Swift

Mempertanyakan Kelestarian Wayang Klithik Wonosoco - Sebuah Opini

Wayang Klithik Wonosoco  (c) ISK

Mempertanyakan Kelestarian Klithik Wonosoco

Oleh : Reyhan M Abdurrohman

Berada di daerah terpencil di Kudus, keberadaan Wayang Klithik tetap terjaga. Desa Wonosoco yang berada di Lereng Gunung Kendeng tersebut disebut sebagai satu-satunya daerah yang masih melestarikan wayang berperawakan pipih yang terbuat dari kayu. Wayang yang jika dimainkan berbunyi “klithik... klithik...” tersebut erat kaitannya dengan tradisi bersih-bersih sendang di daerah setempat. Tradisi setahun sekali yang masih dirawat dengan baik sebagai wujud syukur kepada Tuhan Semesta Alam. Bisa jadi tradisi yang masih berjalan, menjadi salah satu alasan Wayang Klithik tetap dapat kesempatan mentas. 

Sebenarnya tidak diketahui secara pasti asal mula Wayang Klithik bisa ada di Wonosoco. Kata Ki Sutikno yang mendalangi wayang tersebut, kesenian ini adalah warisan leluhur, begitupun kehamirannya mendalang adalah warisan dari sang ayah, Ki Sumarlan. Perlu adanya penelitian tetang sejarah wayang di Wonosoco ini, apakah ada kaitannya dengan Wayang Klithik di daerah lain, dan bagaimana bisa masuk dan sudah menjadi bagian dari Wonosoco hingga kini.  

Sayangnya, wayang jenis ini masih kalah tenar dengan Wayang Kulit atau Wayang Wong yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat, meski kesempatan mentas mereka pun tidak terlalu banyak. Nasib mereka sebenarnya tidak jauh berbeda, yakni tetap tidak terlalu terdengar gaungnya dibanding kesenian modern yang makin hingar-bingar, katakanlah panggung orkes dangdut yang mudah sekali ditemui sekarang ini. Tidak usah menunggu acara besar peringatan hari tertentu atau orang mantu untuk melihatnya, panggung orkes dangdut mudah untuk ditemui. 

Nasib serupa pun dialami kesenian tradisional lainnya seperti Ketoprak, ludruk, tayub dan lainnya yang masih harus berjuang tetap dapat kesempatan mentas. Paling mentok mereka mentas di acara  sedekah bumi dan peringat kemerdekaan, itupun bisa dipastikan bahwa penontonnya kebanyakan tak secara serius dan fokus menonton kesenian tersebut, melainkan hanya datang melihat keadaan atau sekedar cari jajanan. Memang di lokasi pertunjukan rakyat semacam itu sering kali mendadak ramai bak pasar. Banyak pedagang yang mengais rupiah ikut berjejalan di sekitaran tempat acara digelar.

Memang perlu upaya yang lebih keras lagi untuk mengenalkan wayang unik ini kekhalayak luas, khususnya ke warga Kudus terlebih dahulu sebagai tempat di mana kesenian ini hidup. Misalnya memberikan kesempatan mereka mentas tidak hanya di acara sedekah bumi saja, melainkan acara apresiasi budaya atau yang lainnya. Jangan sampai orang Kudus sendiri jika ditanya Wayang Klithik malah tidak tahu-menahu. Mungkin mendengar namanya saja tidak pernah. Miris.

Adanya pertunjukan Wayang Klithik “Jaka Umbaran” pada 23 Agustus 2017 di Auditorium Universitas Muria Kudus lalu bisa jadi salah satu contoh usaha nyata pelestarian kesenian Wayang Klithik. Pertunjukan wayang dengan lakon Jaka Umbaran kali ini terlihat spesial karena menghadirkan pertunjukan wayang dua generasi, yakni Ki Sutikno dan Ki Tino, anaknya. Mereka berdua berkolaborasi dan beradu dalam satu panggung pertunjukan. Pertunjukan yang fenomenal. Dari dua generasi dalam satu darah. 

Ki Tino Mulyadi yang masih bocah digadang-gadang menjadi penerus Ki Sutikno. Ikut terjunnya Ki Tino ke dunia Wayang Klithik bisa jadi harapan agar Wayang Klithik tetap ada yang menggerakkan. Harapannya, usaha untuk melestarikan Wayang Klithik tidak hanya berheti di sini saja. Bisa jadi pagelaran ini adalah salah satu pematik semangat bagi pelaku seni Wayang Klithik untuk tetap semangat membawakan pagelaran Wayang Klithik, juga bagi penikmat dan perawat seni agar memberikan kesempatan lebih banyak lagi untuk Wayang Klithik dapat mentas, agar kelestarian Wayang Klithik tidak perlu dipertanyakan lagi. Semoga.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih