Swift

Resensi Kumpulan Cerkak Kembang Pasren Karya Impian Nopitasari

Cerita Bahasa Jawa
Kembang Pasren karya Impian Nopitasari

Kisah-kisah Menarik dalam Bahasa Jawa

Judul : Kembang Pasren (Kumpulan Cerita Cekak)
Penulis : Impian Nopitasari
Penerbit         : Garudhawaca
Tebal :13 x 19 cm ; 188 hlm.
ISBN : 9786026581242
Tahun Terbit : September 2017


… cerkak-cerkak karyane Impian kalebu naskah abasa Jawa sing “nges” Jawane, kandel “rasa Jawane”. Basa Jawa sing digunakake ora uwal saka pondhasi basa Jawa sing jare sinebut “basa Jawa baku” kae, nanging tetap kabukak amba marang mlebune tembung-tembung lan logika-logika anyar jumbuh owah-owahan jaman.

Yen ditintingi kanthi temen-temen, lelakon kang diangkat Impian dadi cerkak kuwi pancen lelakon-lelakon generasi mudha, nom-noman, remaja, jaman saiki. Sapa lakone, apa kang dumadi, yagene kok dadi ngono, sapa sing antagonis lan sapa sing protagonis, piye alur ceritane, lan sapiturute kabeh ora uwal saka Jawa kang manjing ing jaman modheren, Jawa kang modheren.

Eloke, kabeh kuwi mau ora ndadekake cerkak-cerkak karyane Impian kelangan Jawane. Kepara Jawane tetep “nges”. Jawa modheren kang Jawa temen-temen. Ana cerkak sing lakone wong saka tlatah njaban Jawa, yen ora kleru saka Padang utawa Minangkabau, Eloke, lakone wong saka Padang kuwi mau nalika dibabar ing cerkak tetap wae “Jawa banget”.

Ichwan Prasetyo (Redaktur Jagad Jawa Harian Umum Solopos)

***

...cerkak-cerkak karya Impian termasuk dalam naskah Bahasa Jawa yang “nges” Jawanya, tebal “rasa Jawanya”. Bahasa Jawa yang digunakan tidak lepas dari dasar Bahasa Jawa yang disebut “Bahasa Jawa Baku”, tapi tetap terbuka lebar dengan kata-kata dan logika-logika baru, karena perubahan jaman.

Jika dirasakan benar, peristiwa yang diangkat Impian menjadi cerkak (cerita cekak - cerpen berbahasa Jawa) itu memang perilaku-perilaku anak muda, remaja jaman kekinian. Siapa pelakunya, apa yang terjadi, bagaimana bisa demikian, siapa antagonis dan siapa protagonis, bagaimana alur kisahnya, dan seterusnya semua tidak lepas dari "Jawa" yang berada di jaman modern, Jawa yang modern.

Eloknya, semua itu tidak membuat cerkak-cerkak karya Impian kehilangan kejawaannya. Malah, jawanya tetap "nges" (menarik hati). Jawa modern yang betul-betul Jawa. Ada cerkak yang kisahnya tentang sesorang dari luar Jawa, kalau tidak salah Padang atau Minangkabau. Eloknya kisah orang Padang itu ketika dipaparkan di cerkak tetap saja terasa "jawa banget".

Ichwan Prasetyo (Redaktur Jagad Jawa Harian Umum Solopos)

***

Membaca cerita-cerita dalam Kembang Pasren ini membuat saya ragu atas ke-Jawa-an saya sendiri. Banyak yang bilang “Wong Jawa saiki, ora jawani” (orang Jawa yang tidak Jawa), mungkin saya bisa disebut seperti itu. Banyak kata yang belum saya pahami secara gamblang, tapi paham jika sudah dikaitkan pada kalimat utuh. Meskipun begitu, saya membutuhkan waktu lebih lama daripada membaca buku berbahasa Indonesia.

Ada 18 cerita cekak yang sebelumnya sudah termuat di beberapa surat kabar bahasa Jawa. Cerita-cerita yang disuguhnya seperti nyata, karena tema-tema yang diangkat Impian berada di sekitar kita, bahkan sangat dekat. Sebut saja cerita “Blendrang” yang dikaitkan dengan kisah asmara tokoh. Padahal “Blendrang” sendiri adalah sayur sisa yang dihangatkan kembali.

Membaca cerita-cerita Impian bisa membuat bibir tersungging, tertawa atau ikut menanggung kesedihan yang dialami tokoh. Impian berhasil membawa pembaca masuk ke dalam cerita yang diciptakannya. Impian pun mengangkat tema-teman kekinian khas anak muda dengan tokoh anak muda pula seperti pada cerita : “Cewek  Bonsai”, “Es Susu Soklat, Tesis 378 lan Dhasi Kupu-kupu”, “Eseme Mas Sejarawan”, “Kupon Keramat Uda Fajri”, “Mas Budi Pustakawan Ngganteng”, “Oglangan”, “Satriya Keyboard”, “Sop Manten Saka Ngawen”, lan “Wit Talok Ngarep Omah”.

Cerita agak berat yang juga melibatkan keluarga pun ditulis Impian dengan apik, seperti  pada cerita : “Jodho Kanggo Bapak”, “Mantu”, “Pedhut Ing  mripatmu”, “Wirang”, lan “Kembang Pasren” yang menjadi judul buku tersebut. Konflik yang ditawarkan cukup pelik dan berat.

Impian juga mengolah cerita menggunakan teknik yang beragam. Lihat saja pada cerita “Lintang, Ndaru, Pulung” yang menggunakan gaya penceritaan sudut pandang pertama pada masing-masing tokoh, hanya saja ada pengulangan cerita oleh tokoh yang terkesan membosankan. Sudut pandang orang kedua yang jarang digunakan pun dijajal Impian pada cerita “Pedhut Ing Mripatmu”.

“Kembang Pasren” ini menjadi salah satu karya yang dapat menarik minat anak muda sekarang untuk mencintai sastra Jawa, karena sasaran dari cerita Impian memang anak muda. Selamat buat Impian Nopitasari.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih