Swift

Menjemput Salsa - Percikan Majalah Gadis Edisi 07 - 2016


Menjemput Salsa

Oleh : Reyhan M Abdurrohman


“Lara nggak mau, Ma. Lara ada banyak tugas.” Lara cemberut, wajahnya ditekuk.

“Ayolah Lara, jemput Salsa sebentar saja. Mama sedang kerepotan bikin pesanan bolu kukus.” Sura mama terdengar di antara bising suara mixer.

Lara berbohong. Sedari tadi dia hanya online lewat laptop, pura-pura mengerjakan tugas di ruang keluarga, agar tak disuruh menjemput adiknya. 

“Tolong Mama, Lara. Nanti uang jajannya Mama tambah, deh.” Mama berusaha membujuk. 

Lara mendengus, “Iya deh, iya.” 

Kebetulan, Lara yang kelas tiga SMK, masuk sekolah siang. Sekolahnya sedang ada perbaikan gedung. Kelas tiga dan dua bergantian  jam belajarnya.

***

Gedung TK tempat Salsa belajar, tidak terlalu besar. Hanya ada dua ruang kelas dan satu kantor guru di bagian pojok. Beberapa orang tua yang menjemput anaknya terlihat duduk di bangku-bangku kayu berwarna cerah di depan ruang kelas. 

Lara duduk di bangku bersama ibu-ibu yang lain. Lara bete karena tidak ada teman ngobrol. Garing. Apalagi masih menunggu Salsa yang pulang lima belas menit lagi. Mama, sih, nyuruh cepet-cepet jemput.

Lara mendengus sebal. Dia hanya bisa diam. Sialnya, dia pun lupa membawa HP canggihnya yang bisa mengusir kebosanan.

Motor sport besar berwarna biru cerah masuk ke areal TK. Tak sengaja mata Lara mengetahuinya. Lara sontak terpaku menunggu seperti apa cowok yang menaikinya. Saat helmnya dibuka, rasanya waktu berjalan melambat seperti gerakan slowmotion di film. 

Wow. Jantung Lara langsung berdegup kencang saat melihat wajah cowok tersebut, yang menurutnya sebelas-duabelas dengan Billy Davidson. Lara melongo. Meleleh. Apalagi saat cowok itu berjalan ke arahnya. 

Degup jantungnya semakin cepat kala cowok tersebut duduk di sebelahnya yang kebetulan kosong. Lara jadi salah tingkah. Dia pun membetulkan posisi duduknya menjadi tegap. Poninya pun tak lupa dibetulkan.

“Jemput siapa? Adik?” 

Lara plonga-plongo, bingung siapa yang di tanya cowok itu, karena sedari tadi dia sibuk mengatur laju jantungnya.

“Ha? Siapa?” Wajah Lara seperti orang bingung.

“Kamu.”

“Ng, anu.” Lara, terbata, “Aku jemput adik.”

“Oh, sama.” Cowok itu tersenyum. Manis banget. “Kenalkan, aku Bryan.”

Nama yang cakep, Lara membatin. Tahu gitu kalau ada cowok secakep ini di TK. Aku mau deh jemput Salsa setiap hari. 

***

“Mama..., biar Lara yang jemput Salsa, ya.”

Lara langsung keluar menaiki motornya. Mama bingung dengan sikap aneh Lara. 

Bel pulang sekolah berbunyi. Tapi tanda-tanda kemunculan Bryan tak nampak. Salsa sudah ribut ingin cepat pulang. Di belakang Lara ada Marco yang celingak-celinguk cari seseorang, pasti Bryan.

Kata Bryan kemarin, Marco adalah adiknya. Lara pun bertanya pada Marco kenapa belum dijemput. Marco juga tidak tahu, dia malah gelisah takut tidak ada yang jemput.

Lara menawarkan diri mengantar Marco pulang. Dia punya tabiat lain. Rumahnya pun kebetulan searah. Itung-itung dapat bonus tahu rumahnya Bryan dan bisa bertemu si ganteng. Untung saja Marco mengiyakan. 

Sampai di rumah Marco, Lara diajak Mamanya Marco masuk sebentar. Namun matanya jelalatan mencari Bryan. 

“Selamet... Tolong ambilkan minum. Ada tamu!” teriak mamanya Marco ketika mereka sudah duduk di sofa.

“Iya, Nyah.” Ada sahutan suara dari dalam. Sepertinya Lara kenal suara itu.

Tak lama, mata Lara dibuat terbelalak tak percaya, saat melihat sosok orang yang dicarinya mengantar minuman. Ada lap kotak-kotak tergantung di bahu kanannya. Cowok itu pun tak kalah kagetnya melihat Lara. Wajahnya langsung menunduk.

“Terima kasih, ya, Selamet.”

“Itu namanya Selamet? Bukan Bryan, kakanya Marco?” Lara sigap bertanya.

Mamanya Marco malah tertawa. “Bryan dari mana, lho? Dia Selamet, anaknya Mbok Inah. Bantu-bantu di rumah ini juga.”

Alamakkk... Lara kena tipu tampang cowok cakep. Lara menepok jidatnya.




*) Percikan "Menjemput Salsa" dimuat di Majalah GADIS pada edisi 07, 27 Maret - 09 April 2016

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih