Swift

Resensi Novel Blumbangan Karya Narko Wirahasta

Narko Wirahasta
Blumbangan

Bersembunyi Atau Mati

Peresensi : Reyhan M Abdurrohman*



Judul : Blumbangan 
Penulis : Narko Wirahasta
Penerbit         : Basabasi
Tahun terbit : November 2017
Tebal : 152 hlm, 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-6651-21-1

Banyak sekali kisah yang dapat diceritakan pada jaman orde baru. Kebanyakan dari kisah-kisah itu adalah hal-hal pahit dan tragis yang menimpa para penentang. Meskipun sudah memilih diam atau manut dengan penguasa, tak menjadi jaminan akan hidup tenang. Suara-suara terpaksa dibungkam. Cerita bermula dari surat lawas nan panjang yang ditulis oleh Wibisono untuk Meriandani yang mengisahkan tentang pertemuan pertama mereka hingga perjuangan Wibisono untuk lepas dari kejaran para serdadu.

Desa Tretek Ireng di mana Meriadani lahir dan besar sudah tak aman bagi penghuninya. Ketika malam tiba, orang-orang bisa saja tiba-tiba menghilang, dibawa pergi serdadu yang mulai berkeliling kala malam datang. Akhir dari nasib orang-orang yang diciduk tersebut berada di bawah tiang pancang di dalam lebatnya Hutan Kali Beleh yang dipercaya dihuni oleh Buta Cakil, padahal itu hanya tokoh fiksi.

Rakib, ayah Meriandani adalah salah satu orang yang menghilang dan lumayan lama tak diketemukan jasadnya. Warsi, ibunya Meriandani tak mempercayai kematian Rakib. Dia tetap saja menunggu dan menunggu hingga kesehatan jiwanya terganggu. Gila.

Kamituwo Karni adalah tokoh pemimpin di desa tersebut, yang tak lain adalah kakek Meriandani pun menjadi target para serdadu itu, begitupun orang-orang desa lain yang dicurigai. Untuk meminimalisir penangkapan paksa oleh para serdadu tersebut, mereka membuat Blumbangan sebagai tempat persembunyian di kala malam datang.

Setidaknya usaha Kamituwo Karni itu bisa menekan angka pencidukan yang dilakukan oleh para serdadu. Dan hal itu membuat para serdadu geram, lantas menciduk Kamituwo Karni (halaman 34).

Tidak hanya Wibisono yang menceritakan persembunyiannya di kota lewat surat panjang, tapi Meriandani pun ikut bercerita dari sudut pandangnya, termasuk menceritakan pemerkosaan yang dilakukan dua serdadu ketika hendak menciduk kakeknya, tapi tak ada. Karena peristiwa itu, Meriandani terpaksa kabur agar ibu dan kakeknya tak menanggung malu.

Sebenarnya Meriandani bisa tetap tinggal karena menurut mitos, perempuan yang diperkosa para  serdadu tidak akan hamil jika tidak menceritakannya, Namun siapa pula yang betah menahan beban duka di hadapan keluarga? (halaman 36).

Saat tahu jika Meriandani diperkosa serdadu, Kamituwo Karni benar-benar marah, dia pun mendatangi markas serdadu tersebut. Namun kedatangannya ke markas serdadu itu benar-benar pilihan yang keliru.

Dan saat ini, ya, saat ini, ia tengah berada d hutan itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kepala orang-orang yang tangan dan kakinya terikat di tiang pancang itu saling ngelimpruk satu persatu begitu peluru menghujam jantung mereka. (halaman 98)

Blumbangan selayaknya puzzel cerita yang disusun apik menjadi cerita utuh yang menampakkan kengerian perlawanan orde baru. Wibisono bercerita tentang perjuangan dirinya lewat surat panjang, sedangkan Meriandani bercerita tentang keluarga, kisah kengerian di desa dari sudut pandangnya. Sudut pandang orang ketiga pun selayaknya penghubung dari cerita wibisono lewat surat dan Meriandani yang menerima surat tersebut.

Kisah asmara Wibisono dan Meriandani yang tergambarkan lewat surat itu pun menjadi bumbu manis dari inti cerita tentang perlawanan di masa orde baru. Kisah-kisah tragis yang disajikan sudah cukup membuat bergindik ngeri dan merenung, meski beberapa detail tempat dan waktu masih belum tereksekusi dengan baik.

*Ketua Komunitas Fiksi Kudus

penerbit basabasi
Cover depan-belakang Novel Blumbangan



Pada Minggu, 3 Maret 2018 resensi ini dimuat di Tribun Jateng dengan beberapa perubahan dari redaktur.

Karya Narko Wirahasta
Blumbangan di Tribun Jateng

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih