Swift

Cerepen ; Jilbab Abu-abu ; dimuat di Normuslima.com

Oleh : Reyhan M Abdurrohman

NOORMUSLIMACOM- Tumben sekali. Saat matahari baru memancarkan cahaya pagi yang menghangatkan bumi. Memecah lembabnya embun yang menggantung di dedaunan muda. Kamu telah bangun dan selesai mandi. Terus di kamar kau memilih-milih baju yang akan kau kenakan kuliah nanti.
Setelah itu kau berdandan di depan cermin, merias wajah cantikmu agar terlihat semakin cantik. Memang sudah kebiasaanmu, lama di depan cermin, orang-orang yang mengenalmu pun telah mengetahuinya.
Mengejutkan, kain persegi panjang berwarna abu-abu kau gunakan untuk menutup rambut indahmu. Padahal selama ini kau tak pernah seperti itu. Tak pernah menutup rambutmu, dan selalu membiarkannya terurai panjang dengan memberi hiasan pita berwarna merah muda. Namun hari ini berbeda, kau telah mengejutkan dunia.
Kerap orangtuamu memaksamu untuk berhijab, namun selalu kau tolak dengan kerasnya. Orangtuamu  selama ini malu, ayahmu yang sebagai ustadz mempunyai seorang anak perempuan yang cantik, namun tak mau menutup auratnya. Tapi, setelah mereka melihatmu hari ini pasti mereka akan bahagia, mereka akan lega, karena perintah mereka selama ini telah kau laksanakan.
Benar. Mereka kaget setelah kau keluar kamar dengan rok panjang, kemeja lengan panjang dan tak lupa jilbab abu-abu yang menutup kepalamu. Kau hanya menyisakan wajah cantikmu saja yang terlihat.
Subhanallah,” kata ibumu takjub melihatmu sekarang.
Alhamdulillah Nduk kamu berubah,” syukur ayahmu.
“Saya telah mendapat hidayah dari Allah Pak, Bu,” katamu lembut dan halus, berbeda sekali sebelum jilbab abu-abu itu kau kenakan.
“Sini makan dulu Nduk,” kata ibumu.
“Tidak usah, saya makan di kampus saja.”
Kamu pun berpamitan kepada kedua orangtuamu, kau raih tengan mereka, kau cium tangan mereka, dan kau ucap salam pada mereka. Mereka tersenyum bahagia melihatmu, dan membalas salam kepergianmu. Kamu pun berlalu meninggalkan kedua orangtuamu dalam rumah sederhana itu.
Berbeda sekali sekarang dirimu: kamu lembut, halus, sikapmu santun, dan yang pasti membuat orangtuamu bahagia. Kebahagiaan orangtuamu terpancar begitu jelas. Raut wajah mereka memancarkan sinar bahagia. Senyum mereka tergambar begitu indah.
Kau tahu? mungkin itulah wajah paling bahagia mereka selama ini. Kerap mereka mendapat umpatan dan sindiran dari tetanggamu. Itu semua akibat ulahmu. Akibat sikapmu. Kau tak mau menutup auratmu. Malah baju seksi yang selalu kau kenakan. Di rumah, di kampus, atau pergi kemana pun. Kata-katamu kasar. Tidak hanya pada tetanggamu, atau orang lain, tapi pada orangtuamu kau pun begitu. Sikapmu, sungguh tak mencerminkan seorang muslimah. Apalagi seorang anak ustadz.
Sering juga kau keluar rumah tanpa bilang pada orangtuamu, dan pulang dikala malam telah larut. Memang pantas jika tetanggamu selalu membicarakanmu dan mengumpatmu – tapi tidak hanya dirimu – melainkan pada orangtuamu juga. Memang begitulah hidup di desa, semuanya diperhatikan oleh tetanggamu.
***
Tak berbeda jauh suasana di rumahmu pagi ini dengan di kampusmu. Semua orang kaget melihatmu. Mata mereka melotot tajam memperhatikanmu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tak luput dari pandangan mereka. Kamu telah merubah semuanya. Kini semua mata tertuju padamu. Seantero kampus memang sudah mengenalmu. Mengenalmu sebagai Alia, seorang gadis tercantik di kampus yang digilai banyak mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa malah, melainkan dosen-dosen ikut tertarik pada medan magnetmu. Kamu juga kerap menjadi MC pada beberapa acara kampus. Pesonamu memikat. Kecantikanmu terpancar. Itu sebelum kau memutuskan untuk berhijab. Sebelum tubuhmu terbungkus dengan pakaian serba panjang. Sebelum rambut indahmu tertutup kain panjang itu.
Namun pesonamu kini tak jauh berbeda dengan kemarin. Jilbab abu-abu menambah ayu dirimu. Pakaianmu menambah nilai plus bagimu, karena terlihat sopan. Kini bertambah kaum adam yang menggilaimu, yang semula merasa risi dengan dirimu kini berputar ingin milikimu. Kamu pun tenang menghadapi mereka semua. Mengapa tidak? kamu sudah terbiasa seperti itu, namun bedanya kini kau hanya tersenyum menunduk kepada mereka. Senyumanmu sudah cukup membuat mereka tersenyum bahagia.
Benar kata orang. Jilbab membuat siapa yang memakai terlihat lebih cantik. Terlihat lebih bersih dan rapi.
Beberapa hari perubahanmu membawa perubahan. Pakaian yang kamu kenakan kini menjadi trend gadis-gadis kampus yang lain. Mereka tak mau kalah dengan apa yang bisa membuatmu lebih popular. Selang beberapa hari pemandangan kampus berbeda. Gadis-gadis banyak yang berhijab.
Kamu telah merubah semuanya. Merubah kehidupan kampusmu. Kini temanmu semakin banyak. Tidak dari kalangan adam seperti dulu, namun dari kalangan kelompok muslimah kampus. Sekarang kamu telah menjaga pandangan dari kaum adam. Menjaga jarak bahkan pergaulan. Sungguh jika orangtuamu mengetahuinya pasti mereka akan semakin bahagia.
***
Assalamu’alaikum,” katamu mengucap salam saat memasuki rumah.
Wa’alaikum salam,” jawab ibumu dengan senyum bahagia.
Kau cium tangan ibumu dan kau peluk ibumu. Kabar dirimu kini menyebar hingga semua orang penasaran dengan perubahanmu sekarang. Tetanggamu takjub denganmu yang bisa berubah drastis seperti itu. Tetanggamu bangga denganmu yang telah berhijab, karena memang tinggalmu dikalangan orang yang islamanya masih kuat.
Nduk, nanti malam ada teman bapakmu ingin bertamu. Dia membawa anak laki-lakinya yang sholeh, mereka bermaksud menjodohkan kalian, jika kalian menyetujuinya nanti.”
“Benarkah Bu? Alia hanya bisa nurut saja.”
Cepat sekali kabar ini terdengar di telinga teman-teman ayahmu. Mungkin mereka penasaran denganmu yang cantik, dan lebih cantik dengan hijabmu, lebih cantik karena kesopananmu dan kelembutanmu. Wajah  meronamu tampak begitu jelas tergambar. Pipi merahmu tercipta begitu saja. Ibumu bahagia melihatmu.
***
Assalamu’alaikum.” Terdengar suara salam di balik pintu. Ayahmu bergegas membukakan pintu. Ayahmu sudah menebak, itu adalah temannya yang membawa keluarganya berkunjung.
Sedangkan kau masih merias wajahmu, merapikan hijabmu di dalam kamar bersama ibumu. Ayahmu membukakan pintu dan menjawab salam tadi. Benar. Itu teman ayahmu yang membawa istri serta anak laki-laki yang tampan rupawan. Ibumu menyusul ayahmu yang telah mempersilahkan duduk tamu tersebut. Ibumu melambungkan senyum dan menyalami istri teman ayahmu.
Kau masih terdiam dan tersenyum bahagia. Menunggu dipertemukan laki-laki tampan anak teman ayahmu. Tak lama setelah ibumu menyuguhi makanan dan minuman, kamu di jemput ibumu dalam kamar dan diantarkan menuju ruang tamu.
Jalanmu halus, wajahmu tetap menunduk, dan mereka dalam ruangan itu mengamatimu. Mata mereka tertuju pada parasmu. Mereka terdiam. Hanya mata mereka yang berbicara memuji keindahanmu.
Senyuman kecil terlambungkan dari pemuda tersebut untukmu. Kau pun membalasnya dengan tetap menunduk dibalik jilbabmu.
“Ini putri tunggal kami Pak, namanya Alia,” kata ayahmu memperkenalkan diri.
“Sungguh cantik, benarkan Nak?” tanya ayah jejaka tersebut.
Laki-laki tersebut hanya terdiam dan tersenyum kecil. Kamu tetap menunduk di hadapan semuanya. Terdiam dalam kesopanan. Sesekali kamu mengangkat kepala mencuri-curi pandang melihat wajah laki-laki tersebut.
Kedua keluarga tersebut berbaur. Saling mengobrol dan membicarakan semua yang berada dalam kepala mereka. Sedangkan kau dan laki-laki tersebut hanya terdiam. Sesekali hanya melambungkan senyum saat kau dan dia tengah digoda.
Malam ini berlalu bahagia. Itu tergambar dari raut wajahmu. Ibumu menayakan perasaanmu kepada laki-laki itu saat mereka telah meninggalkan rumahmu. Kau hanya tersenyum dan menundukkan kepala, tanda setuju.
“Syukurlah, ibu rasa dia juga sama denganmu,” kata ibumu.
“Kalau pemuda itu juga suka kamu, akan secepatnya kita resmikan tali pernikahan,” kata ayahmu semangat.
Tertidur bahagia kamu saat semua pembicaraan dengan orang tuamu usai. Ini, yang kutunggu-tunggu, katamu dalamhati.
Pagi cepat datang menghampiri. Ayahmu baru saja mendapat kabar dari temannya, bahwa putranya juga menyukaimu. Saat kamu mendapat kabar dari ayahmu, kamu tersenyum bahagia. Saat ayahmu menawarkan untuk langsung menyucikan hubungan ini kamu kembali tersenyum bahagia, kali ini sangat bahagia hingga kamu peluk ayah dan ibumu. Ibumu juga bahagia mendengar semuanya. Akhirnya kau akan dipinang orang, dan itu dari keluarga yang baik-baik, apa lagi yang meminangmu itu adalah pemuda sholeh pilihan ayahmu.
***
Selang beberapa hari, acara pertunangan dilaksanakan dengan mengundang keluarga-kelaurga dekat saja. Saat malam tiba, suasana rumahmu ramai oleh keluarga-keluargamu yang diundang. Gaun panjang putih kau kenakan. Tak lupa make-up tipis kau gunakan. Memang kamu sudah pandai berdandan sendiri, hingga tak usah susah-susah mengambil tukang make-up. Sedankgan gaunmu itu kau sewa dari tempat penyewaan gaun pengantin. Sungguh cantik sekali kau malam ini.
Tak lama keluarga calonmu datang memebawa rombongan keluarganya, membawa seserahan dan lain-lain. Dan acara pun dimulai. Kamu tampak cantik, begitu juga calonmu yang gagah serta tampan. Namun malam ini hanya dapat berhadapan karena belum ada ikatan yang menyucikan kalian. Akhirnya semua berjalan dengan lancar.
Untuk menyingkat waktu, keluargamu memutuskan untuk seminggu kemudian langsung menikah. Keluargamu tak sabar melihat kau bahagia dipinang orang. Dan keluarga calonmu juga menyetujuinya. Semua persiapan dilakukan untuk pernikahanmu yang akan dilaksanakan di rumahmu. Tidak mewah-mewah, melainkan dalam kesederhanaan, karena ayahmu tak menyukai kemewahan.
Harimu datang. Dimana kau akan melepas masa lajangmu. Akan mempunyai kehidupan baru dan tanggung jawab baru. Kini hari pernikahanmu. Kali ini kau tak berdandan sendirian. Kau didandani oleh perias yang terpaket dalam acara pernikahanmu. Gaunmu disewakan dari situ juga. Gaun panjang model timur tengah serta jilbab yang memanjang ke bawah. Kamu terlihat cantik, dengan balutan gaun yang berwarna putih suci tersebut.
Ruang tamumu telah disulap menjadi ruang akad nanti, juga berwarna putih dengan hiasan bunga di setiap sudutnya. Nantinya calonmu juga akan mengenakan jas putih.
Keluarga dekatmu telah memenuhi rumahmu. Mereka akan menyambut dari keluarga calonmu. Tak lama mobil putih tiba di depan rumahmu. Keluarlah calonmu yang kau damba. Di belakangnya ada orangtuanya yang mengantar. Serta rombongan yang membawa seserahan lagi. Kamu hanya dapat mengintipnya di balik jendela kamarmu. Kau belum boleh keluar menemuinya sebelum akad telah terjadi.
Kini calonmu telah berada di hadapan penghulu. Ayahmu sendiri yang akan menikahkanmu. Dan acara pun dimulai. Acara pertama, kedua, dan akad kini dimulai. Hatimu bergemuruh mendengar setiap kata yang terucap dari bibir ayah dan calonmu.
Akhirnya kau resmi untuknya saat kata “sah” diucapkan saksi. Kamu keluar mencium tagan suamimu. Kini dilanjutkan denga pesta resepsi yang sederhana. Jauh dari kesan mewah.
Malam datang membawa kebahagiaan di antara kau dan suamimu, serta keluargamu dan mertuamu. Kini malam pertama. Kau akan tidur bersama suamimu yang sah.
Sebelumnya kau keluar mengambilkan segelas teh hangat untuk suamimu yang telah berbaring di ranjangmu. Suamimu menggeliat kecapekan. Tangannya tak sengaja menjatuhkan buku di atas meja di samping tempat tidur. Suamimu penasaran dengan buku berwarna merah jambu yang tak sengaja terbuka pada halaman akhir. Matanya terpaksa membacanya. Entah apa yang menodorong suamimu untuk memabacanya.
Akhirnya kerja kerasku telah mendapatkan hasilnya. Setelah aku terpaksa menutup aurat, terpaksa sopan dengan siapapun hanya aku ingin cepat dijodohkan oleh ayahku pada anak temannya. Akhirnya kini semua tercapai, aku akan menikah dan kehamilanku akan kuakui anak dia. Akhirnya semua taktikku berjalan mulus.
Suamimu kaget bagai tersambar petir membacanya.
Ternyata kau hanya memanfaatkanku, katanya dalam hati.
Suamimu sangat marah. Tak pikir panjang, suamimu menceraikanmu malam itu juga secara agama. Suamimu pulang dengan amarah yang membuncah. (200)
****
Cerpen karya Reyhan M Abdurrohman ini, dimuat di website Normuslima pada 27 April 2013.
Sumber gambar : http://rialive.files.wordpress.com/2011/01/jilbab-kartun4.jpg

You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih