Swift

Cerpen Remaja Membeli Rindu Terbit di Koran Minggu Pagi

Membeli Rindu

Oleh: Reyhan M Abdurrohman


“Dit, adakah penjual rindu?”
Aku menoleh ke arah Aira di samping kiriku. “Memangnya kamu mau apa? Membelinya? Atau bikin bisnis jual-beli rindu?”
Aku tak bisa menahan tawa. Pertanyaan Aira terdengar konyol. Dia bukan lagi anak kecil dengan segudang fantasinya. Tapi pertanyaan ini menyatakan bahwa Aira mulai memikirkan hal yang ganjil. Dia memang sulit untuk ditebak. Dan itu yang membuatku suka padanya.
Kami sedang duduk di bangku yang terbuat dari semen. Dibentuk seperti batang pohon yang tumbang, di taman depan sekolah. Di depan kami berjejer bunga mawar merah yang tengah mekar. Di sini tempat favorit kami. Di sini pula aku menyatakan cinta, dan kami resmi pacaran.
Aira ikut tertawa sebentar. Kemudian diam dan termenung. “Tapi aku tak bercanda,” raut mukanya berubah menjadi serius, “aku ingin membelinya untuk Mama dan Papa.”
Aku menangkap kesedihan di dalam mata beningnya. Mungkin aku salah telah menertawakannya tadi. Sepertinya ada masalah serius tentang mama dan papanya.
“Kamu tahu? Tak semuanya bisa dibeli dengan uang. Termasuk rindu.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku menyesal telah mengatakannya. Aira sekarang sedang membutuhkan dukungan, bukan nasihat seperti ini. Kuharap Aira tak tambah sedih.
Aira mendengus, “Aku tahu, tapi aku butuh rindu untuk mereka.”
“Maaf,” aku mencoba lebih hati-hati dalam bertanya, “memangnya ada apa dengan mereka?”
Sebulan menjalin hubungan, aku tak pernah ke rumahnya, bertemu mama dan papanya. Ia pun tak pernah cerita tentang mereka. Sebenarnya ia belum boleh pacaran, tapi kita sepakat backstreet.
“Sepertinya mereka tak pernah saling merindukan.” Ia menunduk. Sepertinya berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Dari mana kamu tahu?”
Aira mendongak, menatap awan, kemudian menyeka air matanya yang perlahan mengalir ke pipi. “Papa jarang ada di rumah. Apakah Papa tak merindukan Mama? Begitu sebaliknya, apakah Mama tak punya rindu untuk Papa, hingga tak pernah mencegah kepergian Papa.”
“Ya, mungkin mereka punya alasan sendiri. Harusnya kamu berpikiran positif.” Aku menyarankan.
“Aku selalu berusaha berpikir positif. Tapi hal-hal negatif itu selalu mengusik pikiranku.”
“Aku yakin mereka masih punya rindu, jadi kamu tak perlu mencari penjual rindu.” Aku tertawa kecil. Berusaha mengembalikan senyumannya. Aku selalu tak tega melihat perempuan bersedih.
“Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?”
“Karena mereka saling cinta. Rindu ada karena dasar cinta.” Aku tersenyum, meyakinkannya.

***

Aku turun ke ruang makan. Mama masih di dapur menyiapkan makan malam. Aku kenal bau ini. Nasi goreng telur, dengan kecap yang agak banyak.
Aku langsung duduk di kursiku. “Ma, Papa belum pulang?”
Mama datang membawa dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan asap. “Tadi sih telepon Mama, katanya ada rapat. Mungkin agak malam pulangnya.”
Aku mendengus sebal.
Ini bukan yang pertama. Dari dulu Papa sering begini. Setiap akhir pekan selalu pulang malam, bahkan ketika aku sudah pulas di tempat tidur. Pernah aku bersikeras menunggunya di sofa ruang tamu, dan ternyata Papa malah tak pulang.
Kadang aku iri dengan teman-temanku yang bisa melepas akhir pekan bersama keluarga. Sedangkan aku, hanya bisa main PS atau menghabiskan waktu dengan tidur.
“Ma, bisakah Papa sekali saja tak pulang malam ketika akhir pekan?” tanyaku disela-sela kunyahan.
“Entahlah.” Mama seperti sudah tak acuh dengan kebiasaan papa itu. “Sepertinya tidak. Setiap akhir pekan pekerjaannya menumpuk. Kadang klienya mengajak rapat hingga malam.”
Aku meletakkan sendokku agak keras. “Tapi aku butuh Papa di akhir pekan, Ma.”
“Bukankah setiap hari juga bertemu, Papa? Manja sekali kamu ini, Dit.” Mama tertawa kecil. Ini tidak lucu. Wajar saja jika aku menginginkan papa ada di sini.
“Sudah tujuhbelas tahun lho kamu ini.” Mama terus-terusan menggodaku.
Aku melanjutkan makanku. Aku suka sekali dengan menu ini. Hampir setiap kali ke restoran, selalu mencari nasi goreng di daftar menunya. Dan buatan mama masih memegang peringkat pertama nasi goreng telur terenak versiku.
Malam ini aku memutuskan tidur di sofa ruang tamu. Berharap akan terbangun saat papa pulang. Semoga aku bisa terbangun dengan suara mobilnya.
Telingaku menangkap suara mobil berhenti di depan. Perlahan aku membuka mata. Itu pasti papa, tebakku.
Kulihat jam dinding berbentuk persegi di atasku. Mataku terbelalak. Ini jam lima pagi.
Pintu terbuka. Aku langsung bangkit dan menyongsong kedatangan papa. “Papa baru pulang sepagi ini?” tanyaku langsung.
Papa terlihat berantakan. Kemejanya kumal. “Kamu mengagetkan Papa saja. Kenapa tidur di sini?!”
“Menunggu, Papa. Papa tidur di mana semalam?” interogasiku.
“Papa capek, mau istirahat.” Papa langsung pergi ke kamar, tak mempedulikanku.

***

Pagi ini aku ada janji mengantar Aira ke mall, membeli hadiah untuk ulang tahun mamanya. Seperti biasa, Aira sudah menunggu di gang menuju rumahnya, tepatnya di pangkalan ojek di bawah pohon randu.
Bibirnya yang mungil tersenyum menyambutku. Ada rona bahagia di matanya.
“Kau cantik hari ini, dan aku suka...,” pujiku menirukan lirik lagu Lobow.
Ia tersenyum. Salah tingkah. Manis.
Kami berdua pun melaju ke mall yang jaraknya kira-kira tiga kilometer.
“Sepertinya lagi senang banget hari ini?”  tanyaku saat ia sedang memilih tas yang pantas untuk kado mamanya.
“Iya dong.”
“Pasti karena mama ulang tahun?” tebakku.
Ia mengangguk, “Juga karena semalam Papa pulang. Ini lagi keluar sebentar, dan nanti malam mau merayakan ulang tahun Mama. Pasti sekarang lagi beli kado juga sama sepertiku.”
“Tuh kan, mereka masih punya rindu.”
Setelah membayar ke kasir, kuajak dia makan siang sebentar.
“Aku ke toilet dulu, ya. Nih titip Kado dan tasku.” Ia menyerahkan kado dalam plastik putih dan tas cokelatnya.
Ia langsung meninggalkanku sendiri. Tak lama HP-nya yang tertinggal di dalam tas berdering. Kuambil HP itu, mataku terbelalak saat melihat wallpaper-nya. Ada tiga orang di situ. Aira dan dua orang lagi, pria dan wanita dewasa. Aku kenal betul dengan pria itu.
“Eh ada telepon?” tanya Aira tiba-tiba di depanku. Mengagetkan saja.
Aku menyerahkan HP-nya lagi. “Bukan, cuma SMS. Tidak kubaca, kok. Itu di wallpaper foto siapa?”
Ia tersenyum, “Aku dan Mama-Papa.” Ia menunjukkan lagi foto itu. Mendadak dadaku sakit luar biasa. Kenyataan apa ini? Itu Papaku, Aira.
***

Cerpen Remaja "Membeli Rindu" karya Reyhan M Abdurrohman, dimuat di Koran Minggu Pagi, edisi Minggu, 01 November 2017.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih