Swift

Kolaborasi Puisi; Batas, Yang Akan Dinamakan Cinta, Ciuman Perpisahan

Yang Dinamakan Cinta Afrilia Utami

Pada acara "Darah Muda, Sumpah Pemuda" 30 September 2016 lalu saya berkesempatan membacakan puisi bersama Izzatun Nada. Saya dan Izza mewakili Komunitas Fiksi Kudus untuk melakukan perform di acara donor darah dan stand komunitas Kudus tersebut. Kami mencoba mengkolaborasikan puisi dari penyair terkenal M Aan Mansyur dan Afrilia Utami agar bisa tersaji dengan baik seolah membentuk sebuah cerita antara dua sejoli yang kami wakili di sini.

Kolaborasi puisi berjudul Batas (M. Aan Mansyur), Yang Akan Dinamakan Cinta (Afrilia Utami), Ciuman Perpisahan (M. Aan Masyur) ini disusun oleh Shoma Noor Fadlillah yang katanya dengan susah payah mencari puisi yang pas untuk dikolaborasikan. Terima kasih buat Fadlillah sudah menyusun puisi-puisi indah milik M. Aan Mansyur dan Afrilia Utami, sehingga tercipta  cerita baru yang menarik pula dan dapat kami tampilkan berdua.

Mengapa puisi tersebut kami kolaborasikan? Jawabannya adalah karena kami tampil duet, jadi kami harus menyampaikan puisi yang berkesinambungan. Sebenarnya rencana ini terinspirasi dari hasil kolaborasi ciamik dari lagu-lagu terkenal Indonesia oleh Eka Gustiwana. Coba lihat videonya di sini.



Jadi beberapa lagu hanya diambil  bagian-bagian tertentu yang bisa dikolaborasikan menjadi lagu baru yang keren. Nah, dari situ kami  ingin menyampaikan puisi yang bisa dikolaborasikan sehingga membentuk suatu cerita baru yang bisa dinikmati dengan cara duet seperti ini.

Sebenarnya ini adalah kali pertama saya untuk membaca puisi di depan umum setelah pernah ikut lomba baca puisi tingkat kecamatan waktu SD yang gagal. Bukan terpuruk, tapi saya merasa tak punya rasa percaya diri untuk tampil di depan umum. Maka dari itu saya mencoba keluar dari zona nyaman saya untuk tampil di acara tersebut. Ternyata ini juga penampilan pertama Izzatun Nada di depan umum. Kami pun tidak sempat latihan bersama sebelum tampil, jadi yang begini  jadinya penampilan kita yang masih ... ya begitulah.


Kelihatan banget kalau amatiran dalam membaca puisi. Tak apalah, saya cukup puas dengan diri saya karena sudah berani tampil di depan orang banyak. Hehe. Terima kasih buat Komunitas Fiksi Kudus yang sudah men-support saya untuk maju ke depan, naik ke atas panggung. Hehe.

Oke, berikut adalah hasil kolaborasi puisi yang disusun oleh tangan dingin Shoma Noor Fadlillah.



Puisi: 
Batas (M. Aan Mansyur)
Yang Akan Dinamakan Cinta (Afrilia Utami)
Ciuman Perpisahan (M. Aan Mansyur)

--------

Reyhan:
Apa kabar hari ini? Lihat tanda tanya itu!
//
Semua perihal diciptakan sebagai batas.
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membatasi besok dan kemarin. 
Besok batas hari ini dan lusa. 
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, 
juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

Izza:
Segala malam yang kita lalui sejauh ini
terkristalkan menjadi kapuk-kapuk
dalam bantal guling menamakan kehadiran
Akan di mana pelengkap sayap yang diberancari agar tak patah setengah
agar tak remuk oleh sebuah tekanan di udara 
saat maskapai biru kehilangan navigasi tujuannya

Rey:
Kau bisa putus mencintaiku, kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya, dan kenapa tidak, kau bisa pergi begitu saja.
Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa menjadi lap bagi diri sendiri

Izza:
Lelaki yang akan kunamai kekasihku,
waktu selalu magis di sini di balik selimut
Tuhan menjadi pemutar komedi malam
di jam nol nol sebuah shelter dalam kamar 
sekotak tisu meredam darah dari hidup
Lelaki yang kucinta tersulut api yang diciptakannya
dan menjadi pupuk oleh bara yang ditinggalkan
dan engkau pun tahu
aku tak mau cinta yang bekerja seperti doa api dalam neraka

Rey:
Ciuman itu. Ciuman itu! Aku terbakar jadi abu setiap malam.
Tapi--sialan! Kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.
Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium.
Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan.

Izza:
Sekali lagi,
Segala malam yang kita lalui terkristalkan menjadi kapuk-kapuk dalam bantal guling menamakan kehadiran, dan engkau pun tahu
Aku tak mau cinta yang bekerja seperti doa api dalam neraka

Rey:
Lihat tanda tanya itu. Lihat tanda itu!
Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

-----Selesaaaiii---


Berikut adalah puisi versi aslinnya


Batas 

Karya : M. Aan Mansyur

Semua perihal diciptakan sebagai batas 
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain 
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin 
Besok batas hari ini dan lusa 
jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, 
bilik penjara, dan kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita 
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta 
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata 
begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila 
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang 
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya 
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan 
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur 
Apa kabar hari ini? 
Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi 




Yang Akan Dinamakan Cinta

Karya :Afrilia Utami

Segala malam yang kita lalui
sejauh ini, terkristalkan menjadi kapuk-kapuk
dalam bantal guling, menamakan kehadiran.

Akan di mana pelengkap sepasang sayap?
Yang Gibran cari agar tak patah setengah
Agar tak remuk oleh sebuah tekanan
Di udara saat maskapai biru kehilangan navigasi
tujuannya.

Lelaki yang akan kunamai kasihku
Waktu selalu magis di sini, dibalik selimut…
Tuhan menjadi pemutar komedi malam
Di jam nol nol sebuah shelter dalam kamar
Sekotak tissue meredam darah dari hidung.

Lelaki yang akan kucinta
Tersulut oleh api yang diciptakannya
dan menjadi bubuk
oleh bara yang ditinggalkan.

Dan Engkau pun tahu
Aku tak mau cinta yang bekerja
;seperti doa api dalam neraka



Ciuman Perpisahan

Karya : M. Aan Mansyur


Tubuhmu pokok pohon paling kuat di hutan. paling wangi;
dahan dan daun-daunmu pelangi. Aku ingin memanjat dan
menjatuhkan diri sekali- dan lagi dan lagi. Sepasang matamu buah-
buahan, menyihirku jadi bintang padam dan binatang yang menolong
siang-malam.

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain
kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu
saja. Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa jadi lap bagi
diri sendiri.

Ciuman itu. Ciuman itu. Aku terbakar jadi abu setiap malam. Tapi-
sialan!- kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.

Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium.
Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan-

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih