Swift

Cerpen Remaja Badai di Hati Tara Dimuat di Koran Minggu Pagi

Cerpen Karya Reyhan M Abdurrohman

Badai di Hati Tara

Oleh : Reyhan M Abdurrohman


Jam sebelas malam, lampu kamar Tara masih menyala. Rupanya gadis berambut pendek sebahu itu masih duduk di belakang meja belajarnya. Dia sudah mengenakan piama bergambar Hello Kitty berwarna merah muda. Dengan serius dia memandangi buku kimia yang tebalnya minta ampun. Di sebelahnya terdapat tumpukan buku matematika dan Bahasa Indonesia yang sepertinya sudah selesai dia baca.

Sesaat dia menoleh ke samping kiri, menatap jam dinding bundar dengan gambar latarnya Hello Kitty. “Oke, lima menit lagi.” Tara pun menguap panjang.

Dan benar, setelah lima menit  berjalan, Tara menutup bukunya dibarengi dengan uapan yang lebih panjang. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, mematikan lampu dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Tak lama, matanya terpejam.

***

Rapor kelas XII IPA 1  semester ganjil sudah dibagikan. Tara terlonjak saat mendapatinya hampir keseluruhan nilainya memuaskan, meski belum sempurna benar. Apa-apa yang sudah dilakukan selama ini tak berakhir sia-sia. Meski badannya agak kurusan,  dan tidur yang sangat kurang dan tekanan-tekanan yang begitu menghantuinya, dia tetap berusaha tegar. Tapi ada yang mengganjal di hatinya, saat dia menyadari bahwa ada yang belum dipastikan. Bahagia itu belum lengkap.

“Berapa nilai Badai? Siapa juaranya?”

Tara langsung mencari Badai. Guru tidak langsung menuliskan rangking di rapornya. Jika ingin mengetahui siapa yang menjadi terbaik, harus mencari tahu sendiri nilai teman yang lain dan menjumlahkannya sendiri. Namun Tara tidak harus mencari tahu nilai temannya seluruh kelas, karena sudah bisa dipastikan bahwa dua terbesar adalah dirinya dan Badai. Tinggal siapa yang menjadi terbaik di antara keduanya.

“Badai pinjam rapormu sebentar.” Tara langsung menodong Badai yang sedang ngobrol bersama teman-temannya di kantin.

Tanpa banyak bicara, karena memang Badai tak terlalu mempersoalkan siapa yang menjadi juara itu pun dengan entengnya menyerahkan rapornya. Dengan sigap, Tara meraihnya dan membuka halaman terakhir dan segera menghitungnya.

Tubuhnya melemas. Raut wajahnya meredup. Rasa bahagianya berangsur raib. Badai mengalahkannya.

“Tenang saja, semester depan kaulah juaranya.” Badai tersenyum. Senyum yang bagi Tara adalah senyum paling menyebalkan di dunia. “Oh ya, aku punya sesuatu buatmu.” Badai menyerahkan sebuah kotak kado berukuran sebesar kamus.

***

Badai telah menjadi ancaman bagi Tara. Cowok pendiam yang cenderung nyebelin itu adalah murid pindahan. Sebelumnya di kelas sepuluh selama dua semster berturut-turut Tara berhasil menjadi juara. Nilainya selalu paling tinggi, bahkan beda dengan peringkat kedua pun terlampau jauh. Teman sekelas sepakat bahwa Tara tidak bisa dikalahkan.

Mimpi buruk Tara bermula saat Badai datang di semester pertama kelas sebelas. Cowok itu pendiam, cenderung misterius dan nyebelin bagi Tara. Bagaimana tidak, nilai dalam setiap pelajaran selalu berkejaran dengan Tara. Bagi Tara, Badai adalah ancaman yang nyata. Dan semua itu terbukti saat rapor kenaikan kelas dibagikan. Badai menggeser posisi Tara.

“Jika tidak ada cowok itu, Tara akan menjadi juaranya, Ma.” Tara menangis di pangkuan mamanya. Kenyataan ini benar-benar menyiksanya. Dia ingin sekali berteriak dan menangis di sekolah, tapi dia malu. Baru sampai rumah, dia tumpahkan semuanya.

Mamanya Tara berusaha menenangkan, “Kamu tetap jadi pemenang bagi Mama. Selisihnya tidak terlampau jauh, Sayang. Daripada seperti ini, lebih baik kamu belajar dengan giat.”

Mulai saat itu, Tara belajar berkali-kali, lebih giat lagi. Perasaan khawatir dan bayangan Badai selalu menghatuinya. Saat dia teringat Badai, tekadnya akan berkali-kali lipat. Bahkan dia rela memangkaswaktu tidurnya hanya untuk belajar, lebih tepatnya agar bisa merebut gelar juara bertahan di kelas.

***

Semester baru dimulai. Bu Guru mengumumkan berita bahwa Badai pindah sekolah. Hampir  seluruh siswa kaget, karena ini terlalu mendadak. Lebih tepatnya, karena Badai memang tertutup, dia tidak cerita apa pun tentang dirinya.

Terlihat Tara tersenyum kecil. Setidaknya, untuk menjadi juara di semester ini tidaklah perkara yang berat. Sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalanginya. Keadaan menjadi seperti sedia kala.

Kehidupan Tara kembali seperti sedia kala. Dia tak lagi belajar sampai larut malam. Bahkan dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai. Beberapa kali mama mengingatkan untuk belajar, tapi jawaban Tara sama saja.

“Sudah tidak ada saingan berat, Ma. Santai saja.”

“Tidak ada saingan lagi, bukan berarti kamu tidak belajar giat, kan?”

Tara masih saja memandangi ponsel pintarnya. “Iya nanti Tara belajar, Ma.”

“Mama malah berpikir, lebih baik kamu punya saingan, karena kamu bisa tetap terpacu untuk belajar. Tidak seperti ini.” Mama beranjak dari ranjang tempat Tara rebahan, kemudian keluar.

***

Mata Tara menyisir ke seluruh menjuru kelas. Sampai saat matanya menangkap bangku kosong di pojok nomor dua dari belakang. Dia seolah melihat sosok Badai di sana. Badai yang diam saja dengan segala misteri yang disimpannya, tapi sekaligus membuat orang-orang kaget dengan hasil-hasil tugas serta ujian yang diberikan.

Tara merasa ada sesuatu yang kurang. Sesuatu yang dapat membuatnya semangat belajar itu hilang. Meski kondisinya menjadi seperti sedia kala, tapi rasanya sama sekali berbeda. Badai kadung menoreh cerita di kehidupan Tara, tidak bisa sekejap saja hilang, bahkan kehilangannya berdampak hebat. Yang seharusnya Tara bahagia dan tak terbebani, malah terjadi sebaliknya. Ada sesuatu yang kurang bagi Tara.

Tara membuka hadiah yang diberikan Badai dulu. Karena sebal, hadiah itu dulu dia buang ke kolong tempat tidur. Setelah dibuka, ternyata sebuah buku tentang membangun karakter untuk kesuksesan. Tara termenung, dia sadar apa-apa yang diperjuangkan mati-matian selama ini  hanyalah nilai, sesuatu yang tak berarti di kehidupan nyata nantinya. 


*) dimuat tanggal 25 Mei 2018 dengan mencantumkan nama asli ^^

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih