Swift

Rangkuman Catatan Bagi Penulis | Oleh-oleh Kampus Fiksi 4

kampus fiksi
Reyhan M Abdurrohman di Kampus Fiksi 4

Kampus Fiksi Angkatan 4 yang diadakan DIVA Press berlangsung lancar. Alhamdulillah banyak banget materi yang didapat. Nggak cuma materi, sih, banyak juga pengalaman baru yang didapat termasuk teman baru. Wow! Sebenarnya ini kali pertama saya belajar menulis secara langsung, tentunya dengan pakarnya. Untuk bisa terdaftar menjadi peserta Kampus Fiksi ini harus melewati tahap seleksi, yakni lewat karya cerpen yang kita kirimkan, beruntunglah cerpen sederhana saya yang berjudul "Weton" bisa membawa saya ke sini.

Jadi saya sempat merangkum catatan kecil yang disampaikan Pak Edi saat menyampaikan materi di Kampus Fiksi Angkatan 4 ini. Jelaslah porsi Pak Edi lumayan banyak dalam berkhotbah. Tapi selain belau ada juga sesi dari editor, marketing dan penulis tamu yang kebetulan saat itu adalah Mbak Herlinatiens. Sebagian dari yang disampaikan Pak Edi membahas dari buku Silabus Menulis Fiksi yang ditulis beliau dan dibagikan kepada kami gratis.
*Penyuka gratisan bersorak-sorak.

Langsung saja deh, ini sedikit yang brehasil saya catat, karena sebagiannya lagi mungkin saya mengantuk atau nggak konsentrasi, dan bisa jadi malah terpana sama pematerinya hingga lupa mencatat. Saya pun lupa kalau kapasitas memori otak saya tak bagus. Sesedikit pun itu, semoga tetap bermanfaat.

Latihan terus

Latihan itu penting untuk menambah jam terbang seorang penulis. Meskipun dia sudah menerbitkan puluhan novel dan ratusan cerpen harus tetap latihan. 

Bikin Outline

Kalau ini sih suka-suka penulisnya sendiri sih. Ada yang suka nulis ngalir aja kaya air, kaya Mbak Herlinatiens. Masak nulis novel bisa empat hari lima malam, tanpa outline (seingatku, maaf kalau salah) Tapi risetnya yang lama. Wow banget kan? Tapi kita bukan beliau, beliau juga bukan kita. Kita berbeda.

Daripada entar ngeluh, “Aduh writer block, nih.” *nangis guling-guling.
“Haduh, butuh ke Gua Hiro nih, mau cari ide.” *edisi lebay

Writer block? Apa-apaan ini. Itu istilah yang dibuat sendiri oleh penulis, padahal itu nama lain dari malas. Ya, malas! Penulis yang malas atau mungkin mandek gara-gara nggak tahu ceritanya mau dibawa ke mana lagi. Jangan banyak alasan, ah. Makanya bikin outline. Yang rinci ya.

Misalnya gini, tulis karakter tokoh dulu selengkap-lengkapnya. Karakter dari yang detail gitu. Bikin karakter unik yang bisa selalu diingat pembaca. Jangan bikin karakter yang biasa-biasa aja. Kamu bisa lho menggabungkan beberapa karakter orang di sekitar kamu.

Terus bikin plot outlinenya dulu. Dibikin perbab dengan rinci per adegan, jadi kalau sudah waktunya nulis nggak perlu mikir lagi nanti mau bikin adegan dan cerita seperti apa.

Pertahankan Passion (Emosi kamu dengan naskah tersebut)

Jangan sampai ninggalin naskah kalian terlalu lama. Pacar aja nggak suka ditinggal-tinggal apalagi naskah, ntar ngambek lho. *peace 

Kalau naskah itu ditinggal terlalu lama, bisa jadi, bisa jadi, ikatan emosi yang sudah terbangun dengan naskah itu akan hilang. Jadi feel-nya nggak dapet, deh. Cerita yang feel-nya nggak dapet tuh nggak bagus, beneran deh, negbosenin gitu. So, jangan tinggalkan naskah. *asek

Amankan tulisan

Bukan tulisanmu terus digembok dan ditaruh di dalam berangkas lho, ya, biar nggak dicuri maling, atau babi ngepet. Hadehh...

Begini maksudnya, jika ada ide melintas saat kamu lagi ngerjain cerita yang udah runtut dengan outline, jangan rusak outline-mu. Catat  idemu. Catat saja, suatu saat perlu kok. Ide itu ilham, tapi juga perusak jika datang di waktu yang tidak tepat. Ntar kalau nurutin ide, nggak selesai-selesai naskahmu.

Mengeksplorasi konflik berbanding lurus dengan panjangnya cerita

Panjang atau pendeknya cerita jangan dipengaruhi dengan dialog, puisi atau sisipan lagu, ya. Apalagi kalau itu terkesan tambahan yang nggak ada daya penguatan dalam cerita.  Bukannya nggak boleh, tapi harus ada porsinya, ya. Dan kamu juga harus punya alasan kenapa itu ada. Jangan asal sisip-sisipkan aja biar bisa jadi tulisan panjang. Kalau panjang tapi kosong, kan sama aja?

Mending di eksplor lagi konfliknya. Jangan bikin konflik yang klise. Misalnya telat ke sekolah, de-el-el. Eksplor sedetail-detailnya konflik kalian, itu akan jadi cerita yang WOW.

Peristiwa kebetulan itu mengganggu dalam estetika cerita

Tiba-tiba dua orang itu bertemu dalam pesta.

Mereka bertabrakan di koridor sekolah dan jatuh cinta.

Tiba-tiba...

Nggak logis banget, sih. Di fiksi logika cerita itu sangat penting, meski di kehidupan nyata peristiwa nggak logis dan kebetulan itu adalah hal biasa. Tapi ini fiksi, Broh.
Kasih penghubung, pengantar, serta alasan yang logis deh kalau maksain ada peristiwa seperti itu.

Pembuka yang menyentak

Pembuka tuh jadi penentu lho ya. Apalagi kalau di event lomba. Juri itu akan baca awalnya dulu, kalau sudah membosankan, langsung dibuang deh.

Dapet bocoran dari editornya. Kalau mereka evaluasi naskah tuh Cuma dibaca sinopsis doang. Kalau jelek, langsung buang. Kalau bagus, dibaca dua bab awal, dua bab tengah dan dua bab akhir dulu, kalau iya, berarti dievaluasi keseluruhan dulu.


Ending klise yang harus dipikirkan ulang (dihindari)

Ending mati. Ending mati biasanya sih kurang disukai pembaca. Apalagi kalau matinya tiba-tiba cuma biar cepet ending. Nggak haram juga sih pakai ending mati.

Ending Gila. Kaya ending mati, tadi.


Ending bahagia yang melampui premis cerita. Jangan lebay ya... misalnya tuh,
Akhirnya Pram mendapatkan hadiah salah satu perusahaan TV swasta. Wkwkw. Lebay banget dan nggak logis.

Ending Berpuisi. Ini ending yang nggak menyentak sama sekali, apalagi kalau puisi itu hanya untuk tambah-tambahan saja.

Buatlah setting yang detail dan tidak dapat digantikan setting lain

Bingung langsung contoh saja deh.

Kerlap-kerlip lampu menyelimuti Efiel yang megah.

Kayaknya Efiel bisa diganti dengan Monas deh.
Kerlap-kerlip lampu menyelimuti Monas yang megah.
Tuh kan konflik Eifel jadi nggak kerasa paris banget.
Bikin yang detail deh. Maaf nggak bisa ngasih contoh, aku juga masih belajar dalam hal ini. hehe. 

You Might Also Like

0 komentar