Swift

Hanya Demi Sebuah “Kekinian” Moral Digadaikan | Esai

pegasus gengs
Kekinian (c) indzign.blogspot.com
Sebenarnya esai ini sudah cukup lama saya tulis, waktu itu sedang heboh banget soal ini dan saya pribadi merasa risih dengan keadaan ini. Berawal dari keresahan dari diri saya tersebut, maka saya tulis esai ini. Sebenarnya juga pernah dapat kabar akan dimuat di salah satu media, tapi nggak jadi. Nggak apa-apa kok #akurapopo meski sebenarnya agak nyesek, tapi kalaupun dimuat sekarang malah saya malu karena tema ini sudah tidak seheboh waktu saya nulis dan langsung dapat kabar tersebut. Yoweslah, cus posting di blog saja. Mungkin masih banyak kurangnya dan carut-marut banget, namanya juga belajar, silakan dikomentari...
***

“Pegasus Gengs Shalat di Zebra Cross Bikin Netizen Geram.” 
Salah satu judul sebuah artikel di media online tersebut langsung “dibagikan” oleh banyak netizen di media sosial. Ulah sekelompok anak  muda yang sedang berpose layaknya sedang menunaikan ibadah shalat di zebra cross yang membelakangi pengguna jalan yang sedang berhenti, mendapat banyak kecaman. Banyak yang berkomentar kalau ulah mereka sudah keterlaluan. Dan Pegasus Gengs harus segera dihentikan agar tidak berulah semakin parah. Namun mereka yang menamai diri sebagai Pegasus Gengs menyanggah bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk kebebasan berekspresi.
“Kami hanya menunjukkan kebebasan berekspresi, sebagai hiburan publik. Toh, tidak mengganggu orang lain.” Tutur salah satu pengguna instagram lewat caption pada foto tak lazim yang di-upload-nya.
Memang benar kalau berekspresi sangat diperlukan agar tidak menjadi tekanan pada diri seperti kata Ari Rahmat Riyadi, S.Pd. yang merupakan dosen Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang menyatakan bahkan ekspresi adalah suatu luapan emosional diri seseorang yang dibutuhkan sejak ia lahir. Namun hendaknya juga dapat dipikirkan ulang tentang konsep foto yang tidak menimbulkan reaksi negatif, apalagi kita adalah bangsa timur yang terkenal dengan norma-norma yang masih kental.

Bagi mereka, yang mereka sajikan adalah bentuk seni fotografi yang dapat menyalurkan kebebasan berekspresi mereka. Mungkin mereka mengamini apa yang dikatakan Ansel Adams yang menyatakan bahwa fotografi sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat, menawarkan berbagai persepsi, interpretasi dan eksekusi yang tak terbatas. Namun jangan salahkan jika banyak yang menginterpretasikan hasil fotografi tak lazim itu menjadi ke arah negatif bahkan kecaman.
Bagi kalian yang belum tahu apa itu Pegasus Gengs, mungkin malah sudah mengetahui terlebih dulu foto-foto mereka beredar di instagram atau media sosial lain seperti facebook atau twitter. Karena memang akhir-akhir ini dunia per-instagram-an sedang penuh dengan foto-foto yang tidak lazim seperti: sekelompok pria yang hanya mengenakan celana dalam bergaya di atas zebra cross saat lampu merah sedang menyala. Selain itu, juga ada sekelompok orang yang hanya mengenakan handuk dan peralatan mandi pergi ke mini market dan ber-selfie ria dengan pegawainya, juga foto pasangan yang saling tukar baju (yang cewek memakai pakaian cowoknya, begitu sebaliknya.). Mereka mengatasnamakan Pegasus Gens, dan dalam setiap foto yang diunggahnya di instagram atau media sosial lain selalu diberi hastag #PegasusGengs. 
Hastag ini pun semakin populer dan banyak digunakan, tentunya dengan kreasi sajian fotografi yang nyeleneh bahkan tidak lazim dipertontonkan, meskipun ada beberapa yang memang kreatif dan masih dalam taraf sopan. Bahkan sampai sekarang sudah tercatat lebih dari 23.200-an foto yang di-upload—jika Anda mencarinya di instagram dengan keyword tersebut. Jumlah tersebut bisa bertambah dan akan semakin pesat, karena aksi ini dianggap sebagai bentuk “kekinian” untuk menunjukkan eksistensi masa kini.
Kebanyakan dari mereka adalah kaum remaja yang masih gampang terpengaruh, kalau kata Pak Edi CEO-nya DIVA Press, itu mah Dedek-dedek Gemes. Mereka gampang sekali terprovokasi, apalagi jika ada teman mereka yang sudah melakukan hal tersebut kemudian menantangnya, seperti salah satu capiton, “Sahabat adalah orang yang mau gila-gilaan bareng. Jangan cuma komen, emangnya lo berani?”
Saya sendiri awal mengetahui Pegasus Gengs dari DP salah satu teman BBM saya yang waktu itu memasang foto sekelompok orang yang hanya mengenakan handuk berpose dengan latarbelakang SPBU. 
Saya bertanya, “Foto macam apa itu.” 
Dia malah bilang, “Ini lagi kekinian, emangnya lo berani?”
Akhirnya saya tertampar sendiri. Ya, saya tidak berani melakukan itu karena masih punya urat malu. Saya juga tak butuh pengakuan “kekinian”.
Miris sekali jika foto semacam ini dianggap sebagai simbol keberanian. Mungkin kalian masih ingat dengan kasus enam remaja yang melorotkan celananya hingga terlihat celana dalamnya dan berpose layaknya sedang goyang oplosannya Soimah dengan latar belakang Tugu Jogja pada pertengahan maret tahun lalu. Mereka langsung mendapat kecaman saat foto tersebut terunggah di media sosial dan cepat sekali menyebar. Kecaman paling banyak hadir dari warga Jogja yang merasa hal tersebut adalah simbol pelecehan terhadap Jogja, tak sedikit pula yang mengecam adalah para Dedek Gemes dengan “membagikan” foto atau artikel tersebut disertai komentar bernada kecaman.
Keadaan sekarang berbalik. Pegasus Gengs yang melakukan hal serupa, seperti berpose hanya mengenakan handuk atau celana dalam di depan monumen bersejarah di kotanya--seperti Tugu Muda Semarang—dan tempat lain malah mendapat sambutan hangat dan acungan jempol bagi sesama pelaku #PegasusGengs dan menjadikannya simbol kebebasan berekspresi, kekompakan, persahabatan dan kekinian. Memang ada yang mengecam, tapi para #PegasusGengs juga memiliki banyak masa dan bahkan semakin bertambah karena banyak pula Dedek Gemes yang ingin menambahkan “#kekinian dan #PegasusPengs” pada caption foto yang akan diunggah.
Memang dalam kamus John Kersey mengartikan bahwa kebebasan adalah sebagai kemerdekaan meninggalkan atau bebas meninggalkan yang artinya semua orang bebas untuk tidak melakukan atau melakukan suatu hal. Tapi kembali lagi pada norma dan moral yang terlihat semakin menurun atau urat malu yang sudah terlanjur putus. Selain itu, berfoto tak senonoh di tempat umum atau keramaian itu apa sih untungnya? Bukankah itu bisa membahayakan. Bagaimana jika saat berpose seperti piramidanya cheerleaders di tengah jalan tiba-tiba jatuh atau paling parah ditabrak motor. Bukannya dapat foto yang “kekinian” malah diantar pulang sama ambulans. 
Tidak sedikit pula dari mereka yang melakukan aski seperti itu adalah Dedek-dedek Gemes yang anggun berhijab. Mereka berpose “gila” mengenakan daster rombeng bersama cowok-cowok yang hanya mengenakan celana dalam saja, kelihhatan benar auratnya diumbar dan dilihat Dedek-dedek Gemes dalam foto. Lalu bagaimana dengan sekelompok siswa yang melakukan hal tersebut di ruang kelas, dan malah dicontoh oleh siswa lain di sekolah lain pula dengan menyertakan nama sekolahan. Duh, itu malah bikin malu sekolahanmu, Nak. Apakah guru-guru mereka telah gagal menanamkan nilai moral, adat-istiadat, norma dan etika terhadap penerus bangsa yang seharusnya bernai berekspresi pada hal yang benar-benar positif. 
Seharusnya kita menengok sebuah pendapat yang dikemukakan Aristoteles yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal budi yang memiliki tiga jiwa, yakni Anima Avegetatif (makan, tumbuh dan berkembang biak), Anima Sensitiva (jiwa untuk merasa) dan Anima Intelektiva (intelek). Anima Avegetatif ternyata dimiliki oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Jika dalam pelajaran biologi dulu tidak sering bolos pasti paham kalau tumbuhan dan hewan juga butuh makan untuk tumbuh dan berkembang biak. Sedangkan Anima Sesitiva juga dimiliki oleh mahluk lain seperti hewan yang punya jiwa dan dapat merasa. Namun yang ketiga, Anima Intelektiva tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lain, dan itu yang menjadi pembeda manusia dengan binatang, yakni manusia dapat berpikir, berkehendak dan punya kesadaran. Sudah jelas sekali bukan, perbedaan manusia dan mahkluk lain. Harusnya manusia menggunakan akal pikirnya untuk berpikir agar tidak disamakan dengan binatang.

Sebenarnya sudah banyak yang melakukan kecaman terhadap aksi “gila”  tersebut, seperti banyak beredar meme yang menolak hal tersebut dan menganggap hal tersebut adalah sebuah pembodohan, turunnya moral anak bangsa, dan persamaan mereka dengan orang gila di pinggir jalan. Banyak pula beredar hastag kecaman seperti #StopPegasusGengs, #SaveIndonesia, #BijakBerfoto, #SelamatkanAnakBangsa, #KamiCintaIndonesia, #HentikanPembodohan, #StopKealayan, #JanganRusakGenerasiBangsa, namun mereka tetap saja pura-pura dungu dan berpedoman pada kata-kata pembelaan yang mereka anggap benar seperti, hak asasi manusia, hiburan publik, kebebasan berekspresi, toh tidak mengganggu kalian. 
Ya, mereka sebenarnya tidak mengganggu, toh tidak merusak ruang publik, atau beruat kejahatan, jika terjadi kecelakaan juga kalian yang menanggung, tapi kami peduli dengan bangsa ini, kami peduli dengan kamu.

You Might Also Like

0 komentar