Swift

Pertemuan Pertama dengan Si Dia

ajari aku melupakanmu
Ajari Aku Melupakanmu

Masih dalam tulisan untuk menjawab tantangan #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge yang sudah menginjak hari ke empat. Hari baru berarti tantangan baru. Kali ini ditantang untuk menceritakan bagaimana pertemuan pertama dengan si doi dengan tanpa menyebutkan namanya. Hadeh, ini tantangan aneh-aneh aja.
Tantangan #KampusFiksi kali ini memaksa saya membongkar-bongkar kenangan lama yang seharusnya sudah tidur dengan tenang. Saya terpaksa mengobrak-abriknya lagi. Duh, takutnya nanti saya nulisnya malah baper sendiri. Haha. Doakan semoga tidak, semoga saya tetap kuat, tetap setrong dengan kenangan-kenangan yang harus diceritakan lagi.

Jelas kenangan pertemuan adalah kenangan manis yang bisa bikin diabetes. Namun kenangan ini bisa ber-ending pahit melebihi pahitnya obat. Pertemuan pertama dengan si dia lebih tepatnya saya lupa. Karena semuaserba ujug-ujug. Yasudah daripada bingung lebih baik saya ceritakan seingat saya.

Prestasinya Bikin Penasaran

Jika ditanya siapa yang menjebloskan saya ke dunia menulis ini, mungkin saya akan menjawab dia.  Ya,  dia! Karena saya ingat betul waktu itu saya tengah iseng  mencoba cari komunitas  Forum Lingkar Pena setelah nonton Ayat-ayat Cinta. Eh, di facebook nemu Forum Lingkar Pena Kudus, langsung klik gabung deh. 

Di sana saya bergerilya ngepoin anggotanya. Jelas yang jadi sasaran ya anggota seumuran. Tibalah saya membuka akun facebooknya yang dindingnya berisi cover-cover buku yang memuat namanya. Langsung terpesona deh sama karya-karyanya yang ternyata sudah banyak. Langsung malu-malu inbox nanya-nanya gitu. 

Si Dia dengan senang hati membalas dan menanggapi setiap pertanyaan yang saya utarakan. Jika ada pertemuan FLP Kudus katanya akan dikabarin. Setelah itu saya digabungkan ke grup-grup kepenulisan seperti PNBB, CK  Writing dan Cendol. Sebelum digabungkan saya bikin facebook lagi dengan nama asli (tidak alay seperti facebook lama) sebagai syarat masuk itu grup kepenulisan. Dari ketiga grup tersebut saya malah aktif di PNBB, padahal si doi aktif di Cendol.

Pertemuan Pertama

Singkat cerita ada pertemuan FLP Kudus. Saya di situ jadi orang asing yang nggak kenal siapa-siapa. Dia yang ngajakin datang  malah datangnya terlambat. Saya persis kayak orang hilang, atau anak ayam yang kehilangan induknya.  Mencoba berbaur kok pakewuh karena mereka sudah pada punya karya kali ya, sedangkan aku nggak tahu apa-apa.

Dia datang dan tak lama acara di mulai. Tidak ada yang spesial sih.  Saya cuma menyimak saja waktu itu. Karena memang saya tidak tahu apa-apa. Saat itu pun tidak ada perasaan apa-apa selain kekaguman. Setelah itu pun saya tetap ngerecokin dia buat ditanya-tanya dan diajak curhat.  Mungkin dari situ ada benih-benih rasa yang berkembang.

Bilang Cinta

Singkat cerita lagi, kita tetap berhubungan meski jarang bertemu. Kita kuliah dan kerja di tempat berbeda. Ya, kita sama-sama mengambil jalur pendidikan ekstensi atau kuliah untuk karyawan. Obrolan kami sudah tidak hanya seputar tulis menulis saja, namun apa pun termasuk tugas kuliah hingga skripsi. Pada suatu kesempatan pun saya mengajaknya mampir ke  rumah, dan tanggapan orangtua positif. Itu yang membuat saya senang dan mantap untuk mengatakannya ...

Saya mengatakan isi hatiku, tapi saya tak  bisa untuk menjalin hubungan sekarang karena pekerjaan saya yang belum bisa dianggap cukup. Dan saya belum berani beranjak ke jenjang yang lebih tinggi.  Di pikiran saya saat itu, saya hanya butuh jujur dan meluapkan isi hatiku, untuk selanjutnya sudah saya pasrahkan pada Allah. Saat saya bicara soal itu saya pun mengemukakan bahkan saya memberinya kebebasan, karena memang kami tidak ada ikatan.

Arti Ikhlas

Berita buruk datang. Dia tunangan. Katanya ada pria siap nikah yang dikenalkan padanya. Dan tahu sendiri endingnya ... dia menikah. Saya sempat terpuruk, tapi saya sadar saya tak berhak atas apa pun karena dari awal saya sudah bilang memberinya kebebasan, lagipula saya yakin Allah sudah menyiapkan yang lebih baik untuk saya.

Duh, saya malah curhat sampai ke ending, padahal yang ditanya cuma pertemuan pertama dengan si dia. Alamakkkkk.

Untuk si dia, terima kasih sudah menjebloskanku pada dunia literasi yang sudah membesarkan namaku dan benar-benar bisa saya geluti. Terima kasih, darimu aku belajar apa itu ikhlas. Semoga bahagia.

*) tulisan ini diikutkan dalam #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge 

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih