belum percaya diri dan belum mampu.

Saya konsultasikan tawaran dan rencana ini pada teman saya, Mas Mangir Chan yang sudah berkecimpung di dunia teater. Dia menyambut dengan baik dan siap melatih saya. Saya pun berpikir ulang dan menata niat dan hati saya sebelum saya memutuskan menerima tawaran dari FASBuK. Keputusan yang cukup mengerikan bagi saya. Saya saja belum bisa membayangkan seorang Reyhan akan tampil di depan banyak penikmat sastra dan seni pertunjukan.

Technical Meeting

Naskah Lomba yang Dibuat Mendadak

Sebenarnya naskah cerpen "Bocah Pembawa Pesan" ini ditulis dengan waktu cukup singkat, karena waktu itu panitia seleksi memang memberikan deadline ketat. Waktu itu, tantangannya adalah menulis sebuah cerpen berlatar sejarah yang ada di kota kami dengan panjang sekitar 10.000 cws. Audisi ini dilaksanakan sekitar Desember 2017. Waktu itu pikiran saya tertuju pada sejarah Kudus pasca kemerdekaan, lebih tepatnya saat Agresi Militer Belanda. Ternyata Kudus pun jadi sasaran penyerangan mereka. Saya juga pernah ikut napak tilas sejarah di Statiun Kudus yang menjadi salah satu objek penyerangan mereka. Pas sekali. Saya pun menjadikan sejarah ini latar dari cerita saya, yakni pasangan yang saling mencintai, tapi tak bisa bersatu. Untuk latar sejarah tersebut saya mencari data dan terinspirasi dari cerita yang ditulis oleh Pak Edi Suprapto dan film pendek karya Omah Dongeng Marwah. Alhasil cerita saya tersebut meraih poin tertinggi. Selain melaju ke babak selanjutnya, saya juga mendapatkan hadiah buku "Blumbangan" terbitan Basabasi.

Naskah cerpen inilah yang saya pentasnya. Namun, saya harus memangkas banyak sekali agar lebih padat dan cocok untuk dipentaskan, tapi tidak mengurangi cerita itu sendiri. Saya juga menyesuaikan durasi yang dibatasi oleh panitia. Jadi meski naskah sudah siap sebelumnya, saya masih harus merevisinya dan menyesuaikannya untuk pertunjukan.

Gladi Kotor

Konsep Dramatic Reading

Cerpen "Bocah Pembawa Pesan" saya tulis seolah tokoh "aku" bercerita, tentang kisah cinta tokoh di dalamnya, jadi cocok sekali jika dipentaskan dengan gaya dramatic reading. Saya mendengar istilah dramatic reading pertama kali saat sesi diskusi setelah pementasan Teater Monolog Tjut Nyak Dhien oleh Sha Ine Febriyanti di FASBuK edisi bulan sebelumnya. Saya pun banyak terinspirasi dari pementasan Sha Ine tersebut. Bahkan konsep kasar saya bisa dibilang menganut pentas monolog Sha Ine.

Selain memangkas cerpen menjadi lebih pendek, saya juga harus mempersiapkan musik yang sesuai agar apa yang saya pentaskan lebih hidup dan terdramatisir. Musik dan audio lain mulai saya cari dan saya paskan dengan cerita. Agak susah memang, tapi susah bukan berarti tidak bisa, bukan? Hasil dari mencari di youtube dan saya edit sendiri di HP, akhirnya saya menemukan musik dan susunannya sesuai dengan naskah saya. Di sini saya belum berlatih. Saya masih mencari dan meraba pementasannya saja. Rencananya setelah segala tetek mbengek ini selesai saya baru berlatih secara keseluruhan.


Setting Panggung

Mendalami Karakter Kakek

Bukan perkara mudah bagi saya untuk menemukan karakter yang tepat pada pementasan. Dalam cerpen saya tersebut, tokoh "aku" yang menceritakan kisah masa lampau sudah menjadi kakek-kakek, karena waktu itu masih seorang bocah. Karakter kakek inilah yang saya pakai dalam pementasan. Tapi tidak mudah mendalami karakter kakek, tapi saya cukup terbantu dengan adanya youtube. Saya mulai riset bagaimana menciptakan karakter suara kakek, raut muka dan bagaimana gestur tubuhnya. Untuk gestur tubuh menurut saya adalah hal paling sulit, karena saya menyadari masih kaku dan mati gaya. Saya kerap bingung harus melakukan apa di atas pentas.

Suasana di Belakang Layar

Hampir Mundur Dari Pementasan

16 Agustus pukul satu dini hari, ibu saya masuk rumah sakit. Saya tak punya firasat apa pun tentang ini. Bahkan saya masih bercanda dengan beliau di pagi hari. Ternyata pagi itu adalah terakhir kali saya ngobrol dengan beliau. Beliau berpulang pada pukul 10 pagi, tanpa ada saya di sampingnya. (Sebelumnya saya disuruh pulang untuk mandi dan membawakan kipas). Saya berlari ke rumah sakit setelah napas terakhir beliau berhembus. Alat-alat dokter masih tertempel di dadanya. Infus masih terpasang. Dokter bilang akan berusaha, nyatanya Allah berkehendak lain. Beliau tutup usia di usia 51 tahun. Saya histeris di rumah sakit. Ini terlalu mendadak. Kupandangi wajah beliau. Bibirnya tersenyum, wajahnya cerah. Aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh aku belum siap dengan takdir Allah kali ini. Tapi aku harus bisa mengikhlaskannya, meski sampai tulisan ini terposting saya masih belum bisa sepenuhnya melupakannya.

Saya sempat berpikir jika akan membatalkan pentas di FASBuK, tapi saya urungkan meski saya baru bisa latihan setelah 7 hari meninggalnya ibu. Jelas itu sangat singkat untuk sebuah pementasan yang gaungnya luar biasa. Tapi saya seolah mendapat kekuatan, karena sebelum ibu tiada, beliau sempat saya beritahu tentang ini, beliau mendukung dan berkeinginan menonton nantinya. Dari situlah saya berkeyakinan jika pementasan saya harus tetap berjalan, agar beliau tidak kecewa. Ibu, pementasan ini untuk kamu. I love you...

Unch, Dibantu Mas Mangir Chan

Technical Meeting Hingga Pementasan

Untung saja saya punya teman-teman terbaik. Meski saya tampil sendiri, tapi di belakang ada teman yang ikut mendukung. Saat technical meeting di basecamp saya mengajak Dimas sebagai teman. Saat gladi kotor saya mengajak Refi pun sebagai teman. Ditemani seperti ini cukup bikin bahagia kok, dari pada ke sana ke mari sendirian saja.

Saat technical meeting-lah pertama kali saya bertemu dengan pengisi acara lain dan panitia. Di sini saya mendadak minder, mereka punya tim, sedang saya tidak, hehe. Mereka punya background teater, sedangkan saya hanya penulis yang betah di kamar. Tapi saya tetap bersikap biasa saja, sok tegar.

Saat gladi kotor pada minggu malam senin inilah tim FASBuK pertama kali melihat penampilan saya. Dan saya mendapat beberapa masukan dari Mas Neno. Banyak bloking dan perpindahan yang harus lebih kaya agar tidak monoton. Sudah kubilang, saya mati gaya kalau sudah di atas pentas seperti ini. Cukup bingung memang, tapi saya percaya akan bisa. Haha. Lagi-lagi sok tegar. Sampai rumah, saya mikirin blokingnya, tapi bingung, yaudah tidur aja.

Semua Penampil


Hari pementasan. Sorenya adalah jadwal gladi bersih. Sialnya sore itu ada rapat di kantor. Yasudah rapat saya percepat dan saya pulang duluan. Haha. Saya pulang dulu, mandi dan membawa perlengkapan pentas. Satu tas gendong yang saya bawa penuh gaes.

Saya datang sendiri memang, tapi tak lama Dimas menyusul, dan ba'da magrib Mas Mangir Chan datang. Yeay, saya punya tim juga akhirnya. Setelah gladi bersih, mas-mas lighting-nya baru datang, saya pun menerangkan lighting seperti apa yang saya inginkan, padahal itu sudah mepet pementasan. Saya pun merasa belum pasti bloking seperti apa yang saya pakai. Saya bilang "nanti ikutin saja perpindahan saya, soalnya saya akan banyak improvisasi terkait bloking." Padahal sejatinya saya bingung. Haha.

Hmmm. Mas Neno pun menambahkan tugas bagi kami, agar saya dan Feri muncul di akhir bersama Teater Keris membawakan kalimat singkat yang puitis untuk motivasi kemerdekaan. Duh, mepet gini harus mikir bikin kalimat pula. Tapi meski begitu, akhirnya semua berjalan.

Sebelum tampil saya makeup sendiri sebelum Mas Mangir datang dan bantu makeup juga. Hari-hari sebelumnya saya sudah mencoba ber-makeup di rumah, termasuk mengaplikasikan odol dan bedak putih untuk mewarnai rambut. Makeup saya; liquid fondation dari Wardah, pensil alis cokelat dari Ponds, celak serta odol ciptadent dan bedak bayi milik ponakan. Ya gitu deh, seadanya yang penting bisa.

Sesi Diskusi, Setelah Pentas Banyak yang Pulang Dulu

Menguasai Panggung

Menjadi pementas pertama itu memang agak gugup, tapi setelah di atas pentas dan karakter saya mainkan, rasanya saya sudah menyatu dengan segala elemen karakter hingga panggung. Rasa ragu dan khawatir itu lenyap. Saya harus tetap fokus pada naskah, karakter dan suara karena pementasan saya cukup panjang. Di atas pentas pun saya berimprovisasi dengan bloking yang ala kadarnya, tapi panggung ini tetap harus terjamah semua. Akhirnya sekitar 20 menitan berlalu, dan riuh tepuk tangan penonton melepas kepergian saya dari atas pentas.

Puas dan lega rasanya. Sungguh proses yang panjang untuk pementasan pertama saya. Saat sesi diskusi ada yang bertanya tentang lebih nyaman mana menjadi penulis saja dibandingkan menjadi penampil. Jujur saya nyaman menulis saja, karena jika saya membuat kesalahan saat menulis, saya tetap bisa merevisinya terlebih dahulu, tapi saat pementasan saya dituntut sempurna, tidak boleh ada kesalahan. Tapi setelah pementasan ini, rasanya saya ketagihan ingin pentas lagi. Semoga ada kesempatan lagi. Amin...

Foto Bersama

Saya berterima kasih pada FASBuK yang sudah memberikan kesempatan panggung megah ini untuk saya jajal. Kepada Mas Arfin dan Mas Neno yang sudah memberikan ilmu tentang pementasan, dan segala hal yang ada di dalamnya. Buat Dimas yang mau nemenin dan boncengin pas TM, buat Mas Mangir Chan yang membuat saya yakin mengambil tawaran ini dengan iming-iming dilatih, tapi nggak dilatih-latih, tapi udah bantuin makeup, sih. Buat Refi yang mau nemenin pas gladi kotor. Buat Feri dan anak-anak teater Keris. Buat semua yang terlibat saat pementasan ini, terima kasih banyak.

Foto-foto di Photo Booth







You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih