Swift

Insyaallah Saya Tidak Akan Merokok


Hari terakhir atau hari ke-10 tantangan menulis #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge. Terasa banget ya sudah sepuluh artikel termasuk ini saya tulis secara rutin perharinya. Awalnya saya memang ogah-ogahan menulis, maka dari itu ikut tantangan ini sebagai challenge saya dan paksaan agar saya terus produktif. 

Pada tantangan terakhir ini adalah menuliskan hal yang saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Emmm... saya berpikir dan mengingat ke belakang tentang hal apa yang saya lakukan dan tidak saya ulangi lagi dan nantinya tidak akan pernah saya ulangi lagi (semoga). Otak saya tertuju pada suatu perbuatan sia-sia yang mana dilakukan banyak orang.

Insyaallah saya tidak akan merokok. Terlepas dari pro-kontra fatwa haram rokok oleh MUI, saya sendiri memang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Tapi jika melihat dengan sudut pandang yang lebih luas, rokok adalah mata pencaharian orang Kudus, kabupaten di mana saya lahir dan besar. Rokok adalah sumber penghidupan bagi mereka, buruh rokok. Jika rokok secara semena-mena diharamkan dan dilarang bagaimana nasib ribuan orang tersebut?

Kembali ke permasalahan ini. Saya ingat betul dulu saat usia SMP atau SMA kalau tidak salah saya sempat penasaran dengan rasa rokok dan bagaimana bisa orang sangat menikmati tembakau yang dibakar tersebut. Saat ziarah ke Sunan Kudus, waktu itu masih menggunakan sepeda sebagaimana transportasinya, padahal jarak rumah dan lokasi Menara Kudus sangat jauh, tapi kami semangat. Setelah ziarah dan sebelum pulang kami ngobrol. Teman saya mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya sambil dihisap. Saya memerhatikannya.

"Mau coba?" tawarnya.

"Emang enak? Asep kok dikonsumsi."

"Enaklah, kalau nggak enak kenapa banyak orang ngerokok. Kyai juga banyak yang ngerokok."

Aku masih penasaran. Benar-benar penasaran malah.

"Mau coba tidak? Kalau pikiran lagi buntu dan stres ini bisa jadi penawar."

"Masak?"

"Coba aja." Temanku itu menyodorkan sebatang rokok yang ujungnya masih menyala. Rokok itu, rokok yang sama dihisapnya.

Dengan ragu aku ambil rokok itu dan mendekatkannya ke mulut dengan pelan. 

"Langsung  saja, hisap terus buang."

Aku langsung menghisap  saat pangkalnya mengenai bibir. Tapi aku malah terbatuk, bahkan asap yang kuhirup tak berhembus normal. Yang kurasakan hanya asap. Entah rasa macam apa ini dan aku tidak tahu bagaimana caranya menikmatinya. Aku pun tak mengerti bagaimana bisa orang-orang menyukai asap pembakaran tembakau  macam ini.

Saat itu aku berjanji tidak akan pernah lagi merokok, bahkan mencobanya. Meski sampai sekarang masih penasaran bagaimana cara orang bisa menikmatinya. Tapi saya tak berani. Pertama, takut batuk. Kedua,  takut  kecanduan. 

Sebenarnya perihal rokok ini tergantung siapa yang mengkonsumsi. Bagi mereka yang sudah sangat ketergantungan,  rokok bagaikan obat dan teman kesehariannya untuk menjalani aktivitas.

"Kalau nggak ngerokok, mulutnya sepet," kata mereka.

Sampai sekarang rokok masih  menjadi kontroversi, dilema yang rasanya sulit untuk diurai. Bagaimanapun itu, sebenarnya pada setiap bungkus dan iklan rokok sudah diperingatkan kalau  "Rokok  dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin." Mau  mengindahkannya silakan, tidak juga silakan.


*) tulisan ini diikutkan dalam #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge 

You Might Also Like

6 komentar

  1. Aku setuju. Tergantung masing-masing individu sih. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kalau sudah kecanduan susah buat berhenti.Lagipula banyak yang jadikan rokok adalah sebuah pelarian

      Delete
  2. Kalau di mata wanita, suami perokok itu kaya gimanaaa gitu. Kan daripada buat beli rokok, mending ditabung buat beli kambing. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya emang ndak suka sih :D
      Tapi kadang ngelihat gaya mereka itu kok kayak asyik banget :D

      Delete
  3. Dilema, ya? Secara tidak langsung, rokok banyak menciptakan lapangan pekerjaan. Tapi ya nggak tahu lagi. Kan yang bagi rezeki Allah. Pasti ada cara lain. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya dilema banget. Harus ada pertimbangan lebih. Ditambah rokok adalah bagian dari sejarah dan budaya Kudus.

      Delete

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih