Swift

Awas Penerbit PHP (Pemberi Harapan Palsu) | Curcol

korban php oleh penerbit
Kaos Korban PHP - Desain by Roeman-Art
Di-PHP-in itu nyesek banget. Jika ada yang tanya nyesekan mana di-PHP-in pacar? Dengan tegas setegas-tegasnya, sama-sama yesek, kan sama-sama di-PHP-in. lol.

Ternyata ada juga lho penerbit yang suka PHP-in penulis. Apalagi penulis baru. Lha penulis yang sudah lumayan punya nama aja pernah jadi korban. Dan aku masih bersyukur, ternyata aku nggaak sendirian, hehe....

Ya, rasanya itu... em... nyesek banget. Bagai menanti pacar khayalan datang menemui kita, alah. Penantian panjang untuk mendapatkan kabar baik atau buruk sia-sia saja. Rasanya sudah langsung pengen bunuh tuyul.

Ceritanya gini, tepat tanggal 11-12-13 lalu, aku ngajukan naskah ke salah satu penerbit (baru dan nggak terkenal). Waktu itu aku tergiur oleh cerita teman yang katanya royalti bisa dibayar dimuka, hehe (lagi butuh duit). Lagipula kalau penerbit baru dan nggk terkenal kan saingannya dikit, pikirku. Langkahku semakin mantap karena memang buku-buku mereka sudah banyak mejeng di toko buku kok.

Setelah kirim naskah, malamnya langsung dapat email kalau naskahku akan segera dinilai oleh redaksi. Tanggap juga respon mereka, batinku.

Namun tiga bulan berselang, tak ada kabar. Seuntai email-pun tak masuk ke inbox gmail-ku. Langsung saja ambil langkah ngirim email ke sana, menanyakan nasib naskah saya, dan apa balasannya?

"Maaf, kemarin email kami error, kami belum menerima naskah dari Anda." kurang lebih seperti itu.

Jleb, rasanya ada pisau dapur karatan menancap tepat di jantungku. Huaaaaaaaa, terus penantiaan sepanjang ini sia-sia?

Segera aku balas email tersebut dengan nada sindiran tapi sopan, plus melampirkan bukti balasan dari terkirimnya email saya waktu itu. Dan lagi-lagi dibalas dengan tidak profesional.

"Naskah yang masuk ke penerbit kami banyak setiap harinya, nanti kami cari email Anda yang dulu."

Hello... penerbit lain juga kebanjiran naskah kali. Ini nih tandanya penerbit yang sudah nggak bis dipercaya. Nggak profesional. Bukannya meminta maaf atas kelalaiannya, malah cari alasan yang sama sekali nggak bisa diterima. Huft.

Ddengan besar hati saya balas memberikan tenggang waktu seminggu untuk memberi konfirmasi. Walaupun aku tahu jawaban mereka pasti menolak. Nggak mungkin sempat baca dan koreksi naskah saya yang 200 halaman A4 lah... Dan benar, beberapa hari berselang, mereka membalas emailku yang dulu.

"Maaf, kami belum bisa menerbitkan naskah Anda karena ada naskah proritas yang harus kami terbitkan?"

What?! jawaban macam apa ini? Harusnya jika naskah saya tak cocok dengan prioritas penerbit mereka sudah dikembalikan dari awal. Kenapa saya harus menunggu selama ini. Buang-buang waktu saja.

Saya berusaha ikhlas, meski sulit. Rasanya waktu itu pengen makan mie ayam, eh. Semoga tuh penerbit bisa lebih profesionl dan nggak ada penulis yang di-PHP-in lagi. Pasalnya sebenarnya bulan lalu dapat curhatan dari temn kalau naskahnya yang sudah di-acc di penerbit tersebut nggak ada kabar, padahal janjinya awal tahun sudah beredar di toko buku. Gubrak! waktu itu sebenrnya aku sudah risau, tapi berusaha berpikir positif.

Ya, ya... ini akan menjadi pelajaran berhaga buatku, dan juga soga bermanfaat uat orang-orang yang baca curcol-an ini. Ingat! jangan salah pilih penerbit. Aku juga harus ingat-ingat itu. Fix.

*)percakapan di atas itu hanya kurang lebih seperti itu.

You Might Also Like

0 komentar