Swift

2 Novel Keren Karya Tere Liye


Negeri Para Bedebah

Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah saru dibanding kisah nyata.
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di haaman rumah.
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat.

Negeri di Ujung Tanduk (Sekuel Negeri Para Bedebah--Anugerah Pembaca Indonesia 2012)



Di negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak. Bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.
Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan. Bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup sendirian.
Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Dua buku keren karya Tere Liye yang saling berkaitan. Tidak cukup membaca salah satunya, karena kamu akan kehilangan potongan kisah keren lainnya.
Di Negeri Para Bedebah, kamu akan disuguhkan tentang teori ekonomi, permasalahan ekonomi dan hukum yang mebelit. Saling berkaitan, minta untuk diselesaikan dalam waktu dua hari. Ya, Novel tebal dengan cara penceritaan sudut pandang orang pertama ini, mengisahkan kejadian yang dilalui dalam rentan waktu dua hari, dengan diselingi adegan flashback.
Thomas, nama seorang konsultan keuangan (Negeri para Bedebah) memiliki masa lalu pahit. Masa lalunya membentuknya menjadi seorang petarung. Tekadnya menumpas pengkhianat sampai ke akar-akarnya.
Di Negeri di Ujung tanduk, Thomas yang nama aslinya Tomi, membuka cabang menjadi Konsultan Politik, terutama untuk orang yang memang benar-benar pantas didukung.
Di novel sekuel Negeri Para Bedebah ini, masih saling berkaitan. Ada tantangan yang lebih sulit untuk Thomas, ia dijebak rivalnya di masa lampau. Tidak segan-segan, ia dijebak dengan tuduhan teroris, menyelundupkan obat terlarang dan senjata api di kapal pesiar barunya.
Adegan tembak-tembakan tidak terlepas di kedua novel ini. Jika difilmnkan mungkin kita seperti menonton film luar negeri. Kejar-kejaran sampai ke Hongkong. Penuk konflik yang tidak bikin bosan, meski tebal.
Rekomendasi banget deh buat kalian yang  suka nonton film luar. Tere Liye mampu mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, mengikutinya hingga akhir. Ia mampu menyajikan kejutan-kejutan yang tak terduga. Alur kedua novel ini hampir sama, tapi kita tak akan bosan membaca keduanya.
TOP deh buat Bang Tere.

Terima kasih buat sahabat saya, yang sudah berkenan meminjamkannya padaku. ;)

You Might Also Like

2 komentar