Swift

Antara Penerbit Indie dan Mayor

karya reyhan m abdurrohman
Kisah Putus


Bisa dibilang saya belajar, berproses dan semangat menulis dari penerbit indie. Maksudnya dalam hal publikasi karya dibantu oleh penerbit indie. Makanya saya tidak suka jika  ada yang bilang buku yang terbit di penerbit indie itu kualitasnya jelek, atau penerbit indie itu nggak membanggakan atau ejekan lainnya yang seolah si pengejek adalah orang yang sudah punya karya berkualitas tingkat dewa. 

Pada kesempatan kali ini, bertetapan dengan tantangan menulis  #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge hari ke-6 dengan isi tantangan, "Ceritakan tentang hal di mana kamu pernah membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkannya." Ya, saya dulu bangga sekali dengan karya saya yang berhasil terbit di penerbit indie, meskipun itu masih karya antologi bersama dengan penulis lain. Ke sini, kok malah banyak yang nyinyir soal indie. Kenapa? ada masalah antara penerbit indie dan mayor?

Belajar Menulis dan Bersemangat di Event Menulis Indie

Saya belajar menulis otodidak. Saya bukan lulusan bahasa dan sastra. Saya menempuh pendidikan SMK teknik elektro dan kuliah akuntansi yang sama sekali tak ada hubungannya dengan sastra. Lalu bagaimana cara  saya belajar  menulis? Ya, saya belajar menulis  dari grup-grup facebook yang bertebaran. Selain itu saya juga sering mengadu kualitas tulisan saya lewat event yang diadakan penerbit indie. 

Awal-awal   seringkali gagal, bahkan saya bermaksud berhenti saja belajarnya. Tapi seiring berjalannya waktu, saya bisa lolos event tersebut dan diterbitkan dalam bentuk antologi bersama penulis lain. Jelas saya gembira kala itu.

Kenapa tidak mencoba ke media? Tantangan di media itu besar. Kita harus belajar dari tantangan yang kecil dong, biar nggak kaget. Di media rentan PHP, tanpa kabar, bahkan ada yang sulit banget soal pencairan honor. Selain itu, kita kan bisa sambil memperbaiki kualitas tulisan kita.  So, tidak ada masalahnya kan terbit indie?

Penulis Bebas

Mungkin kalau di penerbit mayor penulis tinggal terima bersih. Soal editing, layout, cover dan pemasaran ditanggung penerbit. Layout dan cover sudah ditentukan. Berbeda dengan penerbit indie dengan sistem  self publishing di mana penulis punya hak untuk menentukan dan mengurus sendiri naskahnya hingga terbentuk buku sampai soal pemasaran. Mungkin itu bedanya penerbit indie dan mayor.

Penulis bisa me-layout sendiri, desain cover sendiri dan lain-lain. Jika tak bisa mendesain bisa minta bantuan dengan penerbit (penerbit indie biasanya menyediakan jasa ini). Jadi penulis benar-benar bebas. Ide bisa dituangkan sepenuhnya dalam karya tersebut. Menarik bukan?

Keuntungan Besar

Teman saya pernah bercerita bahwa keuntungannya dari naskah yang terbit di indie dengan di mayor beda. Terbit di indie dengan penjualan lebih dari 100 eksemplar sudah melebihi royalti naskah di mayor yang jumlah penjualannya dirahasiakannya. Katanya keuntungan dari indie ini bisa banyak, apalagi jika kita menerbitkannya sendiri atau self publishing.

Cara menerbitkan buku secara self publishing pun cukup  gampang. Kita bisa mengurusi semuanya sendiri atau minta bantuan tenaga ahli. Jelas itu semua penulis yang menentukan. Cari penerbit atau percetakan yang murah. Tentukan keuntungan sendiri. Dan pasarkan!

Tipsnya lebih baik carilah pasar terlebih dahulu. Pasar dalam hal ini adalah penggemar karyamu. Misal jumlah follower IG atau twitter banyak, itu adalah pasar. Misal lagi follower di wattpad juga banyak, itu adalah pasar yang empuk untuk disasar.

Bayangkan bagaimana jika seorang dosen membuat buku tetang mata kuliah yang diampunya dengan bahasa yang ringan dan menarik. Pasar dia sudah jelas, yakni mahasiswanya sendiri. Ini termasuk ladang basah. Si dosen tinggal cetak secara mandiri dan dipasarkan ke mahasiswanya. Keuntungan bisa diatur sendiri. Enak, kan?

Penuh Tantangan

Jelas tantangan yang akan kamu hadapi di penerbitan indie lebih besar dari penerbitan mayor. Jika naskah ACC di penerbit mayor kita tinggal terima bersih, selain keperluan revisi. Sedang di indie kita bekerja sendiri (bisa dibantu jasa penerbit). Selain itu tantangan di pemasaran yang sangat besar. Jelas kita ingin karya kita dibaca dan mendapatkan keuntungan, kan? Makanya harus pandai memasarkan.

Sebenarnya di penerbit mayor pun kita wajib memasarkan buku kita. Bedanya mungkin akses untuk mendapatkannya lebih mudah karena dipasarkan di toko buku. Berbeda dengan penerbit indie yang hanya online. Tapi bukankah itu bisa bikin naskah kita tampak elegan karena tidak dipasarkan sembarangan? Hehe.


Ya, sebenarnya tidak ada masalah antara penerbit indie dan mayor. Semua sama, yang terpenting naskah kita dibaca dan kita dapat pemasukan. Monggo dipilih jalur yang mana yang kamu minati atau sesuai kebutuhan. Jadi sebenarnya tidak etis jika menghina penerbit indie atau memandang sebelah mata. Apalagi koar-koar bilang kalau penerbit indie cuma nipu dan lain-lain.

Ya, diakui juga ada penerbit indie yang nakal seperti itu, tapi tidak semua, maka jangan dipukul rata. Banyak penerbit indie terpercaya dan berkualitas yang siap membantu kamu untuk mewujudkan impianmu jadi penulis.


*) tulisan ini diikutkan dalam #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge 

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih