Swift

Jangan Pernah Minta Buku Gratis ke Penulis, Ini Alasannya

novel inspiratif indonesia terbaik
Siswa-siswi SMP 1 Kudus dengan Novel Mendayung Impian

Pasti jika kamu adalah seorang penulis yang sudah menerbitkan buku di penerbit mana pun kamu pasti akan ada saja yang minta buku gratis. Entah itu teman dekat, teman lama yang nggak pernah kelihatan dan mak bedunduk muncu setelah kamu gencar melakukan promo di media sosial. Jelas sekali mereka penasaran dengan hasil karyamu itu dan bisa jadi tak menyangka jika kamu bisa menerbitkan sebuah buku. Itu pun terjadi pada saya, yang lagi seneng-senengnya bukunya bisa terbit dan beredar di toko buku dan akan merasakan hangatnya duit royalti. 

Jelas kabar sembira tersebut saya sebar luaskan dalam bentuk promo gencar di media sosial seperti facebook dan twitter. Banyak dari rekan penulis dan teman lainnya membeli selamat atas terbitnya buku saya tersebut. Tapi, saya juga mendapatkan komentar seperti: 

“Bagi sampelnya dong. Masa sama teman sendiri pelit.”
Beh, teman jadi alasan minta gratisan. Padahal itu buku bisa terbit kan nggak ada campur tangannya elu

Atau komentar:

“Sebagai sahabat aku akan terus mendukungmu berkarya. Aku penasaran nih, boleh dong bagi bukunya.”
Duh ujung-ujungnya minta buku gratis lagi. Sekarang bawa-bawa dukungan lagi. Padahal harusnya jika “si—yang ngakunya—shabat” itu mendukungku harusnya membeli dong. Karena dengan memebli karya, berarti ikut menghagarinya dan secara langsung akan mematik semangat akan terus berkarya. 

Sebenarnya masih ada beberapa komentar bernada sejenis tersebut yang disampaikan secara langsung maupun tidak. Huh, aku geram sendiri. Padahal mereka nggak tahu kan bagaimana perjuangannya nulis tuh buku dan perjuangan untuk mencarikan “jodoh” buat buku tersebut. Belum juga royalti yang nggak seberapa. Ini malah sudah dimintai gratisan, padahal jatah bukti terbit dari penerbit tidak banyak dan sudah dialokasikan sebagai arsip dan bekal promosi dengan menggelar kuis atau give away.

Jujur saja seorang penulis—contohnya saya—itu rugi loh kalau ada orang yang minta buku terbit gratisan. Bisa dibilang benar-benar rugi. Meskipun yang minta tersebut dengan alasan apa pun dan dalih serta alibi bagaimanapun. Ada-ada aja deh alasan mereka pokoknya. Sebenarnya saya nggak ingin memojokkan siapa pun, soalnya ini hanya curhatan saya yang merasa rugi jika ada yang minta gratisan. Heuheu. Plis ngertiin kita, dong.

Sekarang kita bahas dari mana ruginya

Jika ada 1 orang yang minta gratisan, berarti kita harus bisa menjual beberapa buku baru bisa memberinya 1 eksemplar buku. Mari penjelasannya dibuat sederhana dengan contoh.

Misal Harga buku Rp 50.000

Royaltimu 10% dari harga jual yang berarti Rp 5.000 

Itupun belum dipotong dengan pajak sebesar 30% bagi yang tak punya NPWP dan 15% bagi yang punya NPWP, hitung sediri deh berapa kecil royalti yang didapat.

Nah jika harus membeli gratisan buku itu 1 eksemplar bisa diartikan kita harus menjual 10 eksemplar buku dulu, dong. Perhitungannya seperti ini:

Jumlah x harga buku
= 10 x 50.000
= 500.000

Royalti yang didapat
= 500.000 x 10%
= 50.000

Sedangkan harga 1 buku Rp 50.000

Maka hasil royalti 10 buku hanya untuk memberimu 1 buku.  

Kejam banget, nggak sih?

Sekarang dari mana dukungnya coba? Padahal itu tidak termasuk potongan pajak royalti itu. Benar-benar kejam!

Terus saya sebagai penulis juga nggak dapat apa-apa selain pujian yang entah itu tulus atau nggak. Kita juga nggak dapat timbal balik yang bisa dikatakan “dukungan” terhadap penulis dan buku tersebut.

Beda lagi kamu memang penduli dengan sadar dan sengaja menggelar sebuah kuis give away dengan hadiah buku. Tujuannya jelas untuk promosi. Selain itu penulis juga biasa memberikan buku gratis kepada seseorang untuk diresensi jelas ada timbal balik keuntungan yang didapat bukan?

Jujur saja saya sering banget merasa nggak enak kalau ada yang minta buku gratis kepada saya apalagi dengan dalih persahabatan atau keluarga bahkan fans. Aku sering nggak enak buat nolak, tapi aku harus nolak, atau bisa jadi menimbang-nimbang lagi. benar tidak itu buku bakal dibaca, dirawat dan berguna baginya. Jika malah menjadi suatu kesia-siaan buat apa?

Sekarang yang sudah baca tulisan curhat ini, mbok yo jangan minta buku gratis gitu ke penulis-penulis entah itu sahabat atau keluarga. Kalau mau ya beli. Kalau mau gratis ya ajak tuker sama buku karyamu sendiri atau tawarin jasa review dengan mempromosikan keunggulan review-mu.

Pasti tidak hanya saya saja penulis yang mengalami hal semacam itu. Dan beruntung bagi kamu yang berada di lingkungan orang yang benar-benar mendukungmu menjadi penulis dengan membeli buku karyamu.


You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih