Swift

Grand Finale Unsa Ambassador 2018 - Catatan Menuju Grand Finale Unsa Ambassador 2018 #4

unsa untuk sahabat
Foto Bersama di Akhir Acara

Hari itu, 28 Januari 2018 adalah tahap akhir dari perjalanan untuk memperebutkan gelar Unsa Ambassador 2018 setelah sebulan sebelumnya dilakukan seleksi ketat untuk mendapatkan dua besar calon Unsa Ambassador. Dua besar tersebut adalah Aris Rahman Purnama Putra seorang mahasiswa Antropologi di salah satu universitas di Surabaya, sedangkan lawannya adalah saya, Reyhan M Abdurrohman, karyawan swasta dari Kabupaten Kudus. Jelas Aris bukanlah lawan yang sembarangan. Bahkan di awal seleksi Unsa Ambassador, saya sudah menobatkannya menjadi lawan paling kuat yang patut diperhitungkan.

Sebelumnya saya belum kenal betul dengan Aris, tapi saya sudah mendengar namanya dari teman-teman. Ternyata dia juga alumni Kampus Fiksi sama seperti saya, tapi berbeda angkatan. Teman curhat saya pun memaparkan bahwa Aris lawan yang cukup berat, dan pertarungan ini akan menjadi pertarungan yang menarik.

Unsa Ambassador
Aris Rahman Purnama Putra

Selama seleksi, Aris pernah memenangi salah satu tugas, yakni puisi. Dia pernah juga masuk ke bottom two. Sedangkan saya beberapa kali memenangi tugas yang diberikan dan belum pernah masuk di posisi dua terbawah. Sampai sini bisa dikatakan saya cukup unggul. Tapi penentuannya adalah hari ini, ujian lisan secara langsung dari apa pun dan pertanggung jawaban dari program kerja yang sudah kami buat sebagai tugas terakhir.

reyhan m abdurrohman
Entah saya ngomong apa

Pagi itu di Restoran Tanak Melayu Surabaya satu persatu hadirin datang memenuhi ruang resto di lantai dua yang sudah dipesan oleh pihak Unsa. Bangku-bangku yang tadinya kosong, berangsur terisi. Melihat beberapa yang hadir membuat saya semakin deg-degan. Entah kenapa saya yang biasa bisa menguasai diri mendadak lemah. Hampir mirip ujian skripsi, tapi lebih menegangkan ini. Jika ujian skripsi dulu cuma diuji oleh tiga penguji, sekarang diuji oleh lima orang juri yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Mbak Jazim, Mbak Mini, Mas Agusta Akhir, Mas Narko dan Mas Dhony. 

untuk sahabat surabaya
Yang Datang Banyak Euy....

Saya coba menghela napas panjang setelah pembawa acara dadakan membuka acara. Anggi dan Mbak Arikmah secara dadakan diminta menjadi pembawa acara. Jelas mereka berdua benar-benar belum mempersiapkan apa-apa. Meskipun begitu, penampilan mereka luar biasa, terutama Mbak Arikmah yang tetap prima dan semangat hingga akhir. Acara pertama berlalu, pun acara-acara berikutnya yang antara lain adalah sambutan dari Dang Aji Sidik, tiup lilin sebagai wujud syukur karena Unsa memasuki umur ke-8, dan sambutan dari Ken Hanggara yang juga mempromosikan beberapa lomba yang sedang berlangsung dan akan digelar.

Tiba di acara Unsa Ambassador untuk "dibantai". Kami berdua dipanggil oleh pembawa acara dan dipersilakan duduk di "kursi panas" di hadapan kami sudah ada lima juri dan hadirin. Melihat ke arah mereka, jadi semakin deg-degan. Dalam kondisi seperti ini saya kesulitan mengusai diri dan berimbas pada kurang maksimalnya jawaban pertanyaan dan tantangan dari dewan juri. Berbeda dengan Aris yang terlihat santai, meski harus menahan sakit perut karena kepedesan makan nasi goreng semalam. 

Sesi pertama selesai...

Anggi Putri
Anggi dan Mbak Arikmah Kamal, MC terkece

Kami dipersilakan istirahat makan dan salat. Makan siang sudah tersaji di atas meja, nasi lemak (sejujurnya saya kira itu nasi uduk) dan ayam goreng. Setelah itu sesi kedua. Sebelum sesi kedua dimulai, dibuka dengan penampilan Aris Rahman Yusuf yang membacakan puisi berjudul "Saat Hujan Turun" karya Khoer Jurzani. Berakhirnya puisi itu dibacakan, adalah awal dari "pembantaian" kedua.

Di sesi ini, proposal kegiatan kami akan dipertanyakan. Pertama adalah proposal yang diajukan Aris Rahman Purnama Putra. Yang menjadi sorotan di sini adalah ide luar biasanya yang terkesan berani. Dia berencana menggandeng teman-teman difabel untuk bersastra, khususnya puisi. Dia ingin sastra juga bisa dinikmati oleh mereka. Setelah itu adalah proposal saya, menurut dewan juri apa yang saya suguhkan sudah rapi dan sistematis, tapi ide-ide yang saya tawarkan terkesan biasa dan memang sudah menjadi rencana saya bersama Komunitas Fiksi Kudus dan komunitas lain di Kudus. Jujur menuliskan rencana itu adalah beban, karena apa yang sudah direncanakan berusaha untuk diwujudkan.

Di akhir sesi, Mas Dhony melemparkan pertanyaan yang sama kepada kami, yakni, "Bagaimana jika semua rencana ini gagal, dan apa yang akan kami lakukan dalam seminggu setelah dinobatkannya salah satu di antara kami menjadi Unsa Ambassador 2018. Woh, pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Tapi kami tetap harus mejawabnya.

Sesi kedua selesai.
Reyhan M Abdurrohman
Saya Ketemu Mbak Fansisca Manginsela, teman lama...

Akhirnya saya bisa bernapas lega. Apa-apa yang sudah saya lakukan adalah usaha maksimal dari saya. Apa pun hasilnya, saya bisa menerimanya. Sebelum pengumuman dan penobatan, diselingi dengan peluncuran kumpulan cerpen "Kata Bapak, di Sungai Ada Buaya" karya Irwan Sanza, dkk. Saat peluncuran saya ke lantai tiga untuk beristirahat dan ngobrol ringan dengan Zi dan Anggi yang sudah berada di situ. Si Zi sedang ngejar deadline artikelnya, sedangkan Anggi membantunya. Ups, saya nggak ngganggu, kan?

Saya belum ngobrol banyak dengan Zi, karena semalam saya pun tidur lebih awal. Padahal pertemuan ketiga ini harusnya dimanfaatkan betul. Huhu...  Selain Zi, saya dipertemukan dengan teman lama  Mbak Fransisca Manginsela yang sama-sama alumni Kampus Fiksi 4, kebetulan dulu Mbak Fransisca juga pernah main ke Kudus. Juga bertemu teman-teman lain yang sebelumnya cuma bertegur sapa lewat facebook.

Pengumuman pemenang dan penobatan. Kami berdua berdiri di depan. Di belakang Ken Hanggaran sudah membawa selempang. Mbak Jazim sudah siap dengan amplop pengumuman di tangan. Apa pun hasilnya, pengalaman perjalaan ini jauh lebih berharga. Dan saya sudah belajar untuk menerima apa pun, meski jawaban semacam ini dianggap terlalu teoritis, tapi begitulah faktanya.

Bukan pesimis, tapi lebih ke berserah pada takdir dan tidak terlalu ngoyo. Mbak Jazim mengumunkan dan Ken bersiap memasangkan selempang. Semua tegang. Dan ... selempang berhasil tersematkan ke Aris Rahman Purnama Putra yang sekaligus resmi menjadi Unsa Ambassador 2018.

Selamat Aris, kamu pantas mendapatkannya. Saya juga senang, apalagi mendengar rencana kerja dia yang luar biasa. Saya mengakui apa yang direncanakan luar biasa yang harus kita dukung. Oke, Aris, kami tunggu dan dukung rencanamu itu!

Unsa Ambassador
Foto Bersama Dang Aji dan Dewan Juri
Ada hal yang bikin saya terharu. Sebelumnya Mbak Jazim berencana memebrikan buku sesuai permintaan kami. Awalnya pakewuh sama beliau, tapi ya ... jujur saja, saya sedang mencari bookset "Balada Si Roy" karya Gola Gong. Kenapa saya cari itu? Awal saya terjun ke dunia literasi, saya mencari buku bacaan di loakan. Saya menemukan buku "Balada Si Roy" seri pertama. Setelah baca itu, saya langsung jatuh cinta pada cerita itu. Balik ke Mbak Jazim. Sebelum hari H, Mbak Jazim bilang tidak bisa menemukan buku yang saya minta. Beliau punya, tapi cuma satu, itupun menjadi koleksi kesayangan. Saya berterus terang bahwa apa yang saya inginkan tak perlu dipaksakan untuk diwujudkan. Tapi saat Grand Finale itu, Mbak Jazim benar-benar memberi saya buku itu. Buku koleksi kesayangannya yang hanya ada satu. Saya terharu... Meski sebagian orang merasa itu buku biasa, tapi tidak dengan saya, karena dari kisah Roy saya banyak belajar.
dhony firmansyah
Terima kasih Mbas Dhony

Hal yang saya benci dari pertemuan adalah perpisahan. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Besok sudah harus berada di belakang meja kerja. Sore ini juga saya sudah harus pulang. Padahal Mbak Arikmah dan yang lainnya masih jalan-jalan. Zi masih punya kesempatan tinggal sehari lagi. Ah, apa boleh buat, saya hanya bisa membawa kenangan ini. Mbak Arikmah memberi kami (Aku dan Feri) oleh-oleh, padahal saya tak membawa apa-apa dari Kudus. Dan sembari menunggu Grab, Mbak Jazim memberi kami dua kotak nasi untuk dimakan di perjalanan.

Kami naik Grab bersama Mas Aris Rahman Yusuf yang pulang ke Mojokerto. Kami lumayan ngobrol banyak di dalam mobil, setelah sebelumnya cuma bisa chatingan saja. Sampai terminal saya salat dan sudah ada bis yang menunggu. Sekitar jam 5 lebih seperempat, bis kami melaju. Karena capek, di jalan kami ketiduran. Kupon makan yang harusnya ditukar di pemberhentian nganggur begitu saja. Sampai rumah jam 12 malam, saya buka nasi kotak pemberian Mbak Jazim. Untung saja, jadi saya bisa tidur dengan kenyang. Terima kasih Mbak Jazim...

selfie
Di belakang bisa kayak tangga gitu, ya...


Cerita-cerita lainnya:
Bus Kudus Surabaya
Museum Tugu Pahlawan Surabaya
Sari Ratu di Grand City hingga Airy Rooms Hotel Grand Sumatera Surabaya

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih