Swift

Kyai Haji Rahmat | Sebuah Cerpen

Hanya Ilustrasi :D

Kyai Haji Rahmat
Oleh: Reyhan M Abdurrohman

Brakk!
“Salah! Ulangi lagi!”
Brakk!
“Salah lagi!”
Brakk!
“Masih salah. Sana tanyakan temanmu, dan kembali besok!”
***
Suaranya lantang dan keras. Menakutkan. Aku bergindik ngeri, ketika ia membuka suaranya dengan keras. Aku gemetaran tak karuan. Tangannya yang sering menggebrak meja, selalu mengagetkan. Membuat jantung rasanya mau copot.
Harus siaga. Menyiapkan mental yang kuat saat menghadapinya—mengaji membaca Al-Qur’an dengan dia. Dialah Kyai Haji Rahmat. Pria berperawakan kecil dan kurus, tapi ketegasanya tak dapat diragukan lagi. Masyarakat segan padanya, segan karena ketegasannya. Ilmu agamanya tak dapat diragukan lagi.
Meskipun terkenal galak, masyarakat tetap memasrahkan anak-anaknya untuk belajar ngaji pada Kyai Haji Rahmat. Begitu juga orangtuaku.
“Aku malas mengaji pada Kyai Haji, Bu.”
“Lha terus mau jadi apa? Kyai yang mengajar ngaji di sini hanya beliau.”
“Tapi, Bu ....”
Ibu memotong kalimatku, “Sudah cepat sana berangkat!” suruhnya tak bisa kutolak.
Tak pandang bulu, siapa pun itu, saat sudah di hadapannya sama saja. Bahkan anak-anaknya sekalipun. Tak ada anak orang kaya atau miskin. Jika dia menemukan kesalahan pada santrinya, pasti dia akan langsung memarahinya habis-habisan. Tidak hanya satu hari saja, hari-hari berikutnya akan tetap menjadi bahan sindiran.
Siapa pun yang akan ngaji baca Al-Qur’an dengannya, harus siap mental. Karena dia tiba-tiba akan menghentikanmu dengan bentakan keras disertai gebrakan meja. Mungkin kamu akan terkeget-keget jika tak siap, jantungmu akan berdegup kencang. Saat sudah seperti itu, jangan sampai menatap matanya, yang hitam membesar dan tajam itu, karena kamu akan langsung ketakutan. Membeku.
***
Sekarang santrinya sedikit. Dan sedikit pula yang mampu menghatamkan bacaan Al-Qur’an-nya. Kebanyakan dari mereka memilih keluar karena tak mau lagi ngaji pada Kyai Haji Rahmat yang galak itu. Begitu juga diriku. Tapi aku belum keluar. Ibu bersikeras mencegahku, padahal aku sudah berusaha terus kuat menahan amukan, dan cara mengajarnya yang keras itu. Aku benar-bear tak suka.
Setiap hendak berangkat mengaji di rumahnya, pasti rasa takut bergelantungan di hatiku. Jantungku berpacu kencang sekali. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Sampai di sana, rasa itu tetap ada. Hingga dia memulainya dan kami mengantri giliran membaca Qur’an di hadapannya, satu per satu.
Tempat ngajinya lesehan, di lantai dua rumahnya. Ada sekat gorden panjang sebagai pemisah santri laki-laki dan perempuan. Kyai Haji berada di depan. Di depannya ada bangku pendek untuk meletakkan Al-Qur’an saat ngaji.
Ada dua temanku mengobrol sendiri sambil menunggu giliran membaca Al-Qur’an ke depannya. Tiba-tiba Kyai Haji Rahmat menatap dua temanku tersebut. Kyai memicingkan matanya. Seperti ada amarah yang menggebu memuncak di matanya.
Brakk!
Bahuku berguncang, begitupun santri yang lain.
“Diam!”
Soantak suasana menjadi hening. Tak ada suara sekecil apa pun. Semua diam. Menunduk menatap lantai. Wajah dua temanku itu pucat seketika. Kutahu pasti jantungnya bergetar hebat. Kulihat mata mereka seakan berbicara memohon ampun. Ketakutan. Tapi Kyai Haji Rahmat tak semudah itu memberi ampun. Bukan sulit memberi maaf, tapi dia ingin memberi efek jera terlebih dahulu.
“Ke sini kalian berdua!”
Kedua temanku itu tersentak. Mungkin jantungnya berhetar hebat. Lihat saja tangannya gemetaran, tak terkontrol.
Kulihat mata kedua temanku kembali berbicara, mengisyaratkan memohon ampun, dan ingin cepat pergi saja dari tempat itu.
“Ke sini! Sekarang!” benatknya lagi, karena kedua temanku itu tak kunjung beranjak dari tempat duduknya.
Tak bisa menolak lagi. Kabur pun sudah tak bisa. Mereka terpaksa menghadap ke Kyai Haji Rahmat yang sudah meluap marahnya, siap memberi sangsi.
“Bisa diam tidak?! Tidak lihat ada orang baca Qur’an? Emang ke sini untuk apa? Ngobrol? Kalau ngobrol sana di pos ronda saja kalian!” Kayi Haji Rahmat langsung menjewer telinga mereka berdua.
“Aduh sakit.” Mereka mengaduh kompak.
“Saya bukan menjewer kalian. Saya hanya menjewer setan yang menempel di diri kalian, agar kalian dapat diam dan belajar, agar tak ada yang salah nanti baca Qur’an-nya. Mengerti!” bentak Kyai Haji tak punya rasa kasihan.
Kedua temanku tersebut tertunduk. Mereka tak berani sedetik pun menatap mata Kyai. Mereka kembali ke tempatnya, dan kembali menunggu giliran mengaji di hadapan Kyai Haji Rahmat. Aku tahu, mereka sungguh ingin lari.
Dan giliranku mengaji, membaca Qur’an di hadapannya. Jantungku berpacu semakin kencang, rasa takut memuncak, dan aku sudah harus siap lahir batin dengan apa pun yang akan terjadi nanti.
Aku mulai membaca Qur’an. Tak ada yang salah, aku mulai lancar, tapi tiba-tiba ...
Brakk!
Aku tercekat. Bahuku bergerak refleks karena kaget. Tanganku bergetar. Aku seketika berhenti membaca. Mana yang salah? Mana? kataku dalam hati. Konsentrasiku buyar. Awalnya aku yakin tak ada yang salah.
Kuulangi langi kata terakhir bacaan Qur’anku.
Brakk!
Aku tersentak lagi. Lagi-lagi bahuku bergerak refleks. Aku berhenti mengaji. Sedetik kemudian melanjutkan dengan mengulangi kata terakhir tadi. Aku berharap kali ini benar, karena menurutku tidak ada yang salah dengan apa yang kubaca.
Brakkk!
Aku tersentak untuk ketiga kalinya. Aku behenti membaca seketika. Dadaku begemuruh, jantungku begetar hebat. Peluh menetes dari keningku, membasahi Qur’an yang masih terbuka di meja.
“Salah!” Tanpa dikomando, tangannya langsung memegang telingaku.
Gimana ini? Apa yang salah. Kayaknya sudah benar semua. Ya Allah bagaimana ini, kataku dalam hati.
Sedetik kemudian kuulangi membacanya lagi, karena jewerannya semakin kencang. Telingaku sakit.
Brakk!
“Bacaan apa ini?!” Jewerannya semakin kencang. Ditariknya sedikit telingaku. Dalam hati aku mengaduh kesakitan. Tapi tak bisa berkata apa pun karena aku semakin takut.
Aduh, sakit... pikiranku blank. Semua ilmu tajwid yang sudah kukuasai hilang begitu saja. Seperti diterbangkan kipas angin yang berputar di langit-lagit. Aku diam, memang aku tak tahu jawabannya. Semua gelap, pikiranku kosong. Sel-sel di otakku berhamburan tak tentu arah.
Brak!
“Gitu saja tidak bisa! Sudah sana tanyakan temanmu! Kembali lagi besok, masih dengan bacaan yang ini!” Tangannya kembali menjewer telingaku. Kali ini lebih sakit dari yang tadi.
Setelah dirasa cukup puas menjewer telingaku, dia melepaskannya. Aku lemas. Aku berbalik dan menemui teman-temanku yang lain. Kulihat wajah mereka sama sepertiku, pucat. Gemuruh dadanya sangat kentara. Sama sepertiku. Kuyakin mereka juga ketakutan.
Sekarang giliran temanku yang lain, dan terus bergantian.
Brakk!
Kudengar lagi suara khas yang keras mengagetkan itu. Dan aku semakin takut, kuputusakan pulang saja malam itu dengan tanpa jawaban dari kesalahanku tadi. Kutanya teman-temanku, tak ada yang tahu, mereka sibuk pada apa yang akan mereka baca nanti. Sudahlah, kupikirkan nanti di rumah.
Telingaku terasa panas. Begitu juga hatiku yang menyimpan amarah padanya. Ah, apakah dia benar-benar seorang Kyai?
Aku tak sanggup, ini sudah kesekian kalinya. Sudah cukup, aku akan keluar.
***
Ya. Dia sangat teliti dalam mengajar—menyimak kami. Bacaan kami harus sempurna. Dengan pedoman imlu tajwid yang sudah diajarkannya. Salah sedikit pun akan menjadi tanggung jawabnya nanti di akhirat. Dan dia tak menginginkan itu.
Aku tahu itu. Tapi apakah harus dengan bentakan atau apalah itu, yang membuat mental santri down.
“Aku hanya ingin mengasah mental kalian. Itu biar kalian mau belajar dan teliti. Ini menyangkut urusan akhirat. Salah membaca sedikit saja, akan salah artinya nanti. Dan itu dosa. Kalian paham?!”
“Paham...,” jawab kami pelan bersama-sama.
***
Malam berikutnya. Aku ngambek, tak mau mengaji. Tapi, aku dipaksa ibu. Tetap aku bersikeras tak mau pergi.
“Ibu nggak tau apa yang kurasakan. Aku takut, Bu. Mulai saat ini, aku keluar!”
“Mau jadi apa kau? Kau belum khatam Qur’an. Masih kecil pula.” Ibu ngomel-ngomel.
“Umur 18 tahun masih ibu anggap kecil? Kapan gedenya aku? Terserah, aku tetap tidak mau.”
“Hah, terserah kamu. Yang penting Ibu sudah memaksamu, tanggung saja sendiri dosamu,” Ibu menghela nafas, “yang penting Ibu sudah menginatkan, sudah selesai kewajiban Ibu.”
Aku termenung. Dosa? Ya, aku masih berkewajiban mengaji. Aku takut dosa, tapi aku juga tak bisa terus-terusan begini.
“Baiklah, Bu. Biarkan aku mengaji sendiri di rumah.”
“Terserah apa katamu. Tidak ada yang menanggung dan memebenarkanmu dalam mengaji jika tidak ada gurunya. Itu sama saja kamu melakukan dosa.”
Aku menelan ludah, kemudian termenung. Bagaimana ini?
***
Dua minggu sudah aku tak mengaji. Ya, aku mengaji sendiri di rumah selepas shalat magrib. Lebih cepat daripada diajar Kyai Haji, yang hanya satu atau dua ayat sehari, itu pun jika sempurnya, jika tidak, jangan harap akan dipindah ke ayat selanjutnya. Kalian pasti sudah tahu konsekuensinya.
Kudengar Kyai Haji Rahmat sakit dan sudah satu minggu dirawat di rumah sakit. Aku dipaksa Ibuku untuk ikut teman-temanku menjenguknya. Aku menolaknya, aku tak ingin bertemu Kyai Haji Rahmat lagi. Tapi Ibu tetap memaksaku. Terpaksa aku ikut menjenguk Kyai Haji Rahmat.
Aku meneteskan mata. Kulihat Kyai Haji Rahmat terbaring tak berdaya. Semakin kurus. Tulang-tuangnya terlihat jelas sekali hanya terbungkus kulit saja. Wajahnya pucat, dan berkerut. Padahal umurnya tak bisa dikatakan tua. Padahal sudah seminggu dirawat, tapi belum membaik juga.
Kudengar ada yang berbisik di telingaku, Kyai Rahmat sakit, tak ada yang mengajari ngaji. Bagus bukan? Kau terbebas dari perintah ibumu, juga Kyai galak itu.
Iya ya, jawabku dalam hati.
***
Setelah dua minggu dirawat, akhirnya Kyai Haji Rahmat membaik dan dibawa pulang untuk rawat jalan saja. Dan tak lama, dia kembali mengajar lagi, meski kondisinya masih lemah.
“Sana ngaji! Kau sudah ditanyakan Kyai Haji Rahmat lewat istrinya pada Ibu. Ibu malu tau.”
“Tapi Bu ....”
Ibu meotong kalimatku, “Tak ada tapi-tapian. Sana! Pasti dia sudah berubah, cara ngajarnya pun juga akan berubah.”
Dengan sangat amat terpaksa aku menuruti perintah ibu. Aku kembali mengaji. Kuharap benar kata ibu. Kyai Haji sudah sadar dan berubah cara ngajarnya.
Ibu salah. Kyai tetap galak seperti dulu, tak ada bedanya, malah lebih parah. Aku dibentak-betak karena lama tak berangkat ngaji. Aku disindir terus. Aku terpaksa harus menerima bentakan yang menghujam tajam itu.
Dadaku seakan sakit luar biasa. Aku malu pada teman-teman yang lain, aku takut. Aku terus menunduk, tak benari menatap siapa pun, hanya lantai. Dadaku bergemuruh. Amarahku seakan minta untuk diluapkan saat itu juga. Tapi aku takut.
Selama ini tak ada yang berani membantahnya secara langsung. Ya, bantahan mereka biasanya dengan cara keluar, tidak berangkat mengaji lagi, tanpa pamit. Seharusnya itu bisa membuat Kyai Haji sadar, tapi tidak. Kyai Haji malah menganggap mereka tak pemalas, bodoh, karena tak mau mengaji.
Aku kembali mengadu pada ibu dan bilang kalau aku benar-benar akan keluar. Ibu tetap pada pendiriannya. Tapi aku juga tetap akan berusaha agar tidak dipaksa untuk mengaji pada Kyai Haji Rahmat.
Ba’dal magrib aku mencari kesibukan, entah itu mengerjakan PR, atau pergi ke rumah teman dengan alasan belajar kelompok. Untung ibu percaya begitu saja, dan tak mengetahui kalau aku sengaja menghindari pengajian Kyai Haji Rahmat. Aku seperti bebas, meski setiap hari harus berbohong. Masih ada rasa yang bercokol di hatiku, di antara rasa bebasku. Aku berbohong.
Lama-kelamaan, ibu seperti mengetahui kebohonganku.
“Kamu kapan mau ngaji? Masak ada PR terus? Dikerjakan sore kan bisa?”
“Tapi Bu, aku sibuk banget,” kilahku.
Wajah Ibu berubah. “Alasan saja kau.”
“Beneran, Bu,” rengekku mencoba meyakinkan Ibu.
Ibu menghela nafas. “Kamu tak tahu, kan, kalau Kyai Haji Rahmat masuk rumah sakit lagi?”
Aku tersentak. “Hah? Sakit lagi?” Asik, sekarang aku tak perlu bohong lagi.
“Iya, kapan kamu mau jenguk?”
Tiba-tiba ada yang berbisik ke telingaku, Nggak usah jenguk, buat apa? harusnya kau pesta, kan kau gak usah berbohong pada ibumu lagi.
Oh iya ya,kataku dalam hati.
“Ah, dulu kan sudah pernah jenguk, Bu.”
“Tapi ini sakit lagi, apa kamu tak kasihan? Apa kamu tak ingin menjenguk lagi?”
“Tidak, Bu, aku terlalu sibuk, mau semesteran. Bagimana kalau nilaiku turun? Pasti nanti Ibu marah, kan?”
Ibu menggeleng. Ibu sepertinya sudah putus asa untuk menyuruhku menjenguk Kyai Haji. Ah, biarkan sajalah.
***
Innalillahi wainnailaihinroji’un ....”
Deg. Hatiku  tersentak mendengar berita kematian yang disiarkan di masjid, saat aku baru selesai shalat subuh. Aku tak pernah sekaget ini saat mendengar berita kematian seperti itu. Kupasang kupingku baik-baik. Kusimak setiap perkataan pembawa berita kematian tersebut.
“Nama, Kyai Haji Rahmat ....”
Deg. Aku tercekat. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. “Hah? Kyai Haji Rahmat?”
Tubuhku lemas seketika. Tak kusangka dia akan pergi secepat ini. padahal usinya tak terlalu tua.
Innalillah ....”
Ada yang berbisik, Asik bukan? tidak ada ngaji lagi, tidak ada yang marah-marah lagi. Nggak usah berduka.
“Diam kau setan!” Aku meneteskan air mata. Meski masih terbesit rasa kesalku atas kelakuan Kyai, tapi rasa menyesal menguasai diriku.
Aku mengutuk diriku sendiri. Entah kenapa aku merasa sangat menyesal tidak menjengukknya kemarin ketika Ibu  menyuruhku.
Aku lemas, menatap Qur’an yang tergeletak di atas meja belajarku, tak pernah kusentuh. Ingatanku terbang ke masa lampau...
Brak!
“Salah!”
Kyai Haji Rahmat menjewer telingat santri itu. Santri itu mengulangi  bacaanya lagi.
Brak!
“Salah lagi, ini bacaan apa?!” tanyanya dengan nada membentak.
Santri itu diam sejenak, kemudian membaca lagi.
Brak!
“Salah, masak gitu saja tidak bisa. Memalukan. Sudah sana tanyakan temanmu.”
Santri itu berbalik dan kembali ke tempatnya, kemudian menanyakan padaku.
“Rid, ini bacaan apa?”
Aku menggeleng. “Gus... gus. Bapakmu memang tak pandang bulu. Kamu saja sampai dibentak terus seperti itu.”
Ya, Gus Rohim adalah salah satu orang yang sangat sedih sekarang. Aku berteman baik dengannya. Aku malu, karena tak bisa menemaninya di saat kesedihan melandanya.
Aku yakin masyarakat akan berduka. Dia satu-satunya Kyai yang paling disegani. Kampungku kehilangan orang pintar, guru ngaji dan imam masjid.
Acara pemakaman dilakukan jam dua siang. Aku tak bisa ikut mengatar beliau ke peristirahatan terakhir, karena tak mungkin aku bolos tryout hari ini. Sungguh aku merasa tidak tahu diri.
***
Sudah dua minggu kepergiannya. Sudah ada guru ngaji yang baru. Memang berbeda, tidak galak, tapi rasanya berbeda. Kyai Haji Rahmat tetap tak tergantikan. Ketegasanya, galaknya, itu yang aku rindu. Kuyakin sikapnya seperti itu hanya untuk membentuk santrinya menjadi pribadi yang kuat mentalnya, juga tegas, seperti dirinya.
Kyai Haji Rahmat seperti masih ada di sini. Menemani memperjuangkan agama ilahi. Ternyata selama ini dia menyipan rasa sakitnya sendiri, memerangi livernya yang mebengkak demi santrinya dan umat. Hingga menjelang kepergiannya dia masih menitipkan masjid dan semangat juangnya.
“Aku berjanji padamu, akan menghatamkan Al-Qur’an ini. Maafkan aku. Aku mohon kamu masih mau menganggapku santrimu, Kyai Haji Rahmat.”



You Might Also Like

0 komentar