Swift

Review Film Surga yang Tak Dirindukan (2015)

Poster Surga yang Tak Dirindukan via http://www.elpasfm.com/
Genre : Drama
Sutradara : Kuntz Agus
Produser : Manoj punjabi
Penulis : Alim Sudio
Produksi : MD pictures
Pemain Film :
Fedi Nuril
Laudya Chynthia Bella
Raline Shah 
Hj. R.a.y
Kemal palevi
Landung Simatupang
Sandrina Michelle
Zaskia Adya Mecca
Negara : Indonesia
Film Rilis : Juli 2015
Durasi : 90 Menit


Derai air mata membuka film ini. Adalah Pras (Fedi Nuril) yang harus menyaksikan ibunya bunuh diri tertabrak mobil di depan matanya. Dia tumbuh yatim piatu dan tak ingin orang lain menjalani kehidupan sama sepertinya.
***
Berkat menolong seorang anak kecil yang terjatuh dari sepeda, mengantarkan Pras pada cinta pada pandangan pertamanya, Arini (Laudya Cintya Bella). Saat itu Pras dan kedua temannya, Amran (Kemal Pahlevi) dan Hartono (Tanta Ginting) sedang survey lokasi untuk riset skripsinya.
Singkat cerita, mereka berdua melangsungkan pernikahan. Dan putri kecil bernama Nadia mewarnai rumah tangga mereka. Keluarga kecil itu bahagia dan bisa dibilang keluarga sempurna.
Arini berusaha tetap percaya pada Pras, ketika sahabatnya, Lia (Vita Mariana) bercerita soal suaminya yang ketahuan selingkuh--meski belumdiketahui kebenarannya. Pras pun sudah berjanji pada Ayah Arini, tak akan menyakiti hati Arini.
Saat diperjalanan menuju proyek jembatan Kulonprogo, Pras dikejutkan oleh kecelakaan mobil tunggal yang jatuh ke jurang. Apalagi korbannya adalah seorang wanita (Meirose yang diperankan Raline Shah) yang mengenakan gaun pengantin. Pras langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Lagi-lagi Pras dikejutkan oleh pertanyaan dokter yang meminta ijin pras untuk melakukan tindakan operasi caesar pada wanita tersebut. Pras mengetahui semua kisah hidup Meirose lewat rekaman video yang dibuat Meirose di HP-nya. Yah, kisahnya hampir mirip dengannya, dan Pras tak ingin kisahnya juga terjadi pada anak laki-laki yang dilahirkan Meirose, Akbar Muhammad.
Pras dikejutkan oleh tindakan Meirose yang hampir bunuh diri loncat dari atap rumah sakit.  Pras kebingungan setengah mati saat Meirose loncat dan dia berhasil menangkap lengannya. Meirose depresi karena pria yang berjanji menikahinya menghilang. Pras pun dengan spontan berjanji akan menikahi Meirose segera, itu demi menyelamatkan Meirose dan yang pasti agar Akbar mempunyai seorang ibu. (Sebenarnya hampir tak masuk akal sih, karena menikah bukan perkara sederhana, tapi okelah bisa diterima karena keadaannya benar-benar sulit)
Pernikahan pun dilaksanakan di rumah sakit. Entah kenapa saya pribadi merasa dejavu dengan adegan ini. Hampir sama dengan Film Ayat-ayat cinta yang dibintangi Fedi Nuril juga, yang saat itu juga melangsungkan pernikahan dengan Maria di rumah sakit.
Tentu saja pernikahan Pras dan Meirose tak diketahui Arini. Amran dan Hartono datang ke pernikahan tersebut. Proyek mereka pun keteteran.
Arini meminta Pras untuk segera ke rumah orangtuanya. Ternyata ayah Arini meninggal. Arini dan Pras pun terkejut saat mendapati istri dan anak ayah Arini juga datang melayat—Ayah Arini poligami, dan merahasiakannya pada Arini. Pras semakin terpojok secara tidak langsung. Dia tak berani terus terang pada Arini sekarang dan tetap merahasiakannya.
Pada akhirnya Arini mengetahui itu semua. Arini sakit hati. Surga yang dibangun dengan susah payah sudah tak dirindukannya. Semua hancur, apa pun alasan Pras dan Meirose menikah.
“Apakah wanita diciptakan untuk selalu ikhlas?” kata Arini pada ibunya.
Konflik pekerjaan Pras juga membuat hidup Pras semakin rumit. Banyak konflik kecil yang mendukung benang merah konflik dalam film ini. Balutan dongen yang digemari Arini dan menurun pada Nadia juga menjadikan kisah poligami ini berbeda dengan kisah yang lain. Arini mengibaratkan kehidupannya adalah dongeng madani yang sedari dulu sering dia dongengkan.
Kehadiran Amran  juga menyemarakkan film ini. Amran yang selenyekan cukup membuat penonton sedikit tertawa di tengah-tengah keseriusan.
Namun masih ada sesuatu yang kurang 'wah' dari film ini, meski sudah sukses membuat banyak penonton meneteskan air mata dari awal hingga akhir. Kemistry Pras dan Arini terasa kurang, namun lebih terasa saat adegan Pras dengan Meirose. Akting Arini saat sakit hati mengetahui Pras telah menikah lagi kurang oke. Saya malah dibikin terharu saat Meirose pergi.
Saya memberikan tiga bintang dari lima bintang untuk film yang diangkat dari nove berjudul serupa karangan Asma Nadia ini.

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih