Swift

Cari Kerja = Cari Jodoh | Sebuah Opini Ngawur

Ibu-ibu Bapak-bapak
Siapa yang punya anak
Bilang aku, kasihani aku
Tolong carikan diriku
Kekasih hatiku
Siapa yang mau...

Lagu berjudul "Cari Jodoh" yang dipoluperkan Wali Band Tersebut pernah merajai tangga lagu hits indonesia sampai berbulan-bulan di awal kemunculannya.
Lagu yang enak didengar dan mudah dihapalkan dari anak-anak sampai orang tua. Lagu yang paling banyak direquest penonton Orkes untuk dikoplokan.

Kali ini tidak membahas tentang lagu Cari Jodoh tersebut, melainkan mencari pekerjaan.
Ya, sekarang sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Banyaknya lulusan setiap tahunnya tidak dibarengi dengan banyaknya lapangan kerja yang tersedia. Akibatnya pengangguran dimana-mana.
Buat usaha...! Buat usaha...!
Itu yang sekarang digembar-gemborkan.
Tapi tetap orang-orang pengangguran akan mencari alasan, antara lain; tidak ada modal, tidak bisa jualan dan masih banyak lagi.
Miris.



Eh malah ngomongin wirausaha, kan bahasnya cari kerja.
Oke, sekarang fokus! fokus! fokus!
Cari kerja itu seperti cari jodoh. Jodoh dunia akhirat (ini sebenarnya hanya opini ngawur saja sih, hehe). Habisnya pekerjaan-pekerjaan sekarang aneh.
Gue itu termasuk orang yang gonta-ganti pekerjaan. Nggak betahlah, nggak okelah, dan nggak-nggak yang lain. Banyak orang yang mencibir gue. Katanya sih gue itu orang yang nggak bersyukur, gue itu orang yang aneh, cari kerja kok langsung minta enak.
Eitsss... jangan mengecap orang seperti itu ya, itu tidak baik. Apalagi jika lo memang tidak tahu siapa dia sebenarnya dan alasan apa yang mendorong dia seperti itu.

Ini riwayat pekerjaan yang pernah gue lakuin.
Pertama setelah lulus dari SMK, gue diterima kerja di Pabrik elektronik lewat Outsorching. Ini udah nggak bener sebenarnya, tapi ada sesuatu yang mendesak gue waktu itu. Tahu kan apa-apa aja yang semestinya pake outsorcing dan tidak, antaranya sih satpam, OB dll. Pertama masuk udah nggak nyaman, rekan kerja mengintimidasi gue, begitupun bayang-bayang gaji yang menurutku tidak standar, emang UMR sih, tapi jabatan gue disitu kan Teknisi, harusnya gajinya nggak sama dengan orang produksi dong, eh ini sama. Alasanya karena gue lewat outsorching. Terus uang lebihan gue masuk ke mana coba? pasti outsorching yang sok alim bilang nggak ngambil uang karyawan. Eidiannn. (Emang sebenarnya gue nggak tahu pasti, ini hanya opini)

Kedua, gue kerja di restoran yang baru buka. Gajinya dikit sih, tapi enak kok. Apalagi bos dan temen kerjanya asek banget. Tapi setelah berjalan, ada yang tidak sesuai perjanjian dengan bos watu pendaftaran. Gue udah nggak Wow dengan ini neh. kupertahanin, tapi tetap sama. yaudah Out.
Ketiga, gue nyambi jadi tentor les yang katanya sih nanti pendapatan akan dibahas bersama karena ini bimbel didirikan bersama untuk membantu warga. Tapi nyatanya apa? BEDA! Out!

Ketiga, gue kerja di tempat bisa dikatakan paranormal gitu, sekarang pokoknya canggih deh. paranormal pemasarannya online, Bo. Ini Wow banget. Awal masuk gue udah nggak yakin, tapi lagi butuh duit. Beberapa hari kerja, gue betah-betahin. Temen-temennya nggak asyik, mereka mengintimidasi gue melulu. Huuu.... Sampai gue dapat mimpi jelek jika terus kerja di situ, ditambah gue nggak suka sama Bosnya yang sok-sokan berkuasa. emang sih berkuasa, tapi nggak gitu juga kali. Akhirnya gue pamitan dengan baik-baik.

Sampai sekarang gue malah bikin usaha kecil-kecilan, yaitu buka jasa desain cover dan bikin softcase HP. Okelah, emang pendapatan sedikit dan tak tentu, tapi hati gue adem ayem, tentram sejah tera sepanjang masa.

Gue bisa ambil kesimpulan bahwa cari kerja itu sama dengan cari jodoh. Karena pekerjaan itu harus pas di hati, pendapatan dan urusan akherat. Sama kaya jodoh, pas di hati, kantong dan akhirat kan? Pokoknya cari yang terbaik dan terPas di hati.
Daripada lo kerja dibetah-betahin kaya gitu, padahal nggak suka. Emang sih kadang kebutuhan bisa sangat mendesak, yaudah ambil buat batu loncatan aja. Ini kan cuma opini gue doang.

Kepuasan pekerja berbanding lurus dengan suasana, rekan, fasilitas, pimpinan dan gaji.
Sip.
Tunggu artikel berikutnya. Opini ngaco dari orang bodoh.

You Might Also Like

0 komentar