Swift

Wisata Sejarah Candi Borobudur Magelang | Trip Jawa Tengah

Candi Borobudur 
 Tujuan terakhir dalam trip Jawa tengah ke Yogyakarta pada 29 Mei 2014 adalah Candi Borobudur. Setelah sebelumnya ke Pantai Parangtritis, JalanMalioboro. Juga sebelumnya pada tanggal 27  Mei 2014 berwisata ke Jepara (Pantai Kartini dan Pantai Bandengan)
Candi Borobudur berlokasi kurang lebih 100 km di sebelah barad taya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Tepatnya berada di Magelang, Jawa Tengah.
Menurut sejarah, Candi Borobudur didirikan oleh penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Borobudur adalah Kuil Budha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Budha terbesar di Dunia. Selain itu, Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.
Candi Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. 
Foto Bersama Bule di Candi Borobudur

Bangku di Taman Candi Borobudur
 Areal parkir Candi Borobudur cukup luas. Banyak juga warung-warung yang berjualan makanan. Tiket masuk pada saat itu (29 Mei 2014) adalah Rp 30.000 per orang.
Pengamanan keamanan pintu masuk candi begitu ketat. Penjagaan dengan pintu metal detector dan penggeledahan tas dengan metal detektor. Sampai dalam, tidak langsung dihadapkan dengan Candi yang megah, tapi taman dan jalan yang luas dan lumayan panjang untuk menuju Candi Borobudur. Di dalam areal ini tidak ada penjual makanan dan minuman, jadi harus membeli atau membawa makanan dan minuman dari luar, jika tak mau kehausan dan kelaparan, karena matahari begitu terik saat siang. Anda juga bisa membeli topi (jika lupa bawa) atau menyewa payung.
Jalan menuju Candi Borobudur

Narsis di Kaki Candi

Reyhan M Abdurrohman di Kaki Candi

Relief Candi Borobudur

Relief Candi Borobudur
 Bangunan Candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan suatu bujur sangkar. Candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian yang terdiri dari kaki atau bagian bawah, tubuh atau bagian pusat, dan puncak. Pembagian tersebut sesuai dengan tiga lambang atau tingkat dalam ajaran Budha yaitu Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu yang masing-masing mempunyai arti:
1)      Kamadhatu
Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat atau nafsu. Dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat atau nafsu dan bahkan dikuasai oleh hasrat dan kemauan atau nafsu. Dalam dunia ini digambarkan pada relief yang terdapat di kaki candi asli diman relief tersebut menggambarkan adegan dari kitab Karmawibangga yaitu naskah yang menggambarkan ajaran sebab akibat,serta perbuatan yang baik dan jahat. Deretan relief ini tidak tampak seluruhnya karena tertutup oleh dasar candi yang lebar. Hanya di sisi tenggara tampak relief yang terbuka bagi pengunjung.
2)      Rupadhatu
Sama dengan dunia antara atau dunia rupa, bentuk, wujud. Dalam dunia ini manusia telah meninggalkan segala hasrat atau nafsu tetapi masih terikat pada nama dan rupa, wujud, bentuk. Bagian ini terdapat pada tingkat 1-5 yang berbentuk bujur sangkar.
3)      Arupadhatu
Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa, wujud, bentuk. Pada tingkat ini manusia telah bebes sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan pada dunia fana. Pada tingkatan ini tidak ada rupa. Bagian ini terdapat pada teras bundar I, II dan III beserta stupa induknya.
Uraian bangunan secara teknis dapat dirincikan sebagai berikut:
1)      lebar dasar : 123 m (lebar dan panjang sama panjang, karena berbentuk bujur sangkar);
2)      tinggi bangunan : 35,4 m (setelah restorasi), 42 m (sebelum restorasi);
3)      jumlah batu (batu andesit) : 55.000 m3 (2.000.000 juta balok batu);
4)      jumlah stupa : 1 stupa induk,  72 stupa berterawang;
5)      stupa induk bergaris tengah : 9,9 m;
6)      tinggi stupa induk sampai bagian bawah : 7 m;
7)      jumlah bidang relief : 1.460 bidang (± 2,3 km sampai 3 km);
8)      jumlah patung Budha : 504 buah;
9)      tinggi patung Budha : 1,5 m.

 Saat akan keluar komplek candi, Anda akan melewati pasar yang panjang. Di kanan-kiri orang menjajakan souvenir, kaos dan lain-lain. Harga yang ditawarkan pun murah-murah, tapi tetap harus jeli dan berani menawar, karena harga yang ditawarkan terkadang mahal.
Mata Anda akan termanjakan di sini, dan hasrat shopping Anda akan terlampiaskan di sini.
Reyhan M Abdurrohman di depan Stupa Candi Borobudur

Stupa-stupa Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah Peninggalan Nabi Sualaiman
Akhir-akhir ini ramai sekali dibicarakan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan pada masa Nabi Sulaiman. Pendapat ini berasal dari seorang peneliti / ustad / penceramah / dosen yang bernama KH Fahmi Basya. Seorang ahli matematika Islam yang sudah menerbitkan beberapa buku yang best seller tentang fenomena alam dan matematika islam.
Dalam bukunya, Matematika Islam 3, KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan Nabi Sulaiman. Di antaranya, huta atau negeri Saba, maka Saba, nama Sulaiman dan buah maja yang pahit, dipindahkannnya kekuasaan Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jian, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lain-lain. Coba saja searching penjelasannya. Di youtube sudah banayak video terkait temuannya tersebut.
Namun harusnya ada penelitian tingkat lanjut yang bisa mempertegas pendapat dan penelitiannya tersebut, apalagi sudah sejak dulu Candi Borobudur diklaim sebagai warisan agama Budha.
Stupa Utama di Puncak Candi Borobudur



Ini Videonya :)


You Might Also Like

0 komentar