Swift

Cerpen: Kisah Putus



KISAH PUTUS
Oleh: Reyhan M Abdurrohman

Kini kau adalah mimpi burukku, kenangan yang seharusnya cepat aku lupa, kenagan yang seharusnya hilang dalam ingatanku. Namun, mengapa ini masih tersimpan dan terus menyeruak dalam fikiranku, tak dapat lepas aku darinya, meski kau telah sakiti aku begitu dalam. Aku terlanjur mencintaimu dan anakmu ini, namun kau tetap tak hiraukanku, hingga di meja hijau kau selesaikan semuanya, kau putuskan ikatan kita dan menikah dengan wanita lain yang lebih dariku.
Tak kusangka kau begitu kejam padaku, terus bagaimana dengan anakmu ini? Haruskah aku membesarkannya sendiri? Tanpa kau yang seharusnya menafkahinya? Namun tetap saja kau tak peduli padaku dan padanya. Memang sejak malam itu hubungan kita tak baik lagi, sejak itulah pertama kalinya hatiku tersakiti, dan yang menyakiti adalah orang yang paling aku cinta hingga aku memutuskan menikah denganmu, namun semua itu kau mentahkan saja setelah kau bersamaku.

***
Saat malam itu, saat aku selesai menidurkan putra kecil kita, aku membereskan buku pekerjaanmu yang berserakan di atas meja. Tak sengaja aku menemukan foto kamu, tidak foto biasa namun foto kamu dengan seorang wanita, dan itu bukan diriku. Air mata ini sontak menetes tak terbendung lagi, aku merintih dan hati kecilku hanya dapat bertanya siapa ini? Selingkuhanmu kah? Entah mengapa fikiranku tertuju pada selingkuhanmu, bukan maksudku su’udhan padamu namun fikiran itu datang dengan sendirinya. Kucoba tak berburuk sangaka dan tetap terdiam.
Untung kau tak memergokiku saat itu, lekas kurebahkan tubuhku pada tempat tidur dan pura-pura tertidur saat kau masuk untuk mengerjakan sholat hajat sebelum tidur, memang itu telah menjadi kebiasaanmu. Aku mencoba hapus fikiran bodoh itu dan tetap tersenyum, “mana mungkin dia selingkuh,” gumamku dalam hati dengan mata yang masih tertutup terpaksa. Lama-lama aku tertidur hingga subuh membangunkan kita untuk mengerjakan kewajiban umat muslim.
Pagi datang membawa semilir angin dingin yang menusuk tulang, semu matahari di balik dedaunan yang terpancar di antara embun-embun yang terus menetes mengantarkan kita pada kedamaian, dan seperti biasa aku melakasanakan tugasku menjadi ibu rumah tangga, sebelum aku harus mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Kusiapkan sarapan dan kurapikan kemeja kerjamu sebelum kau pergi bekerja mengajar pula. Sikapmu masih manis denganku, masih menunjukkan cintamu padaku, kaulah pemuda pilihanku yang sekarang menjadi imamku.
Siapa yang tak mau dipinang oleh pemuda yang sholeh sepertimu? Pemuda gagah dan rupawan itu, siapa yang tak luluh hatinya ketika dia merayu? Siapa yang tak takjub padanya? Itulah yang kurasakan dulu ketika mengenalnya dari teman kuliahku dulu. Hingga kurelakan aku menjadi milikmu. Sangat senang aku saat itu, begitupun keluargaku.

Kini kita telah dikaruniai anak laki-laki yang belum genap dua tahun, dan aku telah menemukan keganjalan itu tadi malam, ingin aku tak berfikir jelek padamu namun tetap saja itu terlintas dalam benakku. Mungkin syetan telah mengganggu fikiranku, hingga kujalankan sholat hajat pagi itu di sela-sela mengajarku, kuingin menenangkan hatiku, kuingin tetap percaya dan bahagia pada imamku dan kau syetan pergi dari rumah tanggaku. Sedikit lega kurasa saat itu.
***
Dua hari sudah terlewat setelah malam itu yang membuat fikiranku goyah, dia tak menampakkan perbedaan, dia tetap baik, tetap perhatian, dan tetap cinta padaku. Akupun begitu padanya, tak terlihat jika aku telah memendam seuatu.
Grek.. grek.. getaran handphone itu terdengar ketika aku telah menidurkan putraku, pemilik yang tak lain adalah suamiku menggeletakkannya di atas meja, sedangkan dia sedang pergi keluar membeli susu sebentar, mungkin dia telah lupa membawanya, fikirku. Aku tak berani lancang dan kubiarkan itu terus bergetar, pertama, kedua, hingga ketiga kalinya handphone itu bergetar.
“Apakah ada yang penting?” fikirku, “haruskah aku angkat telepon itu?” fikirku. Kuputuskan untuk mengangkat telepon tersebut. Tak ada namanya, hanya nomor saja yang terlihat di layarnya.
Mas sayang, kok lama ngangkatnya,” kata seorang wanita di ujung sana.
Aku kaget bagai disambar petir, hatiku terenyuh, pikiranku buyar entah tak tau arahnya, dan hatiku tergores pisau yang sangat tajam. Tanganku gemetaran, jantungku berdetak kencang.
“Assalamu’alaikum, ini siapa?” jawabku.
“Lho ini siapa? Benar ini nomernya Mas Junaidi?” tanyanya.
“Iya benar ini nomer Mas Junaidi, ini siapa ya?”
“Ini Riska, nanti sampaikan saja sama Mas Junaidi Riska nelpon.”
Tut.. tu.. tut… handphonya terputus, aku hanya dapat terdiam mematung. Tanganku masih gemetaran, bibirku sulit berkata, jantungku tetap berpacu. Fikiran jelek mulai merasukiku. Siapakah wanita itu? Aku menaruh handpphone itu di atas meja kembali seperti semula, aku duduk mematung di atas ranjag. Airmataku jatuh tak terbendung, mataku merah bengkak, fikiranku masih kacau, aku tak mengerti ini semua, mungkinkah Mas Jun menghianatiku? Mungkinkah itu selingkuhannya?
Krekkk… pintu luar dibuka oleh sesorang, aku tak dapat menemuinya, aku tak dapat menyambutnya, karena badanku masih lemas di atas ranjang. Kreekk…. kali ini pintu kamar dibuka dan ternyata itu adalah suamiku. Ya, suami tercintaku. Bibirku tak dapat merekah, mataku hanya berjalan memandanginya. Memandangi kedatangannya dan setiap gerakan badannya.
“Dik kamu kenapa?” tanyanya.
Aku hanya terdiam seribu bahasa, karena memang sulit bibir ini tuk berkata.
“Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?” tanyanya sembari mendekatiku duduk di atas ranjang.
Akupun masih terdiam, tak menjawabi apa yang dia tanya, karena memang aku harus jawab apa? Dikala hati ini tersakiti?
Terlihat diraut wajahnya semakin panik karena melihat keadaanku, dia raih tubuhku, dia peluk aku dengan kasih sayangnya. Yang dilakukan itu lumayan dapat melelehkanku. Namun tetap air mata ini menetes dan semakin deras.
“Kamu sakit?” tanyanya menghusap air mataku.
Kali ini aku hanya bisa menggeleng, dan menunjuk arah handphone dia atas meja dan mengatakan bahwa tadi ada yang menelpon.
“Siapa?” tanyanya.
Aku tetap terdiam, dia langsung meraih handphonenya dan membuka panggilan tak terjawab ternyata ada 3 kali dari nomer yang sama yang tidak ada tulisan namanya, kemudian dia buka panggilan masuk dia kembali melihat nomer itu lagi dengan waktu setelah panggilan tak terjawab, mungkin itu nomor sudah tidak asing lagi baginya. Setelah mengetahuinya sontak wajahnya berubah garang, matanya tajam menatapku.
“Kau tidak sopan dik, menjawab telepon orang,” bentaknya.
“Aku terpaksa karena handphone itu terus bergetar, kukira itu dari temanmu yang penting.”
“Tapi tetap tidak sopan, tadi kau bicara apa?”
Putraku sontak menagis terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar pertengkaran kami. Dan dia tetap membiarkannya. Sedangkan aku belum bisa lepas dari amarahnya.
“Aku hanya mengucap salam, Mas siapa itu Riska? Jujur padaku Mas, siapa perempuan itu?”
“Kau, kau gak usah ikut campur, itu teman Mas.”
“Haruskah teman biasa memanggilmu dengan panggilan sayang?”
Dia terdiam sejenak dan amarahnya meledak-ledak, aku ditamparnya tanpa alasan yang jelas, aku menangis. Pipiku yang ditampar, namun seperti hatiku yang ditampar bahkan ditusuk-tusuk. Hatiku merintih menahan sakit, hati ini terluka. Dan saat aku terkapar dalam ranjang dia pergi bersama dinginnya malam, entah kemana dia? Aku terus bangkit dan menidurkan kembali putraku dengan linangan airmata yang tak terbendung lagi.
Belum aku lanjut menanyakan siapa perempuan dalam foto yang kutemukan kemarin dia sudah pergi. Malam ini adalah pertama kalinya dia menamparku, pertama kalinya dia membentakku. Salahkah aku ya Allah? Telah membuat suamiku marah padaku? Namun hatiku tak kuat menahannya. Ya Allah bantulah aku.
Aku bangkit dan keluar kamar mengambil air wudhu, dan menunaikan sholat hajat, kumengadu pada-Nya, kuingin berserah pada-Nya dan meluapkan semua apa yang kurasa dan mendoakan suamiku itu kembali kerumah dan mau jujur padaku dan kembali merajut keluarga sakinah, mawaddah, warohmah seperti impian yang menjadi do’a kami saat acara ijab qobul dulu.
***
Krekk… pintu terbuka ketika subuh mulai datang, suamiku memang mempunyai kunci cadangan yang menggantung bersama kunci motornya hingga ia bisa kapan saja masuk kerumah, walau rumah masih terkunci rapat. Aku mendengar pintu yang terbuka lumayan keras itu terbangun dari mimpi dan bangkit melihat keluar, ternyata kudapati suamiku tengah berjalan semoyongan dengan mata yang bengkak seperti tak tertidur semalaman.
“Mas, kenapa kamu tadi malam pergi? Dan pergi kemana? Hingga pulang subuh, ini tidak kebiasaanmu Mas,” tanyaku lembut.
“Aku bingung, pikiranku kacau, semua karna ulahmu, istri tak tahu diri,” bentaknya.
“Ulahku apa? Aku hanya mengatakan sejujurnya apa yang kutangkap, dan tak sengaja kemarin aku menemukan foto ini, siapakah gadis ini? Diakah Riska yang kemarin malam menelponmu?”
“Kau memang tak sopan, kau lancang, istri macam apa kau, lancang begitu!” bentaknya.
“Jujurlah mas, ini siapa?” kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ya benar itu Riska, dia selingkuhaku, puas kau!” jawabnya tegas.
Hatiku tersambar petir, sakit sekali, air mata ini menetes mendengar kejelasan ini. Ini sudah benar-benar jelas bahwa suamiku itu berselingkuh.
“Benarkah Mas? Kau sudah tak mencintaiku?”
“Aku masih mencintaimu, dan aku mencintai Riska juga.”
“Mas, aku tak mau dimadu.”
Aku berlari menuju kamar dan menguncinya dari belakang, aku menangis sejadi-jadinya dan terus menangis. Hatiku telah terluka, memang dia sudah jujur padaku, tapi ini menyakitkan, sungguh menyakitkan, aku tak mau dimadu.
Dari luar dia menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak-teriak. “Aku akan menikahinya.” Terus seperti itu. Dan aku jawab “Aku tak mau dimadu Mas.”  Aku meraih tubuh anakku yang terlelap dan menutup telinganya,  aku tak ingin dia terbangun kembali karena pertengkaran kami.
Aku semakin emosi dan berkata “Pilih salah satu dari kami Mas,” dan suamiku terdiam. Akupun terdiam, suasana hening sesaat, dan dia kembali berteriak, “aku pilih Riska.” Air mata ini menetes dan semakin deras membasahi pipiku dan putraku yang berada di dekapanku. Jawabanya lantang dan sangat yakin, ini berarti putuslah sudah hubungan kami.
Kurelakan kau untukknya walau ini sakit daripada aku harus dimadu. Walaupun memendam rasa yang sakit ini aku harus tegar dan merelakannya untuk gadis itu. Kusetujui permintaanya untuk menceraikanku. Pagi harinya aku pulang kerumah orang tuaku dan menunggu sidang perceraian. Aku boyong putraku dan mulai hari itu kulupakan rumah itu, kenangan di dalamnya dan semua yang menyangkut itu.
***
Persidangan dilakukan dan semua proses telah selesai hingga tok, tok, tok, palu dipuluklan dan kami resmi bercerai sesuai agama dan negara, hak asuh anak jatuh ditanganku. Aku pun ingin melupakannya untuk selamanya. Pria yang pernah menjadi suamiku dan menaruh luka pada hatiku.
Tak lama aku mendapat kabar bahwa dia menikah dengan Riska, sungguh cepat sekali dia melupakanku, melupakan anaknya, memang dia sudah mencintainya dan semoga mereka langgeng, doaku.
Aku hanya dapat memendam semuanya dan menghapus lara ini, sedikit demi sedikit, gunjingan tetangga tak kuhiraukan, aku tetap tersenyum dan memandang kedepan, namun yang masih kusesali adalah aku telah memilih orang yang salah, tidak selamanya jebolan pesantren, seorang usatdz muda dan seorang hafidz[1] pula pasti orang yang baik, yang tahu agama. Nyatanya dia sanggup berselingkuh dan menentang ajaran agama, yang dia sudah mengetahuinya bahwa itu salah dan dibenci Allah.


Cerpen ini termuat dalam majalah Salam, pada bulan Agustus 2012 lalu. Majalah islami berbahasa Indonesia yang terbit di Taiwan.
                         


[1] Sebutan bagi muslim yang hafal Al-Qur’an

You Might Also Like

1 komentar

Silahkan tinggalkan jejak komentar, kesan ataupun saran. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk menyempurnakan tulisan, maupun desain blog ini. Komentar Anda adalah semangat saya ^_^ Terima kasih