Swift

Povi di Mulut Uya - Cerita Anak Solopos 8 April 2018

Karya Reyhan M Abdurrohman
Cernak Solopos - Povi di Mulut Uya

Povi di Mulut Uya

Oleh : Reyhan M Abdurrohman


Kapu si kupu-kupu cantik berwarna kuning dan oranye itu terbang ke tepi danau di tengah hutan. Di tengah perjalanan Kapu bertemu dengan Povi si burung Plover yang sedang istirahat di ranting pohon, berteduh dari terik matahari.
“Hai Kapu. Kamu mau ke mana?” Povi bertanya.
Kapu pun berhenti, kemudian hinggap di daun dekat dimana Povi berada.
“Mencari bunga yang sedang mekar di tepi danau.”
“Wah, aku ikut.” Povi terlihat antusias. “Sepertinya ini waktunya para buaya sedang berjemur.”
Mendegar perkataan Povi, Kapu malah terlihat bingung. Dia pun bertanya, “Memangnya ada apa dengan buaya?”
Povi tergelak. “Jelas aku ingin mencari sisa makanan di sela gigi dan mulut buaya.”
Kapu terkejut. Dia semakin tidak mengerti. Dia pun bertanya lagi, memastikan apa yang dia dengar adalah benar. “Jadi, kamu akan masuk ke mulut buaya?”
“Benar sekali. Banyak sisa makanan dan parasit yang bisa kumakan.” Povi menjawabnya dengan santai.
“Kamu tidak takut buaya akan memakanmu?” Kapu keheranan.
“Tenang saja. Mereka tidak akan memakanku.” Povi terlihat santai saja.
“Terserah kamu. Yang penting aku sudah mengingatkan kalau mereka pemakan daging, dan berbahaya. Aku pergi dulu.” Kapu pun terbang meninggalkan Povi.
“Tunggu, Kapu. Aku ikut.”
Povi pun mengepakkan sayapnya, terbang menyusul Kapu. Karena sayap Povi lebih besar, terbangnya jauh lebih cepat. Povi terlebih dahulu sampai di tepi danau.
Di sana sudah ada beberapa buaya yang sedang berjemur di darat, sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Povi bergegas menghampiri salah satu buaya.
“Aku Povi, bolehkah aku makan sisa-sisa makanan di sela gigi dan mulutmu?” tanyanya sopan.
“Aku Uya. Oh, silakan masuk saja ke mulutku.”
Uya pun membuka mulutnya lebar dan mempersilakan Povi masuk. Setelah Povi di dalam mulut Uya, dia mematuk-matukkan paruhnya di sela-sela gigi Uya, mencari sisa-sisa makanan dan parasit yang menempel. Uya terlihat senang karena mulut dan giginya akan bersih. Povi pun senang, karena dia akan kenyang.
Kapu baru sampai di tepi danau. Dia memang melihat Povi yang berada di dalam mulut Uya, tapi dia abaikan saja. Dia lebih tertarik dengan bunga-bunga cantik yang mekar.
Kapu bergegas hinggap ke kelopak bunga mawar dan menghisap nektar. Tak sengaja kakinya mengenai putik dan benang sari pada bunga. Benang sari dan putik bunga pun bertemu.
Setelah menghisap nektar pada beberapa bunga, Kapu kekenyangan. Perutnya sudah penuh dengan nektar. Dia melihat ke arah buaya. Ternyata Povi masih sibuk di dalam mulut Uya.
Kapu penasaran, kenapa Povi terlihat begitu semangat di sana, dan Uya tidak memakannya. Kapu pun terbang menghampiri mereka.
“Povi, kamu tidak takut?” tanya Kapu.
Povi keluar dari mulut Uya. “ Aku makan sisa makanan dan parasit, sambil membantu Uya membersihkan gigi dan mulutnya.”
“Uya, kenapa kamu tidak memakan Povi?” tanya Kapu pada Uya.
“Dia baik. Sudah membantuku membersihkan gigi dan mulutku.”
Kapu masih saya heran dengan mereka. “Kenapa kamu melakukan itu, Povi?”
Povi pun menjelaskan. “Kita saling menguntungkan. Aku dapat makanan, gigi dan mulut Uya jadi bersih.”
“Oh, seperti itu.”
“Kita saling membantu. Seperti kamu yang membantu bunga penyerbukan, kamu pun mendapatkan makanan.”
Kapu malah bingung. “Aku membantu bunga?”
“Iya. Saat kamu hinggap di kelopak bunga, kaki-kakimu mengenai benang sari dan putik bunga, sehingga serbuk sarinya menempel pada putik. Kamu dan bunga saling diuntungkan.”
Kapu terdiam. Dia berpikir sejenak.
“Aku baru tahu. Jadi kita saling membantu.”
 Sekarang Kapu tahu bahwa Povi dan Uya saling membantu dan menguntungkan, begitu juga dengan dia dan bunga.


dimuat di Solopos rubik Anak pada 8 April 2018

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih