Swift

Sha Ine Febriyanti Membawa Tjut Nyak Dhien ke Atas Pentas

cut nyak dhien
Sha Ine  Febriyanti berperan sebagai Tjut Nyak Dhien

Tepuk tangan menggema di Auditorium Universitas Muria Kudus saat Tjut Nyak Dhien yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti menutup penampilannya dengan berjalan tertatih keluar pementasan. Meski ruangan telah sempurna gelap, tepuk tangan masih saja menggema. Pentas teater monolog yang dibawakan Ine telah memuaskan penonton yang telah menunggu-nunggu pementasan ini.

Kudus menjadi kota ke lima dari rangkaian pementasan Monolog Tjut Nyak Dhien yang dipentaskan Sha Ine Febriyanti di beberapa kota di Indonesia. Setelah pementasan--dalam tajuk diskusi--Ine mengaku bahwa apresiasi penonton di Kudus sungguh luar biasa. Ini memberikan rasa puas tersendiri bagi sang penampil dan tim, tentunya.

Sha Ine Febriyanti
Sha Ine Febriyanti sangat ekspresif


Di sepanjang pementasan penonton tersihir dan seakan diajak Ine masuk dalam imajinasi yang diciptakannya. Penonton diajak berkenalan dengan pahit dan getirnya kehidupan Tjut Nyak Dhien mulai dari pernikahan di usia belia hingga wafat di tempat pengasingan. Tjut Nyak Dhien harus kehilangan suami pertamanya yang mati di medan pertempuran,  pun harus menelan pil pahit saat kehilangan suami kedua yang juga gugur dalam peperangan. Keberanian Tjut Nyak Dhien dalam melakukan perlawanan kepada penjajah disajikan Ine dengan apik.

Cerita yang ditampilan dibagi ke beberapa scene flashback yang saling terhubung dan membuat penonton takjub. Meski sendiri, Ine berhasil mengeksplorasi panggung yang cukup besar. Memang Ine dan tim mengaku bahwa di setiap kota akan mempunyai panggung dan atmosfer berbeda, sehingga perlu penyesuaian dan treatmen yang berbeda pula.

Sha Ine febriyanti
Berkisah tentang kehidupan Tjut Nyak Dhien

Kata Ine, berteater seperti menjalani kehidupan, semua adalah proses. Apa yang sudah ditampilkannya sudah melewati banyak sekali proses yang mau tidak mau harus dijalani. Bahkan saat dia memilih tokoh Tjut Nyak Dhien untuk dipentaskan, tak terlintas sedikitpun di kepalanya akan sosok pahlawan tersebut. Lalu dia mengumpulkan teman-teman Acehnya untuk diajak berdiskusi dan disimaknya cara bicaranya. Pantas saja, logat Aceh Ine saat pentas terasa sekali.

Ine ingin menampilkan sosok Tjut Nyak Dhien ke panggung, sehingga perjuangannya akan terus dikenang. Sejarah hidup Tjut Nyak Dhien pun dibeberkan detail, yang akan memberikan khazanah keilmuan akan sejarah pada penonton. Pertunjukan Ine didukung dengan video pada background, audio dan lighting yang rapi. Di panggung, Ine pun ditemani pemain cello yang mengisi dia beberapa part yang sangat tepat. Malam itu Tjut Nyak Dhien hadir mengabarkan bahwa perjuangan belum usai!

Cut Nyak Dhien
Sha Ine Febriyanti

Sha Ine Febriyanti
Mengacungkan Rencong

Diskusi teater monolog
Berdiskusi setelah pementasan usai

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih