Swift

Tiga Rasa Cinta | Sebuah Cerpen

Ilustrasi Perempuan yang Sedih (c) pixabay.com

Tiga Rasa Cinta

Manis, Asam, Pahit

Oleh: Reyhan M Abdurrohman


Aku berbeda dengan yang lainnya. Rambutku pirang, mataku agak kebiruan, kulitku putih, dan tak punya ayah.
Tidak seperti teman-temanku yang lain; berkulit sawo matang, rambut legam, dan mereka punya ayah. Bahkan ibuku sekalipun berbeda fisiknya denganku. Dia seperti teman-temanku kebanyakan. Lantas siapa aku?
Sudah saatnya aku mengetahui siapa aku. Sekian lama hidup dalam rahasia yang ingin kugali bukan perkara mudah. Apalagi tentang siapa aku. Sedang ibuku diam saja. Dalam kebisuan yang tak bisa sedikit pun kubuka. Jelas aku tak mau memaksa ibu untuk menceritakan semuanya. Apalagi melihat kebiasaan anehnya.
Setiap hari, jam berapa pun itu, dia selalu menyempatkan waktu hanya untuk duduk termenung. Berpayung pohon besar yang rindang di kawasan Air Tiga Rasa, terduduk di atas akar besar yang menjalar keluar.
Aku hafal sekali ekspresinya saat itu. Sorot matanya kosong. Pikirannya entah ke mana. Seperti membayangkan sesuatu hal. Terkadang tersenyum sendiri, bahkan bisa jadi menitihkan air mata. Untuk memungkasi ritualnya, senandung asmaradhana dilantunkannya.
Usiaku sudah 22 tahun. Aku akan menuntut ilmu jauh ke negara seberang. Meninggalkan ibu dalam kesendirian. Ibu sudah mengijinkanku, tapi hatiku masih bergejolak, dapatkah aku meninggalkan ibu dalam jarak yang terpisah lautan?
Seperti biasa, ibu duduk di bawah pohon yang tak pernah kuketahui namanya. Sendiri dalam sunyi. Aku duduk di dekatnya. Aku harus tahu saat ini juga, tak bisa ditunda-tunda. Aku akan memaksanya, meski sebenarnya batinku tak tega.
“Bu, Ibu baik-baik saja? Apakah tak apa jika kutinggalkan belajar di luar negeri?” suaraku pelan memecah kesunyian.
Ibu tersenyum, lalu mengangguk. Tanpa kata.
“Tapi sebelumnya, aku harus tahu satu hal. Asal usulku, Bu. Tolong ceritakan.” Hatiku teriris, getir, karena kutahu itu menyakitkannya.
“Sebaiknya kamu tak perlu tahu apa pun, atau kamu akan membuat Ibu terluka jika menceritakannya.”
“Maksud Ibu? Ayolah, Bu...” rengekku.
“Kamu tega membuat Ibu mengingat masa itu? Sama saja merobek ulang kenangan yang sudah Ibu bungkus dengan linangan air mata.”
“Tapi Baim harus tahu, Bu. Siapa ayah Baim. Di mana dia sekarang? Jika sudah tiada, Ibu tidak pernah memberitahu Baim di mana pusaranya. Tolong Baim, Bu. Agar Baim bisa menjelaskan pada dunia siapa Baim sebenarnya.”
“Ibu tak tahu dia di mana...”
***

Manis

Bagai meneguk air paling manis. Pertemuan itu begitu membahagiakan. Legit. Meski bertemu dalam tragedi yang hampir merenggut nyawanya, jika aku terlambat menolongnya. Sungguh.
Waktu itu, aku lewat di kawasan Air Terjun Montel yang berada di Gunung Muria. Suasana riuh seketika. Ada teriakan minta tolong dalam Bahasa Inggris, terdengar dari sungai. Kedamaian alami tercemar seketika. Aku langsung berlari ke arah sumber suara teriakan tersebut.
Orang-orang memusatkan pandangan pada seorang bule dengan ransel besar dan kamera menggantung di lehernya, terseret arus di sungai.
“Ada bule kejebur, keseret arus...!”
Banyak yang berteriak, tapi tak ada satu pun yang terjun menolong. Mungkin mereka terlalu takut untuk menolong lantaran arus yang deras, atau memang tak peduli dengan lelaki asing itu. Dasar kalian.
Aku langsung melompat dari satu batu ke batu lain di tepi sungai, mencegat tubuh kuyub bule itu. Kubungkukkan sedikit tubuhku ke arah sungai, kurentangkan tangan kananku dan... dapat! Kupegangi kuat-kuat lengan bule tersebut sambil kupegangi erat batu sebagai pijakannku. Posisiku sudah jongkok, menahan badannya yang terus terseret. Berat. Aku tak kuat.
“Tolong.... Aku sudah tak kuat lagi!” teriakku berharap orang-orang yang menonton lekas membantu.
Aku berteriak lagi, sampai ada dua bapak-bapak tambun yang pakaiannya terlihat basah memegang tangan kiriku dan membantu menaikkan bule tersebut. Selamat.
Semua pengunjung menghela napas lega. Mereka yang tadinya terfokus ke arah kejadian dengan khawatir, langsung berbalik arah, menuju ke tempat semula; kolam tepat di bawah air terjun.
Sebetulnya sungai dari aliran air terjun tersebut tidak lebar. Cuma arusnya deras, karena berada pada kemiringan yang lumayan. Ada batu-batu besar di pinggir, dan beberapa di tengah. Tepat di bawah air terjun adalah kolam, cekungan bundar yang tercipta dari hujaman air terjun. Di sekelilingnya adalah batu-batu berukuran besar, air yang meluap dan keluar dari celah membentuk aliran sungai yang menyeret tubuh bule tak berdaya tadi.
“Terima kasih,” katanya dengan logat bulenya yang masih kental.
Aku mengangguk seraya tersenyum manis. Dia membalasnya. Masih jelas sekali tarikan napasnya yang masih belum normal. Ah, betapa manisnya senyum bibirnya. Tuhan... tampan sekali lelaki ini.
Dia terbatuk. Badannya gemetaran, mengigil. Dengan sigap kulepas jaket merah pemberian bapak waktu SMA dulu. Kusodorkan ke arahnya.
Dia langsung meraihnya seraya berterima kasih lagi. “Siapa namamu?” tanyanya sambil mengenakkan jaket tersebut.
“Sari.” Aku tertunduk malu. Tersipu, karena mata birunya menatapku lekat. Ah, aku tak pernah melihat secara langsung mata indah macam itu, kecuali di film luar dan gambar dari internet.
“Namaku Dave. Dari Australia, sudah tinggal di Bali selama setahun, hanya untuk belajar kesenian Bali. Terima kasih banyak sudah menolongku.”
Aku terkaget. Benarkah? Sungguh pukulan telak bagiku yang hanya bisa nembang saja, bahkan tari kretek yang dari daerahku saja tak bisa.
“Hebat, kamu orang luar malah mempelajari kesenian kami.” Aku tersenyum, kagum.
Dia membalasnya. Ah, senyuman manis itu lagi. Entah kenapa begitu memabukkan.
Dalam sepersekian detik, tak sengaja, mata kita berada pada satu garis lurus. Aku tenggelam dalam pandangan yang memabukkan. Sebelum pada akhirnya akan jatuh dosa yang lebih dalam, kusadarkan diriku.
Dave salah tingkah. Kelihatan lucu sekali di mataku.
“Oh ya, You know ‘Air Tiga Rasa’? Menurut artikel yang kubaca, letaknya di atas Air Terjun Montel.”
Aku segera mengangguk, terperanga. “Bahkan kamu juga mengetahui tempat itu?”
“Right, aku penasaran dengan rasanya. Aku sudah baca sejarahnya pula. Bisa kamu antarkan aku ke sana?”
“Dengan senang hati.”
Aku kemudian bangkit. Tentu Dave mengikutiku. Aku berjalan lebih dulu melintasi sungai. Melompat dari satu batu ke batu yang lain dengan hati-hati, karena licin.
Setelah melewati sungai tersebut, kami melanjutkan perjalanan dengan medan jalan setapak yang terjal dan licin. Berjalan sekitar seratus meter, akhirnya sampai pada jalan selebar dua meter yang dicor semen.
“Dari sini jalannya sudah bagus, dua kilometer lagi untuk sampai di Air Tiga Rasa.”
***

“Bule? Dave? Dia ayahku?” kesimpulan yang kutarik sebelum cerita itu berakhir mengagetkannya.
“Jika kau lebih tahu tentang ini, tidak akan Ibu ceritakan selanjutnya.”
Aku menciut. Aku sudah tak sabar mengetahui siapa kepunyaan darah bule yang mengalir dalam tubuhku ini. Aku bungkam, membiarkan ibu melanjutkan ceritanya.
***

Seratus meter lagi, sudah terlihat gapura seperti bangunan candi. Susunan bata merah, yang beberapa sisinya sudah berlumut. Di belakang gapura tersebut tumbuh pohon yang menjulang, rindang. Kawasan itu begitu adem dan dingin. Di kanan-kiri jalan ada warung-warung yang berjajar rapi.
Dave berhenti sejenak, “Ini tempatnya? Ternyata lebih indah dari yang di foto.” Dave terpana. Mata birunya berbinar. Seperti ada kemilau cahaya yang memancar.
Kami pun lanjut berjalan. Setelah melewati gapura tersebut, jelaslah apa saja yang berada di kawasan tersebut. Mushala kecil yang di sampingnya ada makam Syeh Hasan Sadzali, penemu sumber Air Tiga Rasa. Di depan mushala ada pohon besar yang rindang yang di belakangnya ada beberapa makam yang diberi atap.
Dave celingak-celinguk, “Terus di sebelah mana Air Tiga Rasanya?”
Oh iya, dia belum menemukan apa yang menjadi tujuannya. Aku menunjuk ke arah kiri. Di sana ada dinding sepinggang yang mengitari tiga kolam kecil, mirip seperti kubangan yang dalam. Dave terlihat sumringah, dia langsung berjalan agak cepat.
Ketiga sendang tersebut jaraknya sekitar satu meter. Tersedia gelas plastik di sekitaran sendang tersebut. Dave langsung mencoba air bening di sendang pertama, “Agak masam, nih.” Kemudian dia mencoba ke sendang kedua, lidahnya merasa agak pahit campur seperti soda, dan sendang ke tiga lidahnya merasakan seperti arak yang agak aneh.
“Pernah minum arak? Kok bisa menyimpulkan seperti itu?” tanyaku kaget. Padahal aku merasakan agak manis yang aneh pada sendang ke tiga.
“Pernah, hehe. Ini benar-benar keajaiban. Tiga sendang yang jaraknya berdekatan mempunyai rasa yang berbeda-beda. Benar-benar tiga rasa. Mengapa bisa rasa mereka tidak saling mempengaruhi?” Dia terlihat sumringah. “Menurut artikel ini punya masing-masing manfaat, ya? Air yang masam, untuk mengobati penyakit, yang seperti soda, bisa membuat makin percaya diri, yang seperti arak, bisa memperlancar rejeki?”
“Ha? kamu tahu soal mitos itu juga? Ah, semua itu kan kembali pada kehendak Tuhan.” Aku tersenyum. “Kamu tahu? Sumber itu tidak pernah kering dari awal ditemukan hingga sekarang.”
“Really? Indonesia benar-benar luar biasa. Tempat ini begitu menakjubkan. Damai, indah, dan ajaib. Air ini benar-benar keajaiban. Eh, aku sampai lupa bertanya, kamu orang mana? Kok mau mengantarkan aku sampai ke sini, padahal jaraknya tidak dekat?”
“Aku setiap hari ke sini, kok. Aku membantu Ibu di warung sebelah sana.” Aku menujuk warung yang berada di bawah, bercat hijau dengan papan nama “WM. Bu Mirah”.
“Oh begitu. Sebentar, aku mau foto-foto di sini.” Dave meraih kamera yang sedari tadi menggantung di lehernya. Ia kemudian mengutak-atiknya. Wajahnya mendadak pucat, lumayan lama, namun tak bisa. “Damn! Gara-gara terjebur tadi kameraku rusak. Bagaimana mengabadikan keindahan ini?”
“Kamu tetap bisa mengabadikannya di pikiran dan hati kamu, kan? Atau suatu saat nanti ke sini lagi, mengajak teman-temanmu. Oh ya, kamu mau langsung pulang?” tanyaku memastikan.
“Belum tahu, aku ingin beberapa hari di sini, tapi tak ada penginapan di atas sini, kan? mungkin nanti ke bawa cari hotel di Pesanggrahan.”
“Kalau mau, tidur saja di warung Ibu, biasanya Bapak juga tidur di situ,” tawarku.
“Apa tidak menakutkan?”
“Tak ada yang harus ditakuti selain Tuhan.”
***

Kutemui Dave lagi, masih di kawasan Air Tiga Rasa. Mendaki gunung hari ini serasa begitu ringan. Aku akan bertemu lelaki tampan itu. Meski aku pun tahu, ini hanya sebatas kagum. Bagaimana tidak? Jarang-jarang kan orang bule bisa sampai  di sini?
Dave sudah berada di mushala dengan bapak-bapak yang mengenakan peci hitam dan baju koko warna putih, Pak Sobri—juru kunci makam Syeh Sadzali.
“Assalamu’alaikum.”
Pak Sobri langsung membalasnya. Sedangkan Dave membalas dengan ucapan selamat pagi. Aku sudah tahu dia seorang bukan muslin. Dia mengaku sendiri saat kutawari untuk shalat dzuhur. Awalnya aku kaget. Seperti ada mendung yang tiba-tiba menggelayuti hatiku. Kuusir cepat mendung itu, daripada aku terlalu menghayal yang tak perlu.
Kemarin bapak-ibu sempat tidak setuju kalau Dave menginap di warung, namun aku berhasil meyakinkan mereka bawa Dave itu baik, dan tak boleh membeda-bedakan orang. Ah, masih saja pikiran kolot tentang perbedaan agama itu melekat.
“Kayaknya sudah tahu banyak hal tentang tempat ini, nih,” godaku padanya.
Dia gampang sekali akrab denganku. Orangnya asyik, aku merasa nyaman bisa ngobrol denganku. Kemarin kita saling bercerita tentang tempat tinggal masing-masing. Untung saja Bahasa Indonesianya sudah lancar benar, karena Bahasa Inggrisku memalukan.
“Eh iya, Sari. Pastinya kalau sudah berada pada suatu tempat menarik harus tahu asal usulnya, sejarah jelasnya. Syukurlah sudah tahu banyak dari Pak Sobri, tentang tempat ini, perjuangan Syeh Sadzali, juga islam.”
“Sudah makan? Yuk ke warung saja.”
Dave mengangguk. Kami berjalan ke warung. Nasi pecel dan segelas teh hangat menjadi menu sarapan kami, pagi itu.
“Sari, kamu baik banget, ya. Beruntung aku bertemu orang sebaik kamu di sini.”
“Sudah sepantasnya manusia saling tolong-menolong dan berbuat baik pada siapa pun, kan?”
Untuk yang kedua kalinya mata kami berada pada satu garis lurus. Kami tenggelam dalam pesona masing-masing yang memabukkan. Aku sangat bahagia hari itu, begitupun Dave. Ah, apakah ini hanya semu yang sementara?
“Eh anu,” Dave menyadarkan dirinya. Aku tersipu malu. “Sebelumnya aku sempat tak percaya bisa sampai di tempat terpencil ini. Berada pada kota terkecil di Jawa Tengah, jaraknya pun lumayan jauh dari pusat kota, belum lagi harus mendaki. Ah, tak terbayang bahagianya aku berhasil sampai di sini, meski tak ada sesi foto. Kamu benar, kenangan lebih baik disimpan di pikiran dan hati, akan lebih abadi.”
***

Asam

Sudah empat hari Dave berada di sini. Hari ini dia memutuskan untuk kembali ke Bali. Dia berjanji tiga bulan lagi akan ke sini. Menemuiku, juga mencari kenangan dan ketenangan seperti sekarang ini. Empat hari kami lalui bersama, seperti baru sejam saja kami bersama. Tak terasa. Memang setiap pertemuan, ada perpisahan. Seperti sekarang ini. Aku sudah merasakan senangnya punya teman berbagi. Tapi bagaimana lagi, Dave harus pergi.
Ada gumpalan mendung yang hadir di hatiku. Meski dia berjanji akan kembali tiga bulan lagi. Tapi bukankah janji bisa terhianati? Apalagi dia bukan orang sini. Ada apa ini? Ada apa dengan hatiku? Dia berhasil mengaduk-aduk batinku.
Dave sudah pergi. Tubuhnya lenyap di ujung jalan yang menurun. Aku benar-benar galau. Namun apa daya, tak akan bisa memaksa seseorang untuk menuruti keinginan kita bukan? Aku hanya bisa menaruh percaya, Dave akan kembali.
Aku seperti sudah buta pada janji pria bule itu. Seharusnya aku tak menaruh percaya seratus persen padanya, nyatanya aku kadung percaya. Dia akan datang. Namun kepercayaan jualah yang menyiksaku. Meneguk asam dari janji tak bernama.
Semangatku hilang untuk menyongsong matahari timur. Padahal kutahu dengan jelas, dia bukan siapa-siapaku. Sudah lewat dari tenggang waktu yang dijanjikan, dia tidak kelihatan. Dia berbohong. Melukai kepercayaan yang sudah sangat kuagungkan.
Namun hari itu matahari seakan membakar semangatku lagi. Suatu hari di Tiga Rasa, dia datang meski terlambat. Segera kutarik kata-kataku tentang kebusukannya. Nyatanya dia benar-benar di sini, datang menemuiku. Malah dia bilang ingin meminangku.
Aku terkaget. Apa ini? to the point sekali. Secepat inikah? Aku bahkan tak pernah berpikir Dave akan berkata itu padaku. Memang selama tiga bulan itu mereka masing-masing tak pernah lepas dari HP. Tapi ini terlalu dini, juga... ah, Dave berbeda keyakinan denganku. Aku tak bisa menerimanya. Tahukan bagaimana marahnya bapak-ibu jika tahu ini semua? Aku bingung.
Aku memilih tak menjawab. Aku bingung apa yang harus kukatakan. Ini sungguh rejeki, tapi tak bisa merengkuh rejeki itu. Bukankah dibalik rejeki adalah ujian. Ya, ini bagian dari ujian Tuhan. Aku tahu itu.
“Kenapa? Karena beda agama? Tenang Sari, aku mualaf.” Dave tersenyum, memperlihatkan senyum manis yang dulu. Senyuman yang pernah membuatku mabuk hingga terbayang dalam mimpi, dan itu terulang lagi. “Sebulan lalu, aku memutuskan masuk islam, di Bali,” lanjutnya mantap.
“Apa yang membuatmu masuk islam? Bukan karena ingin menikahiku, atau kamu percaya khasiat air itu, kan?”
“Ge-er kamu. Islam bukan hanya tentang pernikahan, melainkan kedamaian. Setelah berbincang dengan Pak Sobri, tentang perjuangan Syeh Sadzali menyebarkan agama islam, juga diksusi kecil tentang islam, aku pulang untuk merenungkan itu dan mencari tahu islam lebih dalam. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi mualaf. Tentanga air itu... aku hanya percaya pada Tuhanku, Allah.”
“Ini benar-benar kejutan, Dave.”
“Satu hal lagi, Namaku bukan lagi Dave, tapi Ibrahim. Lantas, maukah kamu menikah denganku?” tanya Dave lagi. Senyum tersungging di bibirnya. Senyum itu lagi.
Aku segera mengangguk. Pipiku memerah. Mimpi apa aku semalam. Ini benar-benar kejaiban di tempat yang ajaib pula.
“Sebulan lagi aku akan kembali, dengan mahar untuk menikahimu.”
***

Hari bahagia itu datang. Dave datang bersama Pak Mardi yang menuntunnya masuk islam dulu. Dave ijab qobul di rumahku, di Desa Colo. Syukuran kecil-kecilan digelar. Betapa bahagia dan beruntungnya aku. Manis itu kurasakan lagi di antara asam yang masih membekas. Mungkin aku adalah satu-satunya gadis di desa ini yang punya suami dari luar negeri.
Semenjak itu, Dave tinggal di rumahku. Setiap hari kami naik ke atas, berjualan di warung, kawasan Air Tiga Rasa. Berkat sumber Air Tiga Rasa, kami menemukan cinta.
***

Pahit

Ini tentang perpisahan. Ini yang menyebabkan ibu terus termenung dan menembangkan asmaradhana setiap hari di bawah pohon besar di kawasan Air Tiga Rasa. Aku, Baim yang akan menceritakannya, bukan ibu.
Mereka terpisah karena orangtua Dave. Dave mengajaknya ke Australia, bertemu dengan orangtuanya. Namun kemarahan menyambut mereka. Tak ada yang setuju Dave menjadi mualaf dan menikah dengan ibu. Dave dikurung dan ibu dipulangkan ke Indonesia. Dengan paksa. Dave terjerat, ibu terusir.
Sampai sekarang ibu tak pernah bertemu dan mengetahui kabar Dave lagi. Aku sangat mengingat bagian ini. Karena waktu ibu menceritakannya padaku, lelehan air mata tak hentinya mengalir deras di pipinya.
Berkat beasiswa S2 ke Australia, sekarang aku di sini. Menemukan Dave, tidur dengan damai terpendam tanah. Aku hanya bisa berdoa di depan nisan berbentuk salib bertuliskan Dave J. Brow. Ya, dia sudah tenang, Bu. Meski aku pun tak tahu cara macam apa yang digunakan keluarganya untuk mengantarnya ke peristirahatan terakhir ini. Semoga kamu tetap menjadi islam hingga tiada, aku hanya bisa berdoa.
Tak bisa kusalahkan siapa-siapa. Nyatanya Dave memang terhimpit keadaan. Ibu maafkan aku tak bisa bilang ini padamu. Aku tak mau kamu terluka untuk kesekian kalinya. Kukatakan saja nanti jika pulang, “Aku tak menemukan ayah.”

You Might Also Like

0 komentar