Swift

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)



Dalam penghujung 2013 ini penikmat film Indonesia mendapatkan hadiah terbaik dari sineas Indonesia. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang diproduksi Soraya Intercine Film, bukan menyuguhkan murni kisah kapal yang tenggelam seperti Titanic, namun kisah cinta segitiga. Film yang diadaptasi dari novel laris yang sudah dicetak 22 kali, karya Minang Haji Abdul Malik  Karim Amrullah, atau yang biasa dipanggil Buya Hamka ini murni sebuah romansa cinta tragis tahun 1930an.



Sunil Soraya berhasil menyajikan karya Hamka dalam film dengan setting masa lalu. Bukan perkara mudah memang, apalagi asa produksinya yang terbilang cukup lama, lima tahun.

Adalah Zainuddin (Herjunot Ali) yang merantau ke tanah Batipuh, Padang Panjang asal mendiang ayahnya, untuk belajar agama. Bukan hanya agama yang didapatkannya di situ, melainkan cinta. Gemuruh cinta yang hadir dari pandangan pertamanya dengan Hayati (Pevita Pearce), bunga desa Batipuh. Memang cinta mereka saling terbalas, namun terhalang oleh adat.

Datuk tak marah dan melarang mereka berhubungan lagi. Bahkan Zainuddin terpaksa pergi ke Padang Panjang karena kehadirannya tak diinginkan. Adegan romantis terjadi saat Hayati mengikrarkan janji kan menunggu Zainuddin kembali bersamanya, sebelum keberangkatan Zainuddin.

Namun sayang Aziz (Reza Rahardian) berhasil merebut Hayati. Hayati terpaksa mengingkari janjinya karena keluarga dan adat yang memaksa. Zainuddin sangat terpukul dengan penghianatan itu, namun ia berusaha bangkit dan membuktikan bahwa ia bisa sukses.

Seperti biasa, Reza Rahardian berhasil membawakan peran Aziz yang arogan. Pevita dengan sangat anggunnya juga berhasil masuk dalam jiwa Hayati. Namun sayangnya Herjunot Ali yang menjadi tokoh sentral di situ kurang luwes. Ekspresi dan logatnya masih terkesan dibuat-buat. Bahkan tak kala membuat penonton terpingkal, padahal tidak sedang beradegan lucu. Tapi memang sungguh berat membawakan seorang Zainuddin. Dialog-dialog melayu puitis menjadi tantangan tersendiri bagi kesemua pemain Film Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck.

Namun kesemuanya itu tetap  memukau penonton. Seakan masuk dalam masa lalu. Kendaraan roda empat yang antik, bangunan dan kostum pemainnya juga mendukung utuhnya film tersebut. Adegan kapan Van Der Wijck yang karam juga memukau, meski partnya sedikit, karena memang bukan inti dari cerita.

Sumpah Cinta Matiku yang menjadi soundtrak, dibawakan Nidji dengan ciamik. Penempatan yang pas pada film memberikan emosi tersendiri yang mempengaruhi pembaca.

Keutuhan Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck termasuk sukses membuat penonton tercengang dan larut dalam haru kisah cinta tokoh-tokohnya.

*Sumber gambar: http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2013/11/tenggelamnya-kapal-van-der-wijck.jpg

You Might Also Like

0 komentar