Swift

Menginspirasi Walau Sehari di Kelas Inspirasi Kudus


Kisah Masa SD Terputar Kembali


Senin, 29 Agustus 2016 menjadi hari spesial bagi murid-murid di beberapa SD / MI di Kabupaten Kudus, dan bagi saya khususnya. Masih dalam nuansa semangat perayaan kemerdekaan RI, pagi-pagi sekali saya memacu motor saya menuju Desa Pasuruhan Lor. Tidak seperti senin biasanya yang sudah rapi menuju kantor, saya bertolak ke sebuah SD di Pasuruhan Lor. Suasana pagi itu mengembalikan saya pada masa di mana saya  masih mengenakan celana pendek berwarna merah. Anak-anak di SD tersebut berdatangan, beberapa terlihat bersiap-siap menjadi petugas upacara, sedangkan saya dan pada relawan Kelas Inspirasi Kudus #1 yang terdiri dari Fasil (Kak Umi, Kak Adi, Kak Wicar, Kak Irna), Inspirator (Kak Dilla, Ibu Wati, Kak Luki, Kak Sela, Kak Teguh, Kak Novi) dan Dokumentator (Kak Bri, Kak Ichda, Kak Rifan) berada di ruang yang penuh dengan piala untuk berkoordinasi sembari menunggu bel masuk berbunyi.


Upacara di mulai setelah bel berbunyi.  Anak-anak membuat barisan dan dengan khidmat mengikuti upacara bendera, termasuk kami yang berada di barisan depan mereka. Ini upacara kedua saya setelah lulus sekolah, sedang upacara yang pertama adalah upacara 17-an Komunitas Kudus di Museum Kretek 17 Agustus 2016 lalu. Setelah upacara kami para relawan merapat ke lapangan dan memperkenalkan diri, tentang siapa kami dan apa tujuan kami datang ke sini, yang dipimpin oleh Kak Umi sebagai Fasil tentunya. 


Berita Duka


Perkenalan singkat tersebut menyisakan seribu pertanyaan yang tergantung di kepala anak-anak ini. Kami pun mencairkan suasana dengan flash mob bersama yang berdurasi kurang lebih 6 menit dan dilanjutkan dengan foto bersama. Setelah acara pembukaan  tersebut selesai, anak-anak berhamburan ke kelas, sedangkan kami berkordinasi lagi sebelum  masuk kelas. Terlihat Ibu Kepala Sekolah tergopoh-gopoh datang ke ruang tempat kami berkumpul. Wajahnya pucat-pasi. Napasnya tak beraturan dan ada mendung di wajahnya.


Berita buruk terpaksa kami terima. Kepala sekolah terpaksa harus memberhentikan kegiatan Kelas Inspirasi ini, itu perintah dari dinas yang tak bisa ditawar lagi. Alasannya sederhana, karena kami tidak punya legalitas izin. Ya, kami akui karena kami memang gerakan independen yang seharusnya dapat terus berjalan karena kesepakatan kedua belah pihak saja yakni sekolah dan pihak Kelas Inspirasi. Tapi apa daya, kami dan kepala sekolah bahkan yayasan yang sudah terlebih dahulu mengijinkan tak punya kuasa lebih untuk menantang penguasa.

Jelas kami  merasa kecewa, down, sedih, jatuh, runtuh dan entah kata apalagi yang bisa menggambarkan kesedihan ini. Raut kecewa dan ingin marah bahkan ingin menangis  tergambar di raut muka kami. Bukannya apa, kami sudah mempersiapkan semuanya, kami sudah cuti dari pekerjaan kami, bahkan banyak relawan (inspirator dan dokumentator) yang datang dari luar kota. Tapi kami sadar, kami tak boleh sedih, kami tak boleh menyerah, kami harus bangkit. Ini bukan halangan, tapi ini adalah lecutan untuk tetap berjuang.


Bergabung dengan Sekolah Sebelah



Fasil dan panitia lokal langsung  berkordinasi. Akhirnya memunculkan keputusan untuk menggabungkan kami ke sekolah MI di Purwosari yang bisa dibilang kekurangan relawan dan tidak jauh dari lokasi kami. Fasil dan panlok sangat sigap dan berusaha agar tidak mengecewakan kami. Kami pun berpamitan pada guru-guru dan menyampaikan permintaan maaf. Saat keluar dari ruang, dan hendak ke  parkiran anak-anak berbondong-bondong menemui kami dan bersalaman dengan kami. Kami menangkap wajah-wajah lesu dan kecewa di sana. Suasa haru pun tercipta begitu saja. Tak mau melewatkan momen terakhir, kami mengambil  foto bersama sebelum pada akhirnya benar-benar pergi. Kami harus move  on.

Kami langsung bertandang ke dua MI yang ternyata bersebelahan. Kami dibagi menjadi dua dan langsung dibagikan jadwal mengajar oleh Kak Hani. Suasana sedih dan kecewa masih terasa. Saya sendiri masih down dan blank, bingung apa yang akan saya sampaikan nanti di kelas. Untung saja Kak Umi memberikan sedikit tips bagaimana menghadapi anak-anak,  yakni JANGAN JAIM! 


Setelah istirahat, saya masuk ke kelas 2, selanjutnya kelas 5 dan terakhir kelas 4. Di kelas dua saya benar-benar kesulitan karena anak-anak ribut dan maunya bermain. Okelah, saya turuti, saya ajak mereka bermain konsentrasi dan kejujuran sambil setelahnya tetap saya selipkan materi tentang profesi saya sebagai penulis. Sedangkan di kelas 5, kelas lumayan dapat terkontrol, tapi anak-anak sudah mulai capek dan lesu, bahkan ogah-ohagan. Saya pun memancing mereka dengan game dan membuatkan contoh cerita singkat hingga menunjukkan beberapa karya saya.  Di situlah mereka antusias mendengarkan saya. Sedangkan di kelas 4 anak-anak ribut, tapi cukup bisa diatur. Di sini saya sudah mulai bisa mengatur kelas. Anak-anak pun antusias bahkan berebut melihat karya yang saya perlihatkan.

Memang di sekolah yang baru ini saya merasa asing. Wajar saja karena saya belum kenal semua relawannya. Saya pun tidak dari awal berada di sini, menjalani pagi bersama anak-anak di sini. Namun semua bisa cair dan membaur karena di sini kita punya satu tujuan yang sama sebagai relawan. Anak-anak pun cukup welcome dengan kehadiran saya di tengah-tengah acara. 


Akhirnya masuk pada acara pamungkas yakni menuliskan cita-cita kemudian menempelkannya di pohon cita-cita. Saya sempat terharu saat mendapati seorang siswa menuliskan cita-citanya pada kertas berbentuk pisang dengan tulisan "penulis"  saya tak menyangka profesi yang saya bawakan ada juga peminatnya. Selain itu cita-cita anak yang lain pun beragam. Setelah penempelan pohon cita-cita dengan harapan cita-cita itu dapat terus tumbuh, sebagai penutup anak-anak diajak menerbangkan pesawat kertas dengan analogi bahwa melambungkan cita-cita mereka setinggi mungkin.


Sebagai kenangan, tak lupa kami menyempatkan berfoto bersama. Foto dengan anak-anak, foto dengan guru dan foto dengan relawan lainnya. Mungkin foto-foto ini yang akan menjadi kenangan dan saksi bahwa saya pernah berada di tengah mereka, bahwa saya pernah melihat mereka menuliskan cita-citanya, dan bukti bahwa harapan bangsa ini untuk maju masih ada.

Mungkin Ini Sedikit Testimoni Saya


Nama asli saya Mohammad Abdurrohman, tapi lebih dikenal di jagat kepenulisan dengan nama Reyhan M Abdurrohman. Jika ditanya profesi, sebenarnya saya bukanlah siapa-siapa. Saya memang sudah menerbitkan beberapa buku, tapi bagi saya belum ada apa-apanya karena perjalanan ini masih panjang. Masih butuh banyak  belajar dan meraup pengalaman.

Saya ikut program Kelas Inspirasi karena memang ingin berbagi. Memang klise banget alasan ini. Tapi sebenarnya saya tahu Kelas Inspirasi sudah lumayan lama,  yakni saat proses penerbitan novel kedua saya "Mendayung Impian". Mbak Dita selaku editor novel tersebut malah cerita banyak tentang Indonesia Mengajar termasuk Kelas Inspirasi di dalamnya. Saya langsung mencari apa itu Kelas Inspirasi dan berminat untuk bergabung. Hanya saja waktu itu yang terdekat adalah di Semarang. Faktor lain yang menghalangi langkah saya adalah persyaratan yang harus minimal sudah bekerja selama 2 tahu. Sedangkan saat itu saya masih menjadi mahasiswa. Saat ada Kelas Inspirasi Kudus saya langsung daftar.

Saat mengajar di kelas saya deg-degan. Jujur saja keringat dingin bermunculanlewat pori-pori kulit. Saya baru merasakan apa yang dirasakan Tevano (tokoh dalam novel Mendayung Impian) saat mengajar anak SD pertama kali. Apalagi rencana materi yang akan saya bawakan hilang entah kemana gara-gara insiden di SD sebelah. Tapi saya mencoba menyesuaikan diri dan mencari diri saya yang pernah mengajar anak  SD dua tahun yang lalu. Akhirnya kelas terkendali.

Harapan bagi anak-anak kedepannya sebenarnya cukup sederhana. Saya berharap cita-cita yang telah mereka tuliskan dan barangkali nanti berubah seiring berjalannya waktu dapat tergapai. Saya harap mereka dapat mendapatkan pendidikan setinggi mungkin hingga cita-cita mereka pun semakin tinggi.

Kesan ikut program Kelas Inspirasi sungguh luar biasa. Saya pribadi tak menyangka jika relawannya tidak hanya dari Kudus saja, melainkan banyak yang dari luar Kudus bahkan luar pulau jawa. Saya yang orang Kudus sendiri jadi minder dan malu karena orang Kudus malah sedikit yang ikut bergabung. 

Sedangkan pesannya,  semoga akan ada Kelas Inspirasi Kudus selanjutnya dan makin diberi kelancara dan kesusksesan dari pelaksanaan Kelas Inspirasi Kudus pertama ini.


Sumber gambar : tim dokumentator Kelas Inspirasi Kudus

You Might Also Like

6 komentar

  1. Keren mas Reyhan.. semoga suatu saat nanti cita2 anak2 bisa tercapai semua..

    Btw, salam kenal ya, ditunggu bertamunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... amin...
      karena mereka adalah penerus bangsa ini :)

      Terima kasih sudah berkunjung:)

      Delete
  2. Baguss..!
    Saya lagi kepo tentang Kelas Inspirasi nih Kak terutama yang di Kudus, dan kebetulan mampir ke tulisan kakak...kira-kira kapan ada lagi ya Kak? Masih bisa daftar kah? Mungkin kakak tahu infonya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang lagi ada oprec untuk panitia lokal KI Kudus... Hari inspirasi insyaalah digelar April 2017. Kepoin FB dan IG Kelas Inspirasi Kudus saja kak. Kalau ada info pasti di-update. Atau mampir ke kelasinspirasikudus.org

      Delete

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih