Swift

Puisi: Jerit Mereka


Jerit Mereka
Oleh: Reyhan M Abdurrohman

Matahari belum meninggi. Jalanan belum terlalu ramai. Mereka datang. Dengan langkah penuh harapan. Berharap matahari tak terlalu terik nanti. Hingga keluh tak merajai. Di perempatan jalan. Di mana ramai pengendara. Mereka berjaga. Menunggu yang datang berhenti sejenak. Saat lampu merah menyala. Wajah mereka riang. Mereka beraksi. Menengadahkan tangan, memasang muka kasihan.

Lamu merah berganti. Mereka bubar segera. Keluar dari dari garis kematian. Duduk kembali di bawah terik matahari. Menanti. Begitu berulang sampai matahari bersembunyi.Dua orang bertubuh besar datang menghadang. Mereka ketakutan. Tangan mereka bersembunyi di balik tubuh ringkih. Dengan paksa kepingan itu berpindah tangan. Kasar. Mereka menangis. Tak ada yang mendengar.
Pucat, tak bersemangat, harapan mereka luntur. Mereka pulang tanpa kepingan di tangan. Tak makan. Langsung tidur beratapkan jembatan.


Dimuat di Batak Pos_Edisi Sabtu, 8 Desember 2012



You Might Also Like

0 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih