Swift

Kirab Rebo Wekasan, Tradisi Religi yang Tetap Dilestarikan Warga Jepang Kudus

Rebo Wekasan adalah
Salah Satu Kelompok Peserta Kirab dari Keluarga Besar NU 8/12
Dok. penulis

Indonesia kaya akan budaya. Tradisi-tradisi unik dimiliki daerah-daerah di Indonesia. Dewasa ini, sedang gencar pula kegiatan pelestarian tradisi leluhur tersebut. Begitu pula yang dilakukan warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ini. Mereka menggelar ritual Kirab Rebo Wekasan 2015. Kirab ini dilaksanakan pada Selasa, 8 Desember 2015 sekitar jam 14.00 WIB. Kirab ini diikuti seluruh kelompok dari berbagai lapisan masyarakat di Kecamatan Mejobo, khususnya desa Jepang. Peserta kirab berjalan dari Lapangan Gelanggang Mejobo sampai di Masjid Wali Jami' Al-Makmur, Jepang. Adapun kegiatan lanjutan dari kirab Rebo Wekasan adalah pengambilan dan pembagian air Salamun dari Masjid Wali tersebut. Air salamun dipercaya memiliki karomah dan berguna untuk tolak balak. Maka dari itu warga rela antri untuk mendapatkan air tersebut.
Kirab Rebo Wekasan jepang Kudus
Gentong Berisi Air Salamun yang Diarak dalam Kirab
dok. Penulis

Pengertian Rebo Wekasan


Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan atau dalam bahasa Indonesia adalah Rabu Terakhir adalah hari rabu terakhir di bulan Shafar. 
Adapun dalam kitab “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus--yang pernah mengajar di Makkatul Mukaramah--menerangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi), bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 320.000 macam malapetaka dan bencana. Bagi orang yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala pada hari tersebut sebanyak 4 raka’at satu kali salam atau 2 kali salam dan pada setiap raka’at setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kautsar 17 kali, surat Al Ikhlas 5 kali, surat Al Falaq 2 kali dan surat An Nas 1 kali. Setelah selesai shalat dilanjutkan membaca surah yasin 1x dan membaca do’a tolak bala (doa rebo wekasan), maka orang tersebut terbebas dari semua malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat tersebut. Maka dari itu hari rabu terakhir di bulan Shafar dianggap sebagai hari terberat sepanjang tahun.
Budaya Rebo Wekasan Kudus
Penampilan Marching Band dalam Kirab
dok. Penulis


Sejarah Kirab Rebo Wekasan


Sebelumnya peringatan Rebo Wekasan hanya sebatas shalat sunnah, doa bersama dan pengambilan air salamun saja. Namun semakin ke sini timbul gagasan dari para tetua dan ulama setempat untuk menggelar acara pengajian sebagai sarana dakwah atau kegiatan lain yang bermanfaat. Setelah beberapa tahun, tradisi tersebut dilirik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menganggap tradisi ini harus dikemas dengan apik karena berpotensi sebagai pariwisata budaya. Maka pada tahun 2009 dikemaslah kegiatan ini dengan perencanaan matang. Kurang lebih satu minggu sebelum kirab, kawasan sekitar masjid Wali pun diramaikan pada pedagang pasar malam, karena setiap malamnya di lokasi tersebut digelar prtunjukan budaya brnapaskan religi. Ini mendambah daya tarik wisata bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya.



Referensi:
aminsetiawanfa.blogspot.co.id/2012/01/mengupas-arti-rebo-wekasan-hari-rabo.html
ichda6896.blogspot.co.id/2014/12/liputan-rebo-wekasan.html

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih